Tidak lama setelah adanya tanda-tanda lahiriah mengenai otoritas dan misinya, Muhammad mulai mengalami tanda-tanda kekuatan batiniah yang mendukung tanda-tanda lain yang telah dia sadari sebelumnya. Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau berbicara tentang "mimpi yang benar" Mimpi-mimpi tersebut membuat Muhammad lebih sering menyendiri dan merenungi arti kebenaran yang hakiki karena mendapati kaumnya semakin tersesat dalam kehidupan tahayul menghamba kepada patung dan berhala
Menjelang usia 40 tahun Muhammad kerap pergi ke Gua Hira untuk melakukan tahannuts (penyendirian spiritual). Jiwanya sudah penuh iman atas segala apa yang telah dilihatnya dalam mimpi hakiki itu. Ia telah membebaskan diri dari segala kebatilan.
Tahannuts bukan sesuatu yang aneh bagi kaum Quraisy dan sudah menjadi praktek tradisional di kalangan keturunan Ismail. Dalam mempraktekkan kebiasaan lama ini, Muhammad membawa berbagai perbekalan dan mengkhusyukkan diri pada malam-malam tertentu untuk menyembah Tuhan, kemudian pulang ke keluarganya. Saat Muhammad menuju ke tempat tahannuts, seringkali dia mendengar dengan jelas ucapan "Assalamu'alaikum, wahai utusan Allah (Rasulullah) , lalu dia berbalik dan mencari orang yang mengucapkannya. Namun dia tidak melihat seorangpun, sampai-sampai ia merasa kuatir, sehingga ia menceritakannya kepada Khadijah. Ia kuatir kalau-kalau itu adalah gangguan jin. tetapi isteri yang setia itu menenteramkan hatinya. dikatakannya bahwa dia adalah al-Amin, tidak mungkin jin akan mendekatinya.
Allah telah mempersiapkan pilihan-Nya itu dengan memberikan latihan rohani sedemikian rupa guna menghadapi saat-saat yang dahsyat, berita yang dahsyat, yaitu saat datangnya wahyu pertama.
Ramadhan adalah bulan yang biasa digunakan untuk mengasingkan diri (tahannuts). Pada suatu malam menjelang akhir Ramadhan, dalam usianya yang ke-40, ketika Muhammad tengah sendirian di dalam gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat dalam rupa manusia. Malaikat itu berkata kepadanya, "Bacalah!" Muhammad menjawab, "Aku tidak dapat membaca." Sebagaimana beliau tuturkan :
Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernapas. Kemudian, ia melepaskanku dan
berkata, "Bacalah!" Kujawab, "Aku tak dapat membaca." Ia mendekapku lagi hingga aku
pun merasa tersesak. Ia melepasku dan berkata, "Bacalah!" dan kembali kujawab, "Aku
tak dapat membaca!" Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya,
kemudian melepaskanku dan berkata: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang
menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena (qalam). Dia
mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya (QS96:1-5)
Muhammad mengulangi kata-kata yang diucapkan malaikat itu. Malaikat pun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Namun Muhammad merasa takut, jangan-jangan telah menjadi penyair yang terilhami jin atau orang yang kesurupan. Karena itu dia lari dari gua. Ditengah perjalanan menuruni tebing bukit, dia mendengar suara diatasnya, "Hai Muhammad! Engkau utusan Allah dan aku Jibril." Muhammad menengadahkan kepalanya ke arah langit dan disana terlihat tamunya, masih dapat dikenalnya namun sekarang jelas dalam rupa malaikat, memenuhi seluruh cakrawala. Kembali ia berkata, "Hai Muhammad, engkau Rasulullah dan aku Jibril." Muhammad berdiri terpaku menatap malaikat, dia berpaling darinya, namun kemanapun dia memandang, ke utara, ke selatan, ke timur, dan ke barat, malaikat selalu ada disana, menapak di cakrawala. Akhirnya malaikat itu pergi, dan Muhammad kembali menyusuri tebing menuju rumahnya.
"Selimuti aku! Selimuti aku!' serunya kepada khadijah. Dengan tubuh masih gemetar Muhammad merebahkan dirinya di dipan. Dipenuhi rasa cemas, namun tidak berani bertanya kepada suaminya, Khadijah cepat-cepat menyelimutinya. Ketika rasa takutnya telah reda, Muhammad menceritakan kepada isterinya apa yang dilihat dan didengarnya. Setelah mengucapkan kata-kata yang menenangkan hati suaminya, Khadijah pergi menceritakan hal tersebut kepada sepupunya Waraqah, yang kini telah sepuh dan buta.
"Quddus! Quddus!" kata Waraqah. Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah Namus yang terbesar, yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkanlah dia!"






.jpg)

.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)