Saturday, December 15, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 13



WAHYU PERTAMA
Tidak lama setelah adanya tanda-tanda lahiriah mengenai otoritas dan misinya, Muhammad mulai mengalami tanda-tanda kekuatan batiniah yang mendukung tanda-tanda lain yang telah dia sadari sebelumnya. Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau berbicara tentang "mimpi yang benar" Mimpi-mimpi tersebut membuat Muhammad lebih sering menyendiri dan merenungi arti kebenaran yang hakiki karena mendapati kaumnya semakin tersesat dalam kehidupan tahayul menghamba kepada patung dan berhala
Menjelang usia 40 tahun Muhammad kerap pergi ke Gua Hira untuk melakukan tahannuts (penyendirian spiritual). Jiwanya sudah penuh iman atas segala apa yang telah dilihatnya dalam mimpi hakiki itu. Ia telah membebaskan diri dari segala kebatilan.
Tahannuts bukan sesuatu yang aneh bagi kaum Quraisy dan sudah menjadi praktek tradisional di kalangan keturunan Ismail. Dalam mempraktekkan kebiasaan lama ini, Muhammad membawa berbagai perbekalan dan mengkhusyukkan diri pada malam-malam tertentu untuk menyembah Tuhan, kemudian pulang ke keluarganya. Saat Muhammad menuju ke tempat tahannuts, seringkali dia mendengar dengan jelas ucapan "Assalamu'alaikum, wahai utusan Allah (Rasulullah) , lalu dia berbalik dan mencari orang yang mengucapkannya. Namun dia tidak melihat seorangpun, sampai-sampai ia merasa kuatir, sehingga ia menceritakannya kepada Khadijah. Ia kuatir kalau-kalau itu adalah gangguan jin. tetapi isteri yang setia itu menenteramkan hatinya. dikatakannya bahwa dia adalah al-Amin, tidak mungkin jin akan mendekatinya.
Allah telah mempersiapkan pilihan-Nya itu dengan memberikan latihan rohani sedemikian rupa guna menghadapi saat-saat yang dahsyat, berita yang dahsyat, yaitu saat datangnya wahyu pertama.
Ramadhan adalah bulan yang biasa digunakan untuk mengasingkan diri (tahannuts). Pada suatu malam menjelang akhir Ramadhan, dalam usianya yang ke-40, ketika Muhammad tengah sendirian di dalam gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat dalam rupa manusia. Malaikat itu berkata kepadanya, "Bacalah!" Muhammad menjawab, "Aku tidak dapat membaca." Sebagaimana beliau tuturkan :
  Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernapas. Kemudian, ia melepaskanku dan
  berkata, "Bacalah!" Kujawab, "Aku tak dapat membaca." Ia mendekapku lagi hingga aku
  pun merasa tersesak. Ia melepasku dan berkata, "Bacalah!" dan kembali kujawab, "Aku
  tak dapat membaca!" Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya,
  kemudian melepaskanku dan berkata: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang
  menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
  Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena (qalam). Dia
  mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya (QS96:1-5)
Muhammad mengulangi kata-kata yang diucapkan malaikat itu. Malaikat pun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Namun Muhammad merasa takut, jangan-jangan telah menjadi penyair yang terilhami jin atau orang yang kesurupan. Karena itu dia lari dari gua. Ditengah perjalanan menuruni tebing bukit, dia mendengar suara diatasnya, "Hai Muhammad! Engkau utusan Allah dan aku Jibril." Muhammad menengadahkan kepalanya ke arah langit dan disana terlihat tamunya, masih dapat dikenalnya namun sekarang jelas dalam rupa malaikat, memenuhi seluruh cakrawala. Kembali ia berkata, "Hai Muhammad, engkau Rasulullah dan aku Jibril." Muhammad berdiri terpaku menatap malaikat, dia berpaling darinya, namun kemanapun dia memandang, ke utara, ke selatan, ke timur, dan ke barat, malaikat selalu ada disana, menapak di cakrawala. Akhirnya malaikat itu pergi, dan Muhammad kembali menyusuri tebing menuju rumahnya.
"Selimuti aku! Selimuti aku!' serunya kepada khadijah. Dengan tubuh masih gemetar Muhammad merebahkan dirinya di dipan. Dipenuhi rasa cemas, namun tidak berani bertanya kepada suaminya, Khadijah cepat-cepat menyelimutinya. Ketika rasa takutnya telah reda, Muhammad menceritakan kepada isterinya apa yang dilihat dan didengarnya. Setelah mengucapkan kata-kata yang menenangkan hati suaminya, Khadijah pergi menceritakan hal tersebut kepada sepupunya Waraqah, yang kini telah sepuh dan buta.
"Quddus! Quddus!" kata Waraqah. Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah Namus yang terbesar, yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkanlah dia!"
Khadijah lalu pulang dan menyampaikan apa yang diakatakan Waraqah itu kepada sang Nabi, yang kini telah siap kembali ke gua dengan pikiran tenang, mungkin untuk memenuhi jumlah hari tahannuts yang telah ia tetapkan untuk beribadah kepada Tuhan. Setelah selesai, seperti biasanya dia langsung ke Mekah melakukan tawaf. Seusai tawaf, Muhammad melihat Waraqah berada diantara orang-orang yang sedang duduk di masjid. Kepada Waraqah, Muhammad kembali menceritakan apa yang telah dialaminya di gua Hira, dan orang tua itu kembali menceritakan apa yang ia sampaikan kepada Khadijah. Namun, kali ini ia menambahkan, "Engkau akan didustakan orang, akan diperlakukan buruk, dan mereka akan mengusirmu, bahkan berperang melawanmu! Seandainya aku masih hidup pada saat-saat itu, Allah tahu, aku pasti akan membela kebenaran agama-Nya. Kemudian Waraqah merangkul Muhammad dan mencium ubun-ubunnya. Setelah itu, Nabi pulang ke rumah.

