Internet collection of The Might of Allah and The world's greatest leader of the century, Nabi Muhamad s.a.w
Saturday, December 7, 2013
Saturday, November 23, 2013
Saturday, October 5, 2013
Monday, September 16, 2013
Friday, July 26, 2013
Saturday, May 11, 2013
Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 19
Kaum Quraisy dulunya bersatu. Namun, sekarang Mekah menjadi sebuah kota dengan dua agama dan dua komunitas. Umar melihat bahwa penyebab keonaran ini hanya satu. Lenyapkan yang menjadi penyebabnya, maka segala sesuatu akan kembali seperti semula. Bulat sudah tekah Umar untuk membunuh Muhammad yang dianggapnya sebagai biang keladi dari semua persoalan ini. Dalam suasana marah membara pergilah ia menghampiri Muhammad.
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. "Umar, engkau telah menipu diri sendiri. Lebih baik engkau pulang dan perbaiki keluargamu sendiri. "Ada apa dengan keluargaku? Kata Umar. "Saudara iparmu, Said dan saudara perempuanmu, Fathimah," kata Nu'aim. "Mereka berdua pengikut agama Muhammad. Jika engkau membiarkan mereka demikian, maka mertabatmu bisa jatuh." Tanpa sepatah katapun, Umar kembali dan langsung menuju rumah saudaranya itu. Disana, Ia mendengar suara saudaranya itu sedang membaca al-Quran. Umar meminta lembaran al-Quran itu, kemudian Fathimah menyerahkan kepadanya lembaran al-Quran yang dibuka dengan kata-kata: Ta-Ha. Dan Umar pun membacanya, setelah selesai membaca lembaran itu ia berkata "Betapa indah dan agungnya kata-kata ini!" Dimana sekarang Muhammad berada? Aku ingin bertemu dengan dia dan aku akan masuk Islam! Umar berkata disertai dengan wajah sumringah, berbeda 180 derajat dengan keadaannya saat kedatangannya kesitu.
Umarpun menjumpai Nabi yang sedang berada di rumah Arqam bersama dengan beberapa sahabatnya. Sesampainya disana ia disambut oleh Nabi. Nabi berkata kepada Umar, " Apa maksud kedatanganmu ke sini, hai putra Khattab? "Wahai Rasulullah," kata Umar, "Aku datang kepadamu untuk menyatakan keimananku kepada Allah, dan kepada Rasul-Nya serta segala yang datang dari-Nya," "Allahu Akbar (Allah Maha Besar)," seru Nabi, mendengar ucapan tersebut. Semua yang hadir di rumah itu tahu bahwa Umar telah masuk Islam. Merekapun semua gembira.
Umar tidak menyembunyikan keislamannya. Ia berkata, "Ketika aku memeluk Islam malam itu, aku berpikir, siapa penduduk Mekah yang paling kejam memusuhi Rasulullah? Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku telah menjadi Muslim! Jawabanku adalah Abu Jahl. Maka keesokkan paginya aku pergi dan mengetuk pintunya. Abu Jahl keluar dan berkata, 'Selamat datang putera saudaraku! Apa maksud kedatanganmu? Aku menjawab, 'Aku datang untuk memberi tahukan bahwa aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad.' 'Tuhan melaknatmu!' katanya, kemudian ia membanting pintunya dihadapanku. "
Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum muslimin telah mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat, yang menyebabkan kedudukan kaum muslimin terhadap Quraisy sudah tidak seperti dulu lagi.
Islamnya Umar telah membawa kelemahan ke dalam tubuh Quraisy karena ia masuk Islam dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentangnya dahulu. Ia masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di hadapan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka yang menentangnya. Ia tidak rela jika kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dalam melakukan ibadahnya.
Quraisy lalu membuat rencana berikutnya. Jalan terbaik adalah melakukan pemboikotan terhadap seluruh Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib; untuk tidak saling kawin-mengawinkan, tidak saling berjual-beli apapun. Piagam pemboikotan ini kemudian digantungkan di dalam Ka'bah sebagai suatu pengukuhan. Menurut perkiraan Quraisy, pemboikotan begini akan memberi hasil yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan penyiksaan, sekalipun kekerasan dan penyiksaan itu tetap mereka lakukan. Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum Muslimin sudah berjalan selama tiga tahun, dengan harapan Muhammad akan di tinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, sehingga dia dan ajarannya itu tidak lagi berbahaya bagi mereka.
