Abu Bakar adalah teman akrab Muhammad. Ia orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya, sehingga dikemudian hari dia diberi julukan "As Siddiq" (yang membenarkan) .
Diluar lingkup keluarganya Abubakar adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.. Dia juga laki-laki pertama tempat Muhammad membukakan isi hatinya akan segala yang dilihat serta wahyu yang diterima. Abubakar tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad. Jiwa yang mana lagi yang memang mendambakan kebenaran hakiki masih ragu-ragu meninggalkan penyembahan berhala untuk kemudian menyembah Allah Yang Maha Esa
Dari kalangan masyarakat yang dipercaya oleh Abubakar diajaknya mereka kepada Islam. Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talha bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin al-Awwam mengikutinya pula masuk Islam.. Disusul oleh Abu Ubaida bin al-Jarrah, dan banyak lagi yang lainnya.
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisme (penyembahan berhala), maka kaum Muslimin masih sembunyi-sembunyi dalam melaksanakan ibadahnya. Apabila mereka akan melakukan shalat, mereka pergi kecelah-celah gunung. Keadaan serupa ini berjalan selama 3 tahun, sementara Islam tambah meluas di kalangan penduduk Mekah. Wahyu yang datang kepada Muhammad semakin memperkuat iman kaum Muslimin.
Yang menambah berkembangnya dakwah Islam sebenarnya karena teladan yang diberikan Muhammad sangat baik sekali, ia penuh bakti dan penuh kasih sayang, sangat rendah hati dan penuh kejantanan, tutur katanya lemah lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya terhadap orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah lembut dan mesra. Malam hari bertahajud, membaca wahyu yang disampaikan kepadanya, renungannya selalu tentang alam semesta, mencari pertanda dari segenap wujud ini, permohonannya selalu dihadapkan hanya kepada Allah.
Islam belum didakwahkan secara terbuka. Namun, jumlah orang mukmin dan para ahli ibadah kian meningkat, baik lelaki maupun perempuan. Mayoritas mereka adalah kaum muda. Namun, tidak ada satu pun dari keempat paman Nabi yang menunjukkan keinginan untuk mengikutinya. Abu Thalib tidak keberatan atas keislaman kedua puteranya, Ja'far dan Ali, namun ia sendiri tidak siap untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Abbas menghindar; Hamzah tidak dapat dimengerti, meskipun keduanya menjamin akan tetap mengasihi Nabi secara peribadi. Abu Lahab secara terbuka menuduh keponakannya itu sebagai orang tertipu, kalau bukan penipu.
Setelah turunnya ayat, "Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS.26:214), Nabi pun mengundang makan keluarga dekatnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Lahab, pamannya, lalu menyetop pembicaraan itu. Keesokan harinya, sekali lagi Muhammad mengundang mereka. Selesai makan, katanya kepada mereka: "Aku yakin tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada kaumnya dengan ajaran yang lebih mulia dari yang kubawa. Aku membawakan kepada kalian yang terbaik di dunia ini dan di akhirat nanti. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian kepada-Nya. Siapa diantara kalian yang akan membantuku dan menjadi saudaraku, pelaksanaku, dan penggantiku diantara kalian?" Mereka semua menolak, dan sudah siap-siap akan meninggalkannya. Tetapi, tiba-tiba Ali bangkit - ketika itu ia masih anak-anak, belum lagi baligh - "Rasulullah, akulah yang akan membantumu," katanya. "Aku adalah lawan dari siapa saja yang menentangmu. " Hadirin yang lain tertawa terbahak-bahak