Saturday, November 17, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 12



PEMUGARAN KA'BAH
KITAB kejadian (Genesis) menceritakan bahwa Ibrahim tidak memiliki anak, dan tak ada harapan lagi untuk memilikinya. Pada suatu malam, Tuhan menyuruhnya keluar dari tenda. "Sekarang," firman-Nya, "pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang disana, bila engkau sanggup." Ibrahim pun menatap langit dan terdengarlah suara: "Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti."
Ketika Sarah berusia 76 tahun - umur yang terlalu lanjut untuk menerima kehadiran seorang bayi - Sarah mengizinkan suaminya itu menikahi Hajar, budaknya asal Mesir. Meskipun demikian, perasaan cemburu tumbuh juga diantara majikan dan budaknya, sehingga Hajar menjadi sasaran kemarahan Sarah. Hajar hanya mampu mengadukan segala deritanya kepada Tuhan. Maka Tuhan mengutus seorang malaikat kepadanya: "Aku akan memperbanyak keturunanmu yang tak terhitung jumlahnya." Sang malaikat juga berkata: "Berbahagialah! Kamu akan dikaruniai seorang anak. Namailah Ismail, karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu. " Hajar lalu menemui Ibrahim dan Sarah dan menyampaikan apa yang dikatakan malaikat. Ketika bayi yang didambakan itu lahir, Ibrahim memberinya nama Ismail, yang berarti "Tuhan telah mendengar."
Ketika Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 90 tahun, Tuhan berfirman lagi kepada Ibrahim, menjanjikan bahwa Sarah pun akan melahirkan seorang anak yang mesti diberi nama Ishaq. Khawatir kalau-kalau Allah mengurangi kasih sayang-Nya kepada Ismail, Ibrahim berdoa: "Semoga Ismail hidup dalam hidayah-Mu, ya Allah!" Dan Allah menjawab: "Aku mendengar doamu tentang Ismail. Aku merakhmatinya dan Aku akan menjadikan dia pemimpin suatu bangsa yang besar. Tetapi, kehendak-Ku tentang Ishaq telah Ku-tetapkan, dan Sarah akan melahirkannya tahun depan."
Sarah melahirkan Ishaq dan dia sendiri yang menyusuinya. Setelah Ishaq disapih, ia memohon kepada Ibrahim agar Hajar dan puteranya segera pergi dari rumah mereka. Karena sangat menyayangi Ismail, Ibrahim menjadi amat sedih. Namun Allah berfirman agar permintaan Sarah dipenuhi, dan agar supaya Ibrahim tidak larut dalam kesedihan, Allah berjanji akan memberkahi Ismail.
Dengan demikian, keturunan Ibrahim bukan hanya satu bangsa tetapi dua bangsa besar. Allah menjanjikan kemakmuran duniawi dan keluhuran spiritual dan Ibrahim menjadi pemimpin dua aliran spiritual besar, yang tidak mengalir bersama melainkan memiliki jalan masing-masing.
Ketika Muhammad berusia sekitar 35 tahun - Quraisy memutuskan untuk membangun kembali Ka'bah. Ketika itu dinding Ka'bah hanya setinggi manusia dan tidak ada atapnya. Artinya, kalaupun pintunya dikunci, mudah sekali dimasuki orang yang berniat jahat.
Kini, kaum Quraisy meninggikan bangunan Ka'bah. Masing -masing kabilah bekerja sesuai pembagian tugasnya yaitu setiap kabilah membangun satu sisi Ka'bah. Ketika sampai pada tahap peletakan kembali Hajar Aswad di pojoknya, perdebatanpun merebak diantara mereka. Masing-masing kabilah ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada tempatnya semula. Ketegangan memuncak dan nyaris terjadi pertumpahan darah sampai salah seorang diantara mereka berkata, "Wahai kaum Quraisy mari kita tunjuk seorang penengah yaitu orang yang pertama kali masuk gerbang masjid pada hari ini.." Dalam bahasa Arab, masjid adalah tempat bersujud, karena ritual sujud kepada Tuhan menghadap Rumah Suci itu telah dilakukan disana sejak zaman Ibrahim dan Ismail.
Ternyata, orang yang pertama kali masuk ke masjid adalah Muhammad. "Dialah al-Amin," kata beberapa orang diantara mereka. Setelah mereka menjelaskan duduk persoalannya, Muhammad berkata, "Berikanlah kepadaku selembar selimut." Setelah mereka memberikannya, beliau membentangkan selimut itu di tanah. Lalu beliau mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di tengah kain itu. "Silahkan masing-masing kabilah memegang ujung selimut itu," katanya. Secara serentak mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Setibanya dilokasi penempatan Hajar Aswad, Muhammad mangambil batu itu, lalu meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan dan pemugaran Ka'bah pun dilanjutkan hingga selesai.
Keputusan menunjuk Muhammad sebagai penengah perselisihan diantara mereka itu membuktikan betapa tingginya kedudukan Muhammad di mata penduduk Mekah dan betapa besar pengharagaan mereka kepadanya.

Saturday, November 10, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 11



RUMAH TANGGA
Selain berperan sebagai isteri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Bersama Muhammad Khadijah melahirkan 6 anak: 2 putera dan 4 puteri:
  1. Putera sulungnya diberi nama Qasim, sehingga Muhammad dikenal sebagai
      Abu al-Qasim, ayah Qasim. Namun Qasim meninggal sebelum berusia dua tahun
  2. Berikutnya seorang puteri dinamai Zaynab, disusul dengan tiga puteri lainnya
  3. Ruqayyah
  4. Umm Kultsum, dan
  5. Fathimah. Yang terakhir seorang putera lagi yang juga tidak berusia panjang
  6. Abdullah
Kematian kedua puteranya itu sangat menyedihkan dan meninggalkan bekas yang mendalam bagi Muhammad dan Khadijah. Betapa dalamnya rasa sedih itu, pada suatu zaman yang membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan lebih dari itu. Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan tersebut, sehingga Zaid bin Haritsah, seorang budak Khadijah, dimerdekakan dan diangkatnya sebagai anak, sehingga orang waktu itu menyebutnya Zaid bin Muhammad.
Ketika Zaid sedang bepergian dengan ibunya untuk menginjungi keluarganya, Zaid diculik oleh segerombolan Bani Qayn dan kemudian dinjualnya sebagai budak. Haritsah ayahnya sudah lama mencarinya dan ketika pada suatu waktu mengetahui bahwa anaknya tersebut tinggal bersama Muhammad, maka dia bertekad untuk menjemput dan menebusnya kembali, walaupun untuk itu harus menghabiskan seluruh harta bendanya.
Ketika rombongan mereka bertemu dengan Muhammad dan menyampaikan maksudnya untuk menebus Zaid terjadilah dialog diantara mereka. "Biarkanlah ia memilih," kata Muhammad kepada Haritsah, "dan jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jia ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku." Kemudian, beliau memanggil Zaid dan berkata, "engkau sangat mengenalku, dan engkau telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, kamu pilihlah antara aku dan mereka." Zaid menetapkan pilihan dan seketika itu ia berkata, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku engkau laksana ayah dan ibu." "keterlaluan engkau Zaid!" seru Haritsah. "Apakah engkau lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah engkau lebih memilih dia daripada ayahmu, pamanmu dan keluargamu?" "Begitulah," kata Zaid, "karena aku telah menyaksikan dari dia sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapapun selainnya."
Muhammad memotong percakapan lebih lanjut. Ia mengajak mereka pergi bersamanya ke Ka'bah. Sambil berdiri di Hijr, dengan lantang ia berkata, "Wahai semua yang hadir! Saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Aku ahli warisnya dan dia ahli warisku."
Akhirnya, rombongan ayah dan paman Zaid kembali dengan tangan hampa. Namun, kisah yang harus mereka ceritakan kepada suku mereka - tentang hubungan cinta yang mendalam dalam adopsi ini - bukan sesuatu yang memalukan. Ketika menyaksikan Zaid bebas, dimuliakan, dan dijanjikan mendapat kedudukan tinggi di tengah penduduk Tanah Suci, mereka berharap kelak Zaid akan memberikan keuntungan bagi kaumnya. Karena itu mereka menerima hal itu dan pergi tanpa rasa kesal.