Ternyata Muhammad dan keluarganya malah makin teguh berpegang pada tuntunan Allah, Bahkan dakwah Islam semakin meluas tersiar sampai keluar perbatasan Mekah, berkumandang gemanya ke seluruh jazirah Arab.
Dokumen pemboikotan yang tertempel di dinding Ka'bah ternyata kemudian semuanya telah dimakan rayap kecuali kalimat pembuka "Dengan nama-Mu, Ya Allah." Mayoritas orang Quraisy nyata-nyata menyerah. Abu Jahl dan para pengikutnya sadar bahwa akan sia-sia untuk bertahan. Dan pemboikotan itu secara formal telah dibatalkan.
Setelah pemboikotan dihapuskan, kehidupan kembali normal. Untuk sementara waktu, kekejaman terhadap kaum muslimin berkurang. Keadaan seperti ini tersiar sampai ke Abisinia, sehingga beberapa pengungsi bersiap kembali ke Mekah. Sementara yang lainnya, Ja'far, memilih tetap tinggal di Abisinia.
Tidak putus harapan, selanjutnya pemuka Quraisy membujuk Nabi agar menyetujui sebuah kompromi agar menjalankan kedua agama. Nabi terbebas dari kesulitan untuk merumuskan penolakannya dengan adanya jawaban seketika yang turun dari "langit" berupa wahyu yang tertuang dalam Surah Al-Kafirun yang terkenal itu (Qs.109:1-6) :
Katakanlah: Hai orang-orang kafir
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku
Qul yaa ayyuhal kafiruun
Laa a'budu maa ta'buduun
Wa laa antum 'aabiduna maa a'bud
Wa laa ana 'abiduuma maa 'abattum
Wa laa antum 'aabiduuna maa a'bud
Lakum diinukum wa liyadiin
Monday, April 15, 2013
Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 18
Inilah migrasi (hijrah) pertama dalam Islam, karena kaum muslimin sudah tidak tahan lagi dengan penindasan yang dilakukan oleh kaum Quraisy Mekah..
Gangguan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Muhammad kemudian menyarankan supaya mereka berhijrah ke Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. "Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang di aniaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua." akhirnya kaum muslimin berangkat secara rahasia dan dilakukan per kelompok kecil sehingga tidak diketahui oleh Quraisy. Mereka semuanya berjumlah sekitar 80 orang. Puteri Nabi, Ruqayyah (isteri Ustman bin Afan) juga termasuk dalam rombongan tersebut. Kehadirannya menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat di pengasingan itu. Dan Nabi memilih Ja'far untuk menjadi pemimpin bagi masyarakat di pengasingan itu
Quraisy tidak membiarkan mereka tenang menetap disana. Quraisy menyiapkan seuatu rencana dengan menyogok semua jenderal Negus, seraya mengatakan, "Beberapa pria dan wanita bodoh dari kaum kami telah melarikan diri ke kerajaan ini. Mereka telah meninggalkan agama mereka sendiri bukan untuk memeluk agama anda, melainkan untuk agama yang mereka ciptakan. Kami diutus kepada raja anda agar beliau berkenan memulangkan mereka." Para jenderal yang telah disogok itu membujuk raja Negus agar memulangkan kaum muslimin itu kembali ke negaranya. Namun, Negus tidak berkenan, "Tidak! Demi Tuhan, mereka tidak boleh dihianati - mereka telah meminta suaka perlindunganku dan menjadikan negeriku sebagai tempat tinggal, serta telah memilihku dari yang lainnya!
