Sunday, January 6, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 14




IBADAH
Ketika ditanya bagaimana wahyu datang kepadanya, Nabi menyebutkan ada dua cara. "Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi sebuah bel. Cara itulah yang terberat bagiku. Bunyi itu menghilang setelah aku memahaminya. Terkadang, malaikat menampakkan diri dalam rupa manusia. Ia berbicara kepadaku, lalu aku mengerti apa yang dikatakannya. "
Muhammad mulai memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu. Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan sanak famili yang dekat. Tetapi mereka dalam kesesatan. Sedang apa yang dianjurkan kepada mereka, itulah yang benar. Ia ingin mengajak mereka agar jiwa dan hati nurani mereka dapat lebih tinggi sehingga dapat berhubungan dengan Allah yang telah menciptakan mereka dan nenek moyang mereka. Kaum Quraisy itu, jantungnya sudah begitu keras, jiwa yang sudah begitu kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhala seperti yang dilakukan nenek moyang mereka. Inilah yang menjadi masalah besar itu.
Muhamad menantikan bimbingan wahyu untuk mengatasi masalahnya, menantikan adanya penyuluh yang menerangi jalannya. Tetapi, wahyu itu sekarang terputus. Jibrilpun tidak datang lagi kepadanya. Tempat disekitarnya menjadi sunyi, bisu. Ia merasa terasing dari orang, dan dari dirinya sendiri.
Sementara ia sedang dalam kekuatiran, merasa Tuhan telah meninggalkannya - sesudah sekian lama wahyu terhenti - tiba-tiba datang wahyu membawa firman Tuhan :
  "Demi pagi yang cerah dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak 
  meninggalkanmu dan pula tidak benci kepadamu. Dan sungguh hari kemudian itu lebih
  baik bagimu daripada yang sekarang. Kelak Tuhanmu akan memberikan karunia-Nya
  kepadamu, lalu hatimu mejadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
  yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu
  Dia memberikan petunjuk. Dan mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
  memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku
  sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu
  menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-
  nyebutnya dengan bersyukur (QS.93).
Itulah surat Adh Dhuhaa yang merupakan surat penghibur bagi Muhammad.
Nabi kini mulai berbicara tentang malaikat dan wahyu kepada orang-orang yang, sesudah isterinya, paling dekat dan paling akrab dengannya. Hanya saja beliau meminta mereka merahasiakannya. Namun, situasi itu tidak berlangsung lama. Suatu hari Jibril datang kepadanya di dataran tinggi kota Mekah. Jibril menendang dinding bukit dengan tumitnya hinga memancarkan mata air. Kemudian Jibril berwudhu untuk mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri untuk beribadah. Nabipun mengikutinya. Lalu, Jbril menunjukkan tata cara shalat: berdiri, rukuk, sujud dan duduk, dengan mengulangi takbir, yaitu ucapan 'Allahhu Akbar' (Allah Maha Besar) dan salam terakhir 'as-salamu'alaikum' (keselamatan atasmu). Nabi pun mengikuti. Setelah memahami semua itu kemudian Nabi mengajarkan kepada Khadijah dan mereka pun shalat bersama.
Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang shalat, tiba-tiba Ali menyeruak masuk. Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan sujud serta membaca beberapa ayat Quran. Ali tertegun berdiri : "Kepada siapa kalian sujud?" tanyanya setelah shalat selesai. "Kami sujud kepada Allah," jawab Muhammad. "Yang mengutusku menjadi Nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah."
Lalu Muhammad mengajak sepupunya itu beribadah kepada Allah dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan Uzza. Muhammad kemudian membacakan beberapa ayat Quran. Ali sangat terpesona dengan keindahan ayat-ayat Quran itu.
Ali adalah anak pertama yang menerima Islam, kemudian Zaid bin Haritsa, bekas budak Muhammad yang kemudian menjadi anak angkatnya. Dengan demikian Islam masih terbatas hanya dalam lingkungan keluarga Muhammad.

No comments:

Post a Comment