Saturday, October 20, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 10



PERKAWINAN PUTERI-PUTERI MUHAMMAD
Abu Thalib, sang paman yang meneruskan pengasuhan Muhammad setelah kematian kakeknya Abdul Muthalib. Abu Thalib memiliki anak lebih banyak dari yang sanggup ia nafkahi. Mereka sering kali ditimpa kelaparan. Pamannya yang terkaya adalah Abu Lahab, namun ia jauh dari keluarga. Muhammad memperhatikan hal itu dan merasa harus melakukan sesuatu. Kemudian Muhammad memutusan untuk megasuh anak Abu Thalib yang bernama Ali. Pada saat itu, Khadijah melahirkan anaknya yang terakhir, yang dinamai Abdullah. Namun, bayi itu wafat pada usia yang lebih muda dari Qasim. Bayi itu digantikan Ali yang tumbuh seperti layaknya seorang saudara lelaki bagi keempat sepupu perempuannya, kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Umm Kultsum, lebih muda dari Zaynab dan lebih tua dari Fathimah. Kelima orang ini bersama Zaid, merupakan keluarga Muhammad dan Khadijah.
Paman tertua Muhammad, Harits -yang kini telah wafat- meninggalkan beberapa anak. Salah satunya adalah Abu Sufyan. Ia juga saudara sesusuan, karena ia juga diasuh oleh Halimah beberapa tahun setelah Muhammad. Muhammad menganggap Abu Sufyan, sebagai teman dan sahabat karena usia mereka yang sebaya dan karena ikatan persaudaraan diantara mereka.
Terhadap anak-anaknya yang perempuan Muhammad sangat memberikan perhatian, dengan mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya memenuhi syarat (kufu'). Zaynab yang sulung dikawinkan dengan Abul Ash - Ibundanya masih bersaudara dengan Khadijah - seorang pemuda yang dihargai masyarakat karena kejujuran dan kesuksesannya dalam dunia perdagangan. Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah datangnya Islam - ketika Zaynab akan hijrah dari Mekah ke Madinah - mereka terpisah.
Ruqayyah dan Umm Kultsum dikawinkan dengan Utba dan Utaiba, anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri ini sesudah masuknya Islam, terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab menyuruh kedua anaknya itu menceraikan istri mereka, yang kemudian berturut-turut keduanya menjadi isteri Usman bin Affan. Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali baru terjadi sesudah datangnya Islam.
(Catatan kaki : Usman bin Affan, khalifah ketiga, mengawini Ruqayyah setelah dia diceraikan oleh Utba. Dan setelah Ruqayyah wafat dalam tahun ke-2H selanjutnya Usman mengawini Umm Kultsum)
Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu ternyata tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah, yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah bunda yang bahagia.
Oleh karena itu wajar sekali apabila Muhammad mempunyai pembawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa yang kuat dan mempunyai persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang hakiki, jiwa yang demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang hanyut dalam lembah kesesatan. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada padanya, yang dicarinya hanyalah kebenaran hakiki. Pikiran dan renungan yang berkecamuk di dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan kepada orang lain.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa. Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuth.
Di puncak Gunung Hira terletak sebuah gua yang baik sekali untuk menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadhan tiap tahun Muhammad pergi kesana dan berdiam ditempat itu, hanya dengan bekal secukupnya ia tekun dalam renungan dan ibadah, jauh dari segala kesibukan hidup dan kebisingan masyarakat perkotaan. Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran.

Saturday, October 13, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 9



Pernikahan
Cara-cara orang mengejar harta dengan serakah karena hendak memenuhi hawa nafsunya sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya. Kenikmatan jiwa yang paling besar ialah merasakan adanya keindahan alam ini dan mengajak orang merenungkannya. Suatu kenikmatan besar yang hanya sedikit saja dikenal orang. Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yaitu mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai sejak kematian ibunya, kemudian kematian kekeknya. Kenikmatan demikian tidak memerlukan harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat, sehingga seseorang dapat mengetahui bagaimana memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin. Muhammad hanya makan bila merasa lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang, dan ia minta supaya orang bisa bergembira menghadapi penderitaan hidup.
Muhammad kini telah melewati usianya yang kedua puluh.Seiring dengan berlalunya waktu, ia sering diajak kerabatnya melakukan perjalanan dagang ke luar kota. Akhirnya tiba saat Muhammad diminta membawa dagangan orang lain. Kesuksesanya dalam menunaikan tugas ini membuahkan banyak penawaran serupa lainnya, sehingga ia memperoleh penghasilan yang lebih baik, dan pernikahan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan.
Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati di seantero Mekah. Sejak kematian suami keduanya dia mengangkat orang untuk mendagangkan hartanya. Kini Muhammad telah dikenal di penjuru Mekah sebagai al-Amin, orang terpercaya, yang dapat diandalkan, jujur. Pada suatu hari Khadijah meminta Muhammad untuk membawakan barang dagangannya ke Syria dengan bayaran dua kali lebih besar dari bayaran tertinggi yang pernah diberikan kepada orang Quraisy. Seorang pembantu Khadijah yang ikut menemani Muhammad berdagang ke Syria menceritakan pengalaman perjalanannya dengan Muhammad. Ia seringkali mengalami bagaimana panas terik, namun anehnya tak terasa menyengat. Satu hari saat menjelang siang, tampak suatu pemandangan yang singkat namun jelas, ada dua malaikat melindungi Muhammad dari sengatan panas matahari.
Kahadijah duduk mendengarkan Muhammad, ketika ia menceritakan perjalanan dan transaksi yang dilakukan. Ternyata transaksi itu sangat menguntungkan. Namun, hal itu jauh dari benak Khadijah. Seluruh perhatiannya terpusat pada si pembicara itu sendiri. Muhammad berusia 25 tahun. Ia memiliki postur tubuh sedang, ramping, dengan bentuk kepala yang besar, punggung yang lebar dan anggota tubuh lainnya sangat proporsional. Rambut dan janggutnya hitam lebat, tidak lurus dan tidak terlampau ikal. Rambutnya mencapai pertengahan antara daun telinga dan punggungnya. Panjang janggutnya sesuai. Ia memiliki dahi yang lebar. Matanya berbentuk oval lebar. Bulu matanya panjang. Alis matanya lebat tampak melengkung namun tidak bertaut. Hidungnya mancung, mulutnya lebar dan indah bentuknya. Ketampanannya senantiasa tampak. Ia tidak pernah membiarkan kumisnya tumbuh lebat diatas bibirnya. Kulitnya putih agak kecoklatan karena sinar matahari. Yang menambah ketampanannya adalah cahaya yang memancar di wajahnya, pancaran ini terutama tampak pada dahinya yang lebar dan pada matanya yang jernih.
Khadijah sadar bahwa ia sendiri pun masih cantik, namun ia lebih tua lima belas tahun. Maukah Muhammad menkah dengannya?
Begitu Muhammad pergi, Khadijah berkonsultasi dengan temannya, Nufaysah. Nufaysah menawarkan diri untuk mendekati Muhammad, dan jika perlu mengatur pernikahan mereka berdua. Kemudian Nufaysah menceritakan tentang ketertarikan Khadijah dan menanyakan kesediaan Muhammad menikah dengan Khadijah. Setelah pihak Muhammad menyatakan kesediannya maka  ia segera menyampaikan berita gembira tersebut kepada Khadijah.
Khadijah menyuruh Nufaysah memangil Muhammad agar datang kepadanya. Setelah ia datang, Khadijah berkata, "Aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di tengah masyarakat, tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluhuran budi dan kejujuran perkataanmu. " Kemudian Khadijah menawarkan dirinya untuk dinikahi. Merekapun sepakat agar masing-masing berbicara kepada keluarganya. Dari pihak Muhammad diutuslah Hamzah sebagai wakil keluarga untuk melamar Khadijah. Kesepakan dicapai di antara mereka bahwa Muhammad harus memberinya mahar dua puluh ekor unta betina.