Negus berkata kepada rombongan muslimin, "Agama apa gerangan yang menyebabkan kalian berpisah dari kaum kalian?" Ja'far menjawab, "Paduka Raja! Dulu, kami masyarakat bodoh, menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala kejahatan kami lakukan, yang kuat menindas yang lemah. Begitulah kami, sampai Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami, seseorang yang kami ketahui garis keturunannya, juga kejujuran, integritas dan penghargaannya terhadap kebenaran. Ia mengajak kami kepada Allah, bersaksi akan keesaan-Nya. Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, memenuhi janji, menghormati hak-hak orang lain. Ia melarang kami melakukan kejahatan dan pertumpahan darah. Karena alasan ini, kaum kami menentang dan menyiksa kami agar murtad dari agama kami, serta kembali menyembah berhala. Karena itu pulalah, kami datang ke negeri Tuan, memilih anda dari yang lain. Dan, kami puas dengan perlindungan anda. Harapan kami, wahai Raja, disini bersama anda, kami tidak akan diperlakukan sewenang-wenang. "
Negus kemudian bertanya apakah ada wahyu Ilahi yang dibawa Nabi mereka.. Ketika Ja'far mengiyakan, Negus berkata, "Bacakanlah kepadaku!" Segera Ja'far membacakan sebagian dari surah Maryam yang baru diturunkan tidak lama sebelum keberangkatan mereka :
Jibril berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk
memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Maryam berkata: " Bagaimana akan ada
bagiku seorang anak, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku
bukan pula seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah Tuhanmu berfirman: "Hal itu
mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan
sebagai rahmat dari Kami."
Negus menangis, begitu pula para pendetanya, saat mereka mendengar ayat itu dibacakan. Negus berkata, "Ini benar-benar berasal dari sumber yang sama seperti yang dibawa oleh Yesus." Kemudian ia berkata kepada para utusan Quraisy, "Engkau boleh pergi! Karena demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu; mereka tidak boleh dikhianati."
Ketika utusan itu kembali ke Mekah dan melaporkan kegagalan misi mereka itu, pihak Quraisy merasa cemas dan jengkal. Mereka segera meningkatkan tekanan dan siksaan terhadap kaum mukmin, di bawah arahan Abu Jahl dan keponakannya Umar, orang yang paling keras dan paling patuh menjalankan instruksinya. Saat itu Umar berusai 26 tahun, pemuda keras kepala, tidak mudah gentar dan sangat tegas.
Ekspresi kemurkaan yang tampak diwajah Umar membuat Nu'aym, yang telah memeluk Islam secara diam-diam, bertanya kemana Umar hendak pergi, "Aku akan menemui Muhammad, membalas dendam karena dia telah memecah belah Quraisy menjadi dua golongan, dan aku akan membunuhnya, " kata Umar.
Friday, March 29, 2013
Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 17
Salah seorang musuh Islam terbesar adalah Abu al-Hakam yang dijuluki oleh kaum muslim sebagai Abu Jahl, "Bapak Kebodohan." karena dialah penyiksa yang paling kejam Jika pemeluk Islam itu memiliki keluarga yang berkuasa untuk melindunginya, Abu Jahl hanya akan menghinanya, berjanji akan menjatuhkan reputasinya dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Namun jika ia adalah pedagang, maka Abu Jahl mengancam akan menghentikan perdagangannya dengan mengatur pemboikotan masal terhadap barang dagangannya sampai ia bangkrut. Jika ia orang yang lemah, tidak mempunyai pelindung, maka Abu Jahl akan menindasnya. Ia menjadikan dirinya sebagai orang yang ditakuti, dialah yang paling keras membuat tuduhan kepada Nabi sebagai tukang sihir yang berbahaya. Melalui dialah warga kabilahnya menyiksa 3 orang : Yasir, Summayyah dan anak mereka Ammar, hingga Summayyah akhirnya meninggal dunia.
Hamzah, paman Nabi, adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Pada suatu hari, ketika mengetahui kemenakannya itu mendapat gangguan, hinaan dan cercaan Abu Jahl, ia meluap marah. Ia pergi mencari Abu Jahl. Setelah dijumpainya, diangkatnya busur panah yang dibawanya lalu dipukulkan keras-keras ke kepala Abu Jahl. "Kini aku memeluk agamanya dan mendakwahkan apa yang ia dakwahkan! Akankah engkau menghinanya? Jika engkau mau, mari kita bertarung satu lawan satu! Abu Jahl bukannya tidak berani, namun ia merasa peristiwa tersebut lebih baik diakhiri. Oleh karena itu, ketika beberapa kerabatnya berdiri untuk membelanya, ia menyuruh mereka duduk. "Biarlah, karena demi Tuhan, aku telah menghina keponakannya dengan hinaan yang menyakitkan. "
Sejak itu, Hamzah dengan penuh keyakinan mempertahankan keislamannya dan mengikuti semua ajaran Nabi. Perpindahannya ke Islam membuat kaum Quraisy kini semakin ragu-ragu untuk mengganggu Nabi secara terbuka, karena Hamzah pasti melindunginya. Oleh karena itu mereka kemudian mengubah taktik dengan cara menawarkan sesuatu yang mungkin mau diterima Muhammad.
