Abdul Muttalib (kakek nabi) dan Abdullah (ayah nabi) mengunjungi keluarga Wahab bin Abd Manaf bin Zuhra, pemimpin suku Zuhra yang terhormat. Maksud kedatangannya adalah untuk melamar seorang gadis bernama Aminah untuk dikawinkan dengan Abdullah yang kala itu berusia 24 thn.
Sesuai adat istiadat, setelah menikah, Abdullah dan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesudah itu mereka pindah ke keluarga Abdul Muttalib di Mekah.
Suatu ketika disaat Aminah sedang hamil (mengandung bayi Muhammad), Abdullah pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria untuk waktu beberapa bulan lamanya. Dalam perjalanan pulang ke Mekah Abdullah singgah ke tempat saudara ibunya di Madinah untuk sekedar beristirahat sesudah merasa letih selama perjalanan. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit dan kawan-kawan seperjalanannya pun pulang lebih dulu. Singkat cerita, Abdullah menderita sakit yang serius sehinggal meninggal dunia dan di makamkan di Madinah. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul Muttalib dan Aminah, karena ia kehilangan seorang anak/suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya.
Waktu terus berjalan dan sampai suatu saat hati Abdul Muttalib sangatlah gembiranya ketika mendengar berita bahwa Aminah telah melahirkan seorang bayi laki-laki, karena ia telah mendapatkan pengganti anaknya yang sudah tidak ada itu. Oleh Abdul Muttalib bayi itu diberi nama Muhammad. Nama yang tidak umum di kalangan Arab ketika itu.
Sebagaimana tradisi kaum bangsawan arab di Mekah bahwa seorang bayi harus dirawat dan disusukan oleh tenaga profesional dari desa lain di daerah terpencil, yang maksudnya untuk menghindari akibat buruk udara kota dan lingkungan yang kurang baik. Tinggal di pedalaman dengan udara yang jernih dan bebas tidak terikat oleh ikatan materi. Dan sesuai adat kebiasaan pula bahwa seorang anak baru akan dikembalikan kepada ibu kandungnya setelah berusia delapan sampai sepuluh tahun.
Suatu ketika datanglah kekota Mekah wanita-wanita keturunan keluarga Sa'd untuk mencari bayi-bayi yang akan diserahkan oleh ibu kandungnya untuk dirawat dan disusui. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan, akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim karena mereka tentuya mengharapkan bayaran yang cukup baik atas pekerjaannya itu. Tapi berkat pertolongan Allah ternyata ada seorang wanita yang bersedia menerima bayi Muhammad. Wanita itu adalah Halimah.
Ternyata kemudian, Halimah bercerita bahwa sejak diambilnya bayi Muhammad itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya-pun bertambah. Allah telah memberkahi semua yang ada padanya.
Dua tahun lamanya Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima, putrinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman menyebabkannya cepat sekali menjadi besar dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa Muhammad kepada ibunya untuk diperlihatkan. Sesudah itu Halimah membawanya kembali ke pedalaman. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga dikuatirkan karena saat itu sedang ada wabah penyakit di Mekah. Dua tahun lagi Muhammad tinggal di pedalaman dan ketika dia berusia sekitar empat tahun ia dikembalikan kepangkuan ibu kandungnya.
Insya Allah, Bersambung