Sunday, September 30, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 8




Tanda-tanda kenabian (lanjutan)
Para pemuka Quraisy telah menantang Nabi Muhammad agar menunjukkan tanda-tanda, seperti turunnya malaikat untuk mengukuhkan kenabiannya dan naiknya beliau ke langit.
Pada suatu ketika,tepat di malam bulan purnama, seorang kafir meminta agar Nabi Muhammad membelah bulan menjadi dua, sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar utusan Allah. Ada banyak orang lain yang juga hadir disitu, termasuk kaum beriman dan mereka yang masih ragu-ragu keimanannya. Ketika permintaan itu dikabulkan, semua mata memandang bulan. Mereka amat terpana melihat bulan terbelah menjadi dua, satu sama lain saling menjauh hingga masing-masing saling mamancarkan sinarnya di dua sisi bukit. "Kalian telah menyaksikan, " kata Nabi. Namun orang-orang yang mengajukan permintaan itu menolak mukjizat ini dan menganggap Nabi hanyalah tukang sihir, dengan menuduh beliau telah melemparkan ajian sihir kepada mereka. Sebaliknya kaum mukmin, bergembira, dan beberapa orang yang semula ragu-ragu akhirnya masuk Islam.
Pemenuhan yang segera dan memuaskan atas tantangan ini hanyalah sebuah pengecualian. Tanda-tanda lain yang diminta orang Quraisy memang telah diberikan, namun dalam bentuk  tidak persis seperti yang mereka minta, dan tidak dalam waktu yang mereka tentukan, melainkan sesuai dengan kehendak Allah. Ada juga beberapa mukjizat yang lebih kecil dan hanya disaksikan oleh kaum mukmin. Namun, mukjizat-mukjizat itu bukanlah hal yang utama, karena Al-Quran yang diwahyukan itulah mukjizat utama dari Allah, sebagaimana Yesus menjadi mukjizat utama ajaran sebelumnya. Menurut Al-Quran, Yesus adalah utusan Allah sekaligus firman-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan tiupan dari roh-Nya.
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan- Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul- Nya dan janganlah kamu mengatakan : "Tuhan itu) tiga", berhentilah dari ucapan itu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa."  (QS.4:171)
Kalau sebelumnya "firman Tuhan dalam bentuk manusia," maka kini secara kiasan, kehadiran Tuhan di dunia ini melalui "firman dalam bentuk Kitab" yang menjelaskan Islam sebagai agama yang sesungguhnya.
Ketika orang Quraisy meminta mukjizat, tanggapan utama Al Quran adalah menunjuk kepada sesuatu yang selalu berada di hadapan mereka tanpa mereka sadari keajaibannya seperti tersebut dalam QS.88:17-20) :
   Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?
   Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia di tegakkan?
   Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?
  

Sunday, September 16, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 7



Tanda-tanda kenabian (lanjutan)
Pada suatu hari ketika Muhammad dan saudara angkatnya sedang bermain dengan beberapa anak biri-biri di belakang kemah kami, saudara angkatnya itu lari menghampiri kami dan berteriak, "Saudara Quraisy-ku (Muhammad) ! Dua laki-laki bergamis putih mengambilnya, membaringkannya, dan membelah dadanya. Lalu tangan mereka mengeluarkan isi dadanya."  Karena itu aku (Halimah) dan ayahnya menemui Muhammad dan melihatnya berdiri dengan wajah pucat pasi. Kami memeluknya dan bertanya, "Apa yang terjadi padamu, anakku?" Ia menjawab, "Dua orang berbaju putih mendatangiku, membaringkanku dan membelah dadaku untuk mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu."
Halimah dan suaminya berkeliling melihat sekitarnya, namun tak menjumpai kedua laki-laki itu. Mereka juga tak melihat darah atau luka pada tubuh Muhammad. Bahkan tak ada sedikitpun goresan pada dada anak ini.
Setelah beberapa tahun, Muhammad lebih mampu menceritakan kejadian itu dengan lebih jelas dan lengkap :
  Ada dua laki-laki datang kepadaku, berbaju putih, dengan sebuah baskom emas yang  
  penuh dengan salju. Setelah itu, mereka  membaringkan tubuhku dan membelah dadaku
  kemudian mengambil jantungku. Tampaknya mereka membukanya  dan mengambil
  segumpal darah hitam dari jantungku dan membuangnya. Lantas, mereka mencuci
  jantungku dan isi dadaku dengan salju itu.
Ia juga berkata : "Setan menyentuh setiap anak Adam pada saat ibunya melahirkannya,
kecuali Maryam dan puteranya."
Halimah dan suaminya yakin bahwa kedua anak mereka berkata benar. Karena itu mereka sangat ketakutan, khawatir jika Muhammad terkena suatu guna-guna roh jahat atau terserang sihir. Iapun membawa Muhammad kepada ibunya Aminah.
Setelah mendengar cerita itu, Aminah menenangkan Halimah agar tidak perlu takut dan berkata, "Peristiwa-peristiw a besar telah terjadi pada puteraku." Kemudian Aminah bercerita bahwa ketika mengandungnya, ia sangat sadar ada secercah cahaya memancar di dalam tubuhnya. Halimah menjadi tenang, tetapi sejak itu Aminah memutuskan untuk mengasuh sendiri puteranya. "Tinggalkan ia bersamaku," katanya, "dan pulanglah dengan tenang."
Muhammad hidup bahagia di Mekah bersama ibunya selama tiga tahun. Ia mendapatkan perhatian lebih daripada kakek, paman, bibi, dan sepupunya yang tinggal bersamanya. Yang paling manyayanginya adalah Hamzah dan Shafiyyah, dua anak Abdul Mutalib. Hamzah seusia dengannya sedangkan Shafiyyah lebih muda dari Muhammad, terjalin suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka bertiga.
Ketika Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajaknya mengunjungi seorang kerabatnya di Yatsrib (Madinah). Di kemudian hari Muhammad menceritakan kegembiraannya saat bagaimana saudaranya itu mengajarinya bermain layang-layang. Namun tak lama kemudian, saat perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di Abwa, tidak jauh dari Madinah. Sejak saat itulah Muhammad menjadi seorang yatim-piatu