Maka, diurtuslah Utbah untuk menemui Muhammad. "Putera saudaraku," kata Utbah, "Engkau membawa masalah besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai berai karenanya. Sekarang dengarkanlah kami. Kami menawarkan, kalau dalam hal ini yang kau inginkan harta, kami siap mengumpulkan harta kami dan menyerahkannya kepadamu, sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak diantara kami. Kalau kau menghendaki kedudukan, kami angkat engkau di atas kami semua; kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau kau ingin menjadi raja, kami nobatkan engkau sebagai raja kami.
Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (32=Ha Mim). Utba terdiam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu. dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah seorang laki-laki yang di dorong oleh ambisi harta, kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang yang sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik, dengan kata-kata penuh mukjizat.
Selesai membacakan itu Utba pergi kembali kepada Quraisy. Apa yang dilihat dan didengarnya itu sangat mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangatlah menarik hati. Persoalannya Utba ini tidak menyenagkan Quraisy, juga pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak menggembirakan mereka. Maka kembali lagilah mereka memusuhi Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Sunday, March 17, 2013
Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 16
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy lainnya tidaklah dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Mekah. Setiap hari niscaya ada saja orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang tidak terpesona oleh pengaruh dunia. Mereka sudah melihat Muhammad yang berkecukupan, baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri, namun dia tidak mabuk dengan harta tersebut. Ia mengajak orang hidup dalam kasih sayang dengan lemah lembut, dalam kemesraan dan lapang dada saling bertoleransi. Bahkan dia menerima wahyu yang menyebutkan bahwa menumpuk-numpuk harta adalah suatu kutukan terhadap jiwa (QS.102)
Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy lainnya, mulai merasakan bahwa ajaran Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Mereka mulai menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya dan mendustakan segala apa yang dinamakan kenabian itu. Sementara itu pula beberapa orang meminta Muhammad membuktikan kerasulannya dengan menunjukkan mukjizat seperti pada Musa dan Isa.
Debat mereka berkepanjangan. Tetapi wahyu yang datang menjawab debat mereka :
"Katakanlah: 'Aku tak berkuasa membawa kebaikan atau menolak bahaya untuk diriku
sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
niscaya kuperbanyak kebaikan itu dan bahayapun tidak akan menyentuhku. Tapi aku
tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi mereka yang
beriman."
Ya. Muhamad hanya mengingatkan dan membawa berita gembira. Bagaimana pula mereka masih menuntutnya dengan beberapa mukjizat, padahal kitab yang diwahyukan kepadanya itu dan yang menunjukan jalan yang benar (al-Quran) adalah mukjizat dari segala mukjizat. Kenapa mereka masih menuntut supaya kerasulannya itu diperkuat lagi dengan keanehan-keanehan yang tidak masuk akal, yang sesudah itu nanti mereka pun akan ragu-ragu lagi. Dan ini, yang mereka katakan sebagai tuhan-tuhan mereka itu, tidak lebih adalah benda mati, batu atau kayu yang disangga atau berhala yang tegak ditengah pasir, yang tidak dapat membawa kebaikan ataupun menolak bahaya. Sungguhpun begitu mereka menyembahnya juga, tanpa menuntut pembuktian sifat-sifat ketuhanannya.
Muhammad pun sudah terang-terangan menyebut Hubal, Lat, 'Uzza, dewa-dewa, berhala-berhala yang mereka sembah adalah sesuatu yang tak berguna, sehingga hal itu menjadi soal besar bagi Quraisy dan dirasakan menusuk hati mereka.
Abu Talib pamannya belum lagi menganut Islam. tetapi tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy pergi menemui Abu Talib, memintanya agar dia menghentikan kegiatan dakwah Muhammad.
Namun Rasullullah tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Quraisy. Lebih baik mati ia membawa iman kebenaran yang telah diwahyukan kepadanya daripada menyerah atau ragu-ragu. Karena itu dengan jiwa yang penuh kekuatan, ia berkata kepada Abu Talib :
"Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini,
sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kebenaran
itu: ditanganku, atau aku binasa karenanya."
