Abdul Mutalib menuntun puteranya Abdullah menuju tempat pengorbanan, seolah-olah tak mau berpikir panjang lagi. Dia tidak memperhitungkan pendapat istrinya, Fathimah ibu Abdullah dan juga pendapat kerabat dekat lainnya.
Beberapa saat setelah pengundian dilakukan, orang-orang telah berkumpul di halaman Ka'bah. Ketika Abdul Mutalib dan Abdullah muncul diambang pintu dengan wajah pucat pasi, terdengar suara riuh dari kaum Makhzum (keluarga besar Fathimah ibu Abdullah) setelah menyadari bahwa anak dari saudara mereka akan dikorbankan. "Untuk apa pisau itu?" tanya seseorang diantara mereka, meskipun mereka telah mengetahui jawabannya. Abdul Mutalib mulai menjelaskan nazarnya, namun segera dipotong oleh Mughirah, kepala suku Makhzum. "Jangan korbankan dia, kita akan mencari gantinya, walaupun penggantinya adalah seluruh kekayaan Makhzum." Pada saat itu saudara-saudara Abdullah sudah keluar dari Ka'bah. Tadinya tak seorangpun dari mereka angkat bicara, namun kini mereka memohon kepada ayahnya agar Abdullah dibiarkan hidup dan diganti dengan persembahan lain. Tak seorangpun dari orang yang hadir disitu yang berbeda pendapat dan Abdul Mutalib terus dibujuk agar membiarkan anaknya hidup, tapi ia masih ragu. Akhirnya ia setuju untuk mengkonsultasikan masalah ini kepada seorang wanita bijak di Yatsrib (Madinah) agar dapat memberikan saran apakah persembahan lain dapat menggantikan puteranya.
Bersama Abdullah dan dua putera lainnya, Abdul Mutalib pergi ke negeri kelahirannya itu untuk menemui wanita bijak itu. Pada saat berjumpa dengannya, wanita itu bertanya, Binatang apa yang kalian pelihara?" Mereka menjawab bahwa ada sepuluh ekor unta. "Kembalilah kekotamu," pesannya, "dan tempatkanlah anak lelakimu dan sepuluh ekor unta itu secara berdampingan, lalu undilah mereka. Jika anak panah terjatuh di depan anak lelakimu, tambahkan sepuluh unta lagi dan undi kembali; begitu seterusnya hingga Tuhan menerima unta-unta itu dan anak panahnya jatuh ke arah mereka. Dan, korbankanlah unta-unta itu, sementara biarkanlah anakmu hidup."
Maka bergegaslah mereka kembali ke Mekah dan dengan khikmat membawa Abdullah dan sepuluh unta ke halaman Ka'bah dan pengundianpun dilakukan. Pada undian pertama anak panah terjatuh di depan Abdullah, maka sepuluh ekor unta lagi ditambahkan, dan pengundian kembali dilakukan, namun demikian seterusnya hingga setelah mencapai seratus ekor unta, barulah anak panah itu jatuh didepan unta-unta itu. Kendati demikian, Abdul Mutalib adalah orang yang sangat berhati-hati, baginya sebuah anak panah belum cukup membuktikan untuk mengambil keputusan penting. Karena itu, ia meminta mereka mengulang pengundian hingga tiga kali pelepasan anak panah. Dan, ternyata anak panah tetap jatuh di depan unta-unta itu. Hal inilah yang meyakinkan Abdul Mutalib bahwa Tuhan telah menerima penebusannya, dan unta-unta itu pun disembelih sebagai kurban.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa Tuhan sungguh tidak kejam, Dia mengutuk manusia yang membunuh manusia lainnya tanpa alasan yang dibenarkan. Dialah Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Kisah yang sama terulang dalam dalam kisah haji dimana perintah penyembelihan Ismail yang kemudian digantikan dengan seekor domba besar sebagai kurban.
Maha suci Allah yang skenarionya demikian jelas bahwa kelahiran nabi Muhammad telah dirancang sejak alam ruh (nur Muhammad), kemudian dalam kisah Abdullah yang demikian jelas menggambarkan rencana Allah atas kelahiran Nabi Akhir jaman. Dan juga nanti terbukti ketika kedua anak lelaki Rasulullah meninggal diusia anak-anak. Ulama meyakini bahwa hal ini untuk menghindarkan tradisi "pimpinan turun temurun."
Wallahu alam