Saturday, August 25, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 6



Tanda-tanda kenabian (lanjutan)
Ketika sedang hamil mengandung bayi Muhammad, Aminah menyadari ada suatu cahaya ajaib yang memancar di dalam tubuhnya. Pada suatu hari cahaya itu bersinar terang benderang, kemudian ia mendengar suara, "Engkau mengandung seorang pemimpin seluruh umat, jika ia lahir katakanlah, 'Aku menyerahkan perlindungan anak ini kepada Tuhan Yang Satu, dari segala kejahatan orang-orang jahat.'"
Sesuai kebiasaan keluarga Arab perkotaan untuk mengirimkan anak-anak mereka ke daerah gurun untuk disusi hingga disapih. Hal itu berguna untuk perkembangan jasmani dan jiwa mereka, mengingat bahwa penduduk kota adalah sarang kecurangan, kemalasan dan hura-hura, yang siap setiap saat merenggut ketajaman penglihatan dan kewaspadaan manusia. Segala sesuatu membusuk disana termasuk keindahan berbahasa, sopan santun, suatu hal yang sangat menentukan kualitas manusia.
Cendekiawan dan penyair-penyair terkenal hampir selalu berasal dari suku-suku padang pasir, karena bahasa sehari-hari mereka memang puitis.
Beberapa suku pedalaman yang memiliki reputasi  baik dalam mengasuh dan menyusui anak secara periodik datang ke kota Mekah untuk menawarkan jasanya. Tersebutlah seorang wanita  bernama Halimah datang bersama suaminya.  Ia baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki yang mereka rawat sendiri. Halimah menuturkan :
Tahun ini musim kemarau, kami tidak mempunyai apa-apa. aku berangkat mengendarai keledai betinaku yang kurus dan juga membawa seekor unta betina tua yang tidak lagi bisa mengeluarkan susu setetespun. Kami terbangun setiap malam oleh tangis kelaparan anak kami, karena susuku tidak cukup membuatnya kenyang. Keledaiku begitu lemah dan kurus sehingga aku sering ketinggalan rombongan di perjalanan.
Halimah menceritakan keadaannya setelah mengambil Muhammad sebagai anak asuhannya. "Tak lama setelah kudekap ia kedadaku, tiba-tiba payudaraku penuh air susu untuk menyusuinya. Ia meminumnya sampai kenyang, dan saudara angkatnyapun (anak kandung Halimah) demikian juga. Setelah itu mereka tertidur nyenyak. Suamiku mendekati unta betina tua kami dan, astaga ! susunya penuh ! Iapun meminumnya dan aku juga turut minum hingga begitu kekenyangan. Kami menjalani malam yang begitu menyenangkan. "  Dipagi harinya suamiku berkata, "demi Tuhan, Halimah, engkau telah mengambil makhluk yang diberkahi Tuhan !" 
Kami bersiap-siap untuk berangkat pulang, dan aku kembali menaiki keledaiku sambil menggendong Muhammad. Keledaiku berjalan dengan cepat menyalip rombongan yang lain; tak seorangpun dari keledai mereka yang dapat menyamai langkahnya. "Hebat sekali kalian !" kata mereka. "Tunggulah kami ! Bukankah keledai yang kau tunggangi itu sama dengan keledai yang kemarin kalian naiki saat berangkat kemari ?" "Suatu mukjizat telah datang kepadanya", komentar mereka.
Halimah melanjutkan ceritanya :
Kami sampai di tempat tinggal kami, dan aku tahu bahwa tak ada tempat lain yang lebih gersang kecuali tempat ini. Namun setelah kami datang membawa bayi Muhammad untuk tinggal bersama kami, domba-domba kami pulang setiap petang dengan air susunya yang penuh. Kami memerahnya dan meminumnya, sementara yang lain tak dapat menghasilkan susu sedikitpun, hingga para tetangga kami berkata kepada penggembalanya, "Gembalakan kambing-kambing kami di dekat kambing-kambing mereka merumput." Meskipun hal itu telah dilakukan, ternak mereka tetap pulang dalam keadaan lapar dan tidak menghasilkan susu, sementara kambing-kambing kami tampak sehat dengan air susu yang cukup. Dan kami tidak pernah berhenti mensyukuri nikmat dari Tuhan ini, hingga Muhammad berusia dua tahun dan akupun menyapihnya.

41. Al-Hasib - Maha Mencukupi


41. "Ya Hasiib!" Untuk memperteguhkan kedudukan yang telah kita jawat, amalkan zikir ini sebanyak 777 x sebelum matahari terbit & selepas solat Maghrib, InsyaAllah akan meneguhkan kedudukan kita tanpa sebarang gangguan.

AL HASIIBU             Ertinya Yang Menghisab atau Menghitung.
KHASIATNYA:         Untuk menguatkan jabatan atau pekerjaan yang dipegangnya apabila dibaca setiap selesai sembahyang Subuh atau sebelum terbit matahari dan petang (sesudah sembahyang Maghrib), Insyaallah akan dijaga kedudukannya/jabatannya atau pekerjaannya. Bacalah sebanyak 777 kali.