Ya, demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu! Gemetar orang tua ini mendengar jawaban Muhammad, tertegun ia. Ternyata ia berdiri di hadapan tenaga kudus dan kemauan yang begitu tinggi, diatas segala kemampuan tenaga hidup yang ada
Sunday, March 10, 2013
Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 15
Abu Bakar adalah teman akrab Muhammad. Ia orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya, sehingga dikemudian hari dia diberi julukan "As Siddiq" (yang membenarkan) .
Diluar lingkup keluarganya Abubakar adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.. Dia juga laki-laki pertama tempat Muhammad membukakan isi hatinya akan segala yang dilihat serta wahyu yang diterima. Abubakar tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad. Jiwa yang mana lagi yang memang mendambakan kebenaran hakiki masih ragu-ragu meninggalkan penyembahan berhala untuk kemudian menyembah Allah Yang Maha Esa
Dari kalangan masyarakat yang dipercaya oleh Abubakar diajaknya mereka kepada Islam. Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talha bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin al-Awwam mengikutinya pula masuk Islam.. Disusul oleh Abu Ubaida bin al-Jarrah, dan banyak lagi yang lainnya.
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisme (penyembahan berhala), maka kaum Muslimin masih sembunyi-sembunyi dalam melaksanakan ibadahnya. Apabila mereka akan melakukan shalat, mereka pergi kecelah-celah gunung. Keadaan serupa ini berjalan selama 3 tahun, sementara Islam tambah meluas di kalangan penduduk Mekah. Wahyu yang datang kepada Muhammad semakin memperkuat iman kaum Muslimin.
Yang menambah berkembangnya dakwah Islam sebenarnya karena teladan yang diberikan Muhammad sangat baik sekali, ia penuh bakti dan penuh kasih sayang, sangat rendah hati dan penuh kejantanan, tutur katanya lemah lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya terhadap orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah lembut dan mesra. Malam hari bertahajud, membaca wahyu yang disampaikan kepadanya, renungannya selalu tentang alam semesta, mencari pertanda dari segenap wujud ini, permohonannya selalu dihadapkan hanya kepada Allah.
Islam belum didakwahkan secara terbuka. Namun, jumlah orang mukmin dan para ahli ibadah kian meningkat, baik lelaki maupun perempuan. Mayoritas mereka adalah kaum muda. Namun, tidak ada satu pun dari keempat paman Nabi yang menunjukkan keinginan untuk mengikutinya. Abu Thalib tidak keberatan atas keislaman kedua puteranya, Ja'far dan Ali, namun ia sendiri tidak siap untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Abbas menghindar; Hamzah tidak dapat dimengerti, meskipun keduanya menjamin akan tetap mengasihi Nabi secara peribadi. Abu Lahab secara terbuka menuduh keponakannya itu sebagai orang tertipu, kalau bukan penipu.
Setelah turunnya ayat, "Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS.26:214), Nabi pun mengundang makan keluarga dekatnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Lahab, pamannya, lalu menyetop pembicaraan itu. Keesokan harinya, sekali lagi Muhammad mengundang mereka. Selesai makan, katanya kepada mereka: "Aku yakin tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada kaumnya dengan ajaran yang lebih mulia dari yang kubawa. Aku membawakan kepada kalian yang terbaik di dunia ini dan di akhirat nanti. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian kepada-Nya. Siapa diantara kalian yang akan membantuku dan menjadi saudaraku, pelaksanaku, dan penggantiku diantara kalian?" Mereka semua menolak, dan sudah siap-siap akan meninggalkannya. Tetapi, tiba-tiba Ali bangkit - ketika itu ia masih anak-anak, belum lagi baligh - "Rasulullah, akulah yang akan membantumu," katanya. "Aku adalah lawan dari siapa saja yang menentangmu. " Hadirin yang lain tertawa terbahak-bahak, kemudian mereka pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Sesudah itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu ketika Muhammad mengumpulkan masyarakat Quraisy untuk didakwahi tentang Islam. Namun, kemudian Abu Lahab - seorang laki-laki berbadan gemuk dan cepat naik darah - kemudian berdiri sambil meneriakkan: "Celaka kau hari ini. Untuk inikah kau kumpulkan kami?" Muhammad tidak dapat bicara. Di lihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Allah :
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa. Tak ada
gunanya harta benda dan apa yang ia usahanya itu. Kelak ia akan masuk kedalam api
yang menyala-nyala. " (QS.111:1-3) "Tabbat yadaa abi lahabiw watabb. Maa aghnaa
anhu maaluhu wa maa kasab. Sayashlaa naa raan dzata lahabb."