Saturday, July 14, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad 5



Tanda-tanda kenabian ( lanjutan sebelumnya )
Abdul Mutalib menuntun puteranya Abdullah menuju tempat pengorbanan, seolah-olah tak mau berpikir panjang lagi. Dia tidak memperhitungkan pendapat istrinya, Fathimah ibu Abdullah dan juga pendapat kerabat dekat lainnya.
Beberapa saat setelah pengundian dilakukan, orang-orang telah berkumpul di halaman Ka'bah. Ketika Abdul Mutalib dan Abdullah muncul diambang pintu dengan wajah pucat pasi, terdengar suara riuh dari kaum Makhzum (keluarga besar Fathimah ibu Abdullah) setelah menyadari bahwa anak dari saudara mereka akan dikorbankan. "Untuk apa pisau itu?" tanya seseorang diantara mereka, meskipun mereka telah mengetahui jawabannya. Abdul Mutalib mulai menjelaskan nazarnya, namun segera dipotong oleh Mughirah, kepala suku Makhzum. "Jangan korbankan dia, kita akan mencari gantinya, walaupun penggantinya adalah seluruh kekayaan Makhzum." Pada saat itu saudara-saudara Abdullah sudah keluar dari Ka'bah. Tadinya tak seorangpun dari mereka angkat bicara, namun kini mereka memohon kepada ayahnya agar Abdullah dibiarkan hidup dan diganti dengan persembahan lain. Tak seorangpun dari orang yang hadir disitu yang berbeda pendapat dan Abdul Mutalib terus dibujuk agar membiarkan anaknya hidup, tapi ia masih ragu. Akhirnya ia setuju untuk mengkonsultasikan masalah ini kepada seorang wanita bijak di Yatsrib (Madinah) agar dapat memberikan saran apakah persembahan lain dapat menggantikan puteranya.
Bersama Abdullah dan dua putera lainnya, Abdul Mutalib pergi ke negeri kelahirannya itu untuk menemui wanita bijak itu. Pada saat berjumpa dengannya, wanita itu bertanya, Binatang apa yang kalian pelihara?" Mereka menjawab bahwa ada sepuluh ekor unta. "Kembalilah kekotamu," pesannya, "dan tempatkanlah anak lelakimu dan sepuluh ekor unta itu secara berdampingan, lalu undilah mereka. Jika anak panah terjatuh di depan anak lelakimu, tambahkan sepuluh unta lagi dan undi kembali; begitu seterusnya hingga Tuhan menerima unta-unta itu dan anak panahnya jatuh ke arah mereka. Dan, korbankanlah unta-unta itu, sementara biarkanlah anakmu hidup."
Maka bergegaslah mereka kembali ke Mekah dan dengan khikmat membawa Abdullah dan sepuluh unta ke halaman Ka'bah dan pengundianpun dilakukan. Pada undian pertama anak panah terjatuh di depan Abdullah, maka sepuluh ekor unta lagi ditambahkan, dan pengundian kembali dilakukan, namun demikian seterusnya hingga setelah mencapai seratus ekor unta, barulah anak panah itu jatuh didepan unta-unta itu. Kendati demikian, Abdul Mutalib adalah orang yang sangat berhati-hati, baginya sebuah anak panah belum cukup membuktikan untuk mengambil keputusan penting. Karena itu, ia meminta mereka mengulang pengundian hingga tiga kali pelepasan anak panah. Dan, ternyata anak panah tetap jatuh di depan unta-unta itu. Hal inilah yang meyakinkan Abdul Mutalib bahwa Tuhan telah menerima penebusannya, dan unta-unta itu pun disembelih sebagai kurban.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa Tuhan sungguh tidak kejam, Dia mengutuk manusia yang membunuh manusia lainnya tanpa alasan yang dibenarkan. Dialah Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Kisah yang sama terulang dalam dalam kisah haji dimana perintah penyembelihan Ismail yang kemudian digantikan dengan seekor domba besar sebagai kurban.
Maha suci Allah yang skenarionya demikian jelas bahwa kelahiran nabi Muhammad telah dirancang sejak alam ruh (nur Muhammad), kemudian dalam kisah Abdullah yang demikian jelas menggambarkan rencana Allah atas kelahiran Nabi Akhir jaman. Dan juga nanti terbukti ketika kedua anak lelaki Rasulullah meninggal diusia anak-anak. Ulama meyakini bahwa hal ini untuk menghindarkan tradisi "pimpinan turun temurun."
Wallahu alam

Sunday, July 8, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad 4



Tanda-tanda kenabian
Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, pamannya Abu Talib mengajaknya pergi bersama kafilah saudagar ke negeri Syria. Sesampaini ya di suatu tempat yang bernama Bostra, kafilah tersebut berhenti untuk beristirahat. Disitu mereka bertemu dengan seorang pendeta kristen bernama Bahira. Dia berkata bahwa didalam kitab-kitab suci mereka terdapat ramalan tentang akan datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab. Sama seperti pendeta kristen lainnya yang bernama Waraqah, ia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.
Bahira sudah sering melihat kedatangan kafilah Mekah yang singgah tak jauh dari biaranya. Tetapi kali ini perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya : segumpal awan bergelayut rendah bergerak perlahan diatas kepala mereka. Ketika kafilah itu berhenti, awan itupun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal diatas pohon tempat kafilah itu berteduh, sementara pohon itu merundukkan dahan-dahannya diatas mereka. Dengan demikian mereka berteduh diatas dua naungan. Bahira tahu bahwa itu pertanda  tentang nabi yang diharapkan itu.
Dalam perjamuan yang diadakan dengan rombongan kafilah itu, Bahira menatap Muhammad dengan seksama dan dia menemukan beberapa bagian dari wajah dan dan tubuh yang sangat cocok dengan yang dilukiskan dalam kitabnya. Dikisahkan bahwa Muhammad kecil tidak ragu-ragu melepaskan jubahnya ketika diminta pendeta itu agar dapat melihat punggungnya. Bahira telah merasa yakin, namun kini ia semakin yakin karena diantara kedua punggung Muhammad ada sebuah tanda yang ia lihat, sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti digambarkan dalam kitabnya.
Dikisahkan juga tentang Abdul Mutalib (kakek Muhammad) yang disegani oleh kaum Quraisy atas kedermawanan, kebijaksanaannya dan ditambah lagi oleh kehormatan sebagai orang yang berhak merestorasi Zam-zam. Ia merasa sangat bersyukur atas semua itu, namun jiwanya masih belum tenang, karena ia hanya memiliki seorang anak laki-laki. Maka ia berdoa dan bernazar : apabila dikaruniai sepuluh anak laki-laki yang tumbuh hingga dewasa, ia akan mengorbankan satu orang diantaranya bagi Tuhan di Ka'bah. Memang demikianlah kebiasaan adat istiadat masyarakat Arab ketika itu.
Ternyata kemudian doanya dikabulkan Allah. Ketika dulu ia berdoa dan bernazar, hal itu nampaknya sesuatu yang mustahil bakal terjadi. Namun ketika menjadi kenyataan, maka nazar itu menghantui dirinya.
Diantara sepuluh anaknya, Abdul Mutalib sangat menyayangi anak bungsunya yaitu Abdullah (ayah Muhammad). Mungkin Allah lebih menyayangi anak ini yang dikaruniai ketampanan dan barangkali Allah akan memilihnya untuk dikurbankan, demikian pikirnya.
Suatu ketika, Abdul Mutalib mengumpulkan seluruh puteranya dan menyampaikan perjanjiannya dengan Tuhan dan meminta mereka mendukung pelaksanaan nazarnya. Anak-anaknya tidak punya pilihan lain kecuali setuju, janji ayahnya adalah janji mereka juga, demikian pikir mereka. Singkat cerita diadakanlah undian dengan cara mengundang pengundi panah resmi Quraisy di Ka'bah, dan Abdul Mutalib berdiri menjadi saksi sambil menggenggam sebilah pisau besar. Digunakanlah kumpulan 10 anak panah sebagai alat pengundi dan ternyata yang keluar adalah anak panah Abdullah (ayah Muhammad). Kemudian Abdul Mutalib menggandeng Abdullah sambil menggenggam pisau besar tadi. Ia menuntun puteranya menuju tempat pengorbanan, seolah-olah tak mau berpikir panjang lagi........ .....  bersambung

Saturday, June 23, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 3



Sepeninggal kakeknya Abdul Muttalib pengasuhan Muhammad dipegang oleh pamannya, Abu Talib. Sekalipun dia bukan yang tertua diantara saudara-saudarnya. Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya, Abbas yang mampu tapi dia kikir sekali dengan hartanya.
Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abdul Muttalib , karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakannya daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang menarik hati pamannya.
Pada suatu ketika Abu Talib membawa Muhammad kecil, yang saat itu berusia 12 tahun dalam rombongan kafilah untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan itulah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan rahib itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen.
Dalam perjalanan itu juga sepasang mata Muhammad melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit. Di Syam ini pula Muhammad mengetahui berita-berita tentang kerajaan Romawi dan agama Kristennya, didengar berita tentang Kitab Suci mereka. Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi Muhammad sudah mempunyai kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam sebagai suatu tanda persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar. Ia melihat sekeliling dengan sikap menyelidik, meneliti. Ia tidak puas terhadap yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri : "Dimanakah kebenaran dari semua itu?"
Sejak masa kanak-kanak, Muhammad menunjukkan gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati, sehingga penduduk Mekah semua memangilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya)
Muhammad membantu pamannya menggembalakan kambing. Dalam masa penggembalaan itulah Muhammad mempunyai kesempatan luas untuk merenung dan berfikir. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala, diantaranya ia berkata : "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing."
Dalam suasana senyap dipadang gembala, dihamparan alam yang maha luas, ia mencari sesuatu penafsiran tentang penciptaan alam semesta. Pemikiran dan perenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi. ia berada jauh lebih tinggi dari itu. Kenikmatan jiwa yang paling besar ialah merasakan keindahan alam semesta. Bahagia karena mengabungkan alam kedalam diri dan merasakan nikmatnya berada dalam pelukan kalbu alam. Kenikmatan demikian tidak memerlukan kekayaan harta tapi memerlukan kekayaan jiwa yang kuat.

Saturday, June 16, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 2



Muhammad tinggal pada keluarga Sa'd sampi berusia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar bahasa Arab yang murni.
Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwa Muhammad. Demikian juga halnya dengan Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya
Sesudah lima tahun, kemudian Muhammad kembali kepada ibunya. Kakeknya Abdul Muttalib-lah yang mengasuh cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Suatu ketika ibunya (Aminah) membawa Muhammad ke Madinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudaranya dan juga diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Saat itulah pertama kali Muhammad merasakan dirinya sebagai anak yatim.
Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Madinah, Aminah sudah bersiap-siap akan pulang kembali ke Mekah. Dengan rombongannya mereka pulang menuju Mekah dengan mengendarai dua ekor unta. Tetapi ditengah perjalanan, ketika mereka sampai di suatu desa yang bernama Abwa (jaraknya 37 Km dari Madinah), ibunda Aminah menderita sakit, yang akhirnya meninggal dunia dan dikuburkan disitu juga.
Muhammad kecil dibawa pulang ke Mekah oleh rombongan kafilahnya. Ia menangis dengan hati yang pilu. Ia kini sebatang kara, ia sangat kehilangan orang yang dicntainya, ibunya yang belum genap setahun menimang dan memeluknya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Ia kini seorang yatim piatu.
Terasa oleh Muhammad hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari ia mendengar dari ibundanya cerita tentang ayahnya, keluhan duka ibundanya ketika ayahnya meninggal dunia disaat Muhammad masih berada didalam kandungan. Kini ia melihat sendiri ibundanya-pun pergi untuk tidak kembali lagi, sama seperti ayahnya dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim piatu.
Sejak kematian ibundanya Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya dan juga sangat dicintainya, Abdul Muttalib. Hari-harinya dihabiskan dengan bermain dengan sang kakek. Tidak lebih dari tiga tahun Muhammad menikmati indahnya hidup bersama sang kakeknya itu. Ketika Muhammad berusia delapan tahun, sekali lagi dia harus mengalami kesedihan mendalam dengan meninggalnya sang kakek. Sang kakek dipanggil Yang Maha Kuasa saat usianya mencapai delapan puluh tahun. Begitu sedihnya Muhammad, sehingga ia menangis di sepanjang jalan ketika mengantarkan keranda jenazah kakeknya sampai ketempat peraduan terakhirnya.