Tuesday, February 12, 2013
Sunday, January 6, 2013
Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 14
Ketika ditanya bagaimana wahyu datang kepadanya, Nabi menyebutkan ada dua cara. "Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi sebuah bel. Cara itulah yang terberat bagiku. Bunyi itu menghilang setelah aku memahaminya. Terkadang, malaikat menampakkan diri dalam rupa manusia. Ia berbicara kepadaku, lalu aku mengerti apa yang dikatakannya. "
Muhammad mulai memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu. Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan sanak famili yang dekat. Tetapi mereka dalam kesesatan. Sedang apa yang dianjurkan kepada mereka, itulah yang benar. Ia ingin mengajak mereka agar jiwa dan hati nurani mereka dapat lebih tinggi sehingga dapat berhubungan dengan Allah yang telah menciptakan mereka dan nenek moyang mereka. Kaum Quraisy itu, jantungnya sudah begitu keras, jiwa yang sudah begitu kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhala seperti yang dilakukan nenek moyang mereka. Inilah yang menjadi masalah besar itu.
Muhamad menantikan bimbingan wahyu untuk mengatasi masalahnya, menantikan adanya penyuluh yang menerangi jalannya. Tetapi, wahyu itu sekarang terputus. Jibrilpun tidak datang lagi kepadanya. Tempat disekitarnya menjadi sunyi, bisu. Ia merasa terasing dari orang, dan dari dirinya sendiri.
Sementara ia sedang dalam kekuatiran, merasa Tuhan telah meninggalkannya - sesudah sekian lama wahyu terhenti - tiba-tiba datang wahyu membawa firman Tuhan :
"Demi pagi yang cerah dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak
meninggalkanmu dan pula tidak benci kepadamu. Dan sungguh hari kemudian itu lebih
baik bagimu daripada yang sekarang. Kelak Tuhanmu akan memberikan karunia-Nya
kepadamu, lalu hatimu mejadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu
Dia memberikan petunjuk. Dan mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku
sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu
menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-
nyebutnya dengan bersyukur (QS.93).
Itulah surat Adh Dhuhaa yang merupakan surat penghibur bagi Muhammad.
Nabi kini mulai berbicara tentang malaikat dan wahyu kepada orang-orang yang, sesudah isterinya, paling dekat dan paling akrab dengannya. Hanya saja beliau meminta mereka merahasiakannya. Namun, situasi itu tidak berlangsung lama. Suatu hari Jibril datang kepadanya di dataran tinggi kota Mekah. Jibril menendang dinding bukit dengan tumitnya hinga memancarkan mata air. Kemudian Jibril berwudhu untuk mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri untuk beribadah. Nabipun mengikutinya. Lalu, Jbril menunjukkan tata cara shalat: berdiri, rukuk, sujud dan duduk, dengan mengulangi takbir, yaitu ucapan 'Allahhu Akbar' (Allah Maha Besar) dan salam terakhir 'as-salamu'alaikum' (keselamatan atasmu). Nabi pun mengikuti. Setelah memahami semua itu kemudian Nabi mengajarkan kepada Khadijah dan mereka pun shalat bersama.
Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang shalat, tiba-tiba Ali menyeruak masuk. Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan sujud serta membaca beberapa ayat Quran. Ali tertegun berdiri : "Kepada siapa kalian sujud?" tanyanya setelah shalat selesai. "Kami sujud kepada Allah," jawab Muhammad. "Yang mengutusku menjadi Nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah."
Lalu Muhammad mengajak sepupunya itu beribadah kepada Allah dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan Uzza. Muhammad kemudian membacakan beberapa ayat Quran. Ali sangat terpesona dengan keindahan ayat-ayat Quran itu.
Ali adalah anak pertama yang menerima Islam, kemudian Zaid bin Haritsa, bekas budak Muhammad yang kemudian menjadi anak angkatnya. Dengan demikian Islam masih terbatas hanya dalam lingkungan keluarga Muhammad.
Subscribe to:
Posts (Atom)