Saturday, June 9, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 1



Abdul Muttalib (kakek nabi) dan Abdullah (ayah nabi) mengunjungi keluarga Wahab bin Abd Manaf bin Zuhra, pemimpin suku Zuhra yang terhormat. Maksud kedatangannya adalah untuk melamar seorang gadis bernama Aminah untuk dikawinkan dengan Abdullah yang kala itu berusia 24 thn.
Sesuai adat istiadat, setelah menikah, Abdullah dan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesudah itu mereka pindah ke keluarga Abdul Muttalib di Mekah.
Suatu ketika disaat Aminah sedang hamil (mengandung bayi Muhammad), Abdullah pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria untuk waktu beberapa bulan lamanya. Dalam perjalanan pulang ke Mekah Abdullah singgah ke tempat saudara ibunya di Madinah untuk sekedar beristirahat sesudah merasa letih selama perjalanan. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit dan kawan-kawan seperjalanannya pun pulang lebih dulu. Singkat cerita, Abdullah menderita sakit yang serius sehinggal meninggal dunia dan di makamkan di Madinah. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul Muttalib dan Aminah, karena ia kehilangan seorang anak/suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya.
Waktu terus berjalan dan sampai suatu saat hati Abdul Muttalib sangatlah gembiranya ketika mendengar berita bahwa Aminah telah melahirkan seorang bayi laki-laki, karena ia telah mendapatkan pengganti anaknya yang sudah tidak ada itu. Oleh Abdul Muttalib bayi itu diberi nama Muhammad. Nama yang tidak umum di kalangan Arab ketika itu.
Sebagaimana tradisi kaum bangsawan arab di Mekah bahwa seorang bayi harus dirawat dan disusukan oleh tenaga profesional dari desa lain di daerah terpencil, yang maksudnya untuk menghindari akibat buruk udara kota dan lingkungan yang kurang baik. Tinggal di pedalaman dengan udara yang jernih dan bebas tidak terikat oleh ikatan materi. Dan sesuai adat kebiasaan pula bahwa seorang anak baru akan dikembalikan kepada ibu kandungnya setelah berusia delapan sampai sepuluh tahun.
Suatu ketika datanglah kekota Mekah wanita-wanita keturunan keluarga Sa'd untuk mencari bayi-bayi yang akan diserahkan oleh ibu kandungnya untuk dirawat dan disusui. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan, akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim karena mereka tentuya mengharapkan bayaran yang cukup baik atas pekerjaannya itu. Tapi berkat pertolongan Allah ternyata ada seorang wanita yang bersedia menerima bayi Muhammad. Wanita itu adalah Halimah.
Ternyata kemudian, Halimah bercerita bahwa sejak diambilnya bayi Muhammad itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya-pun bertambah. Allah telah memberkahi semua yang ada padanya.
Dua tahun lamanya Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima, putrinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman menyebabkannya cepat sekali menjadi besar dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa Muhammad kepada ibunya untuk diperlihatkan. Sesudah itu Halimah membawanya kembali ke pedalaman. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga dikuatirkan karena saat itu sedang ada wabah penyakit di Mekah. Dua tahun lagi Muhammad tinggal di pedalaman dan ketika dia berusia sekitar empat tahun ia dikembalikan kepangkuan ibu kandungnya.
Insya Allah, Bersambung

Monday, June 4, 2012

40. Al-Muqit - Maha Pemberi Keperluan



40. "Ya Muqiit!" Sekiranya kita berada di dalam kelaparan seperti ketika sesat di dalam hutan atau di mana sahaja sehingga sukar untuk mendapatkan bekalan makanan, maka perbanyakkan zikir ini. InsyaAllah badan kita akan menjadi kuat & segar kerana rasa lapar akan hilang.
AL MUQI ITU           Ertinya Yang menjadikan makanan.
KHASIATNYA:         Untuk melepaskan rasa haus dan lapar dibaca selama terkena penderitaan itu (bacalah sebanyak-banyaknya) Insyaallah akan sembuh.

39. Al-Hafiz - Maha Pelindung



39. "Ya Hafiiz!" dizikir sebanyak 99 x, InsyaAllah diri kita akan terlindung dari gangguan binatang buas terutamanya apabila kita berada di dalam hutan.
AL HAFIIZHU        Ertinya Yang Maha Memelihara.
KHASIATNYA:        Untuk menjaga keselamatan diri dari binatang buas atau dari hantu malam, dibaca sebanyak 99 kali pasti akan diselamatkan dan terhindar daripada segala gangguan tersebut diatas.

Sunday, May 27, 2012

38. Al-Kabir - Maha Besar



38. "Ya Kabiir!" Bagi seseorang yang kedudukannya telah dirampas atau dilucut gara-gara sesuatu fitnah, maka bacalah zikir ini sebanyak 1,000 x selama 7 hari berturut-turut dalam keadaan suci sebagai pengaduan kepada Allah. Lakukanlah sesudah solat malam (tahajud atau hajat).
AL KABIIRU            Ertinya Yang Maha Besar.
KHASIATNYA:         Apabila dibaca dalam masa 7 hari sesudah melakukan sembahyang hajat sebanyak 1000 kali setiap malam, Insyaallah akan dikembalikan lagi jabatannya, pekerjaannya selama bukan dipecat kerana kecurangan atau kerana makan hasil rasuah dan lain-lain.

37. Al-^Aliyy - Maha Tinggi Martabat-Nya




37. "Ya 'Aliy!" Untuk mencerdaskan otak anak kita yang bebal, tulislah zikir ini sebanyak 110 x (** di dalam bahasa Arab bukan Bahasa Malaysia!!) lalu direndam pada air yang dingin & diberikan si anak meminumnya, InsyaAllah lama kelamaan otak si anak itu akan berubah cemerlang & tidak dungu lagi. InsyaAllah mujarab.
AL'ALIYYU               Ertinya Yang Maha Tinggi Martabatnya.
KHASIATNYA:         Apabila ditulis pada kertas dan direndamkan pada segelas air (tulisannya sebanyak 110 kali) kemudian airnya diminumkan kepada anak kecil, Insyaallah dia akan menjadi anak yang cerdas dan pandai.


Saturday, May 12, 2012

36. Ash-Shakur - Maha Pengampun



36. "Ya Syakuur!" dizikirkan sebanyak 40 x sehabis solat hajat, sebagai pengucapan terima kasih kepada Allah, InsyaAllah semua hajat kita akan dimakbulkan Allah. Lakukanlah setiap kali kita mempunyai hajat yang penting & terdesak.
ASY SYAKUURU     Ertinya Yang Sangat Syukur.
KHASIATNYA:         Apabila menuliskan sebanyak 40 kali oleh orang yang sesak nafas atau penat badan atau dhaif mata dan dihapuskannya dengan iri dan sapukan iri itu kepada badannya atau matanya dan diminumkan, Insyaallah akan mendapat berkat.

Saturday, May 5, 2012

35. Al-Ghafur - Maha Pengampun


35. "Ya Ghafuur!" bagi orang yang bertaubat, hendaklah memperbanyakkan zikir ini dengan mengakui dosa-dosa & beriktikad untuk tidak mengulanginya, InsyaAllah akan diterima taubatnya oleh Allah.
AL GHAFUURU      Ertinya Maha Pengampun.
KHASIATNYA:         Barangsiapa menuliskan atas orang yang sakit demam bacalah sebanyak 3 kali, Insyaallah akan segera sembuhlah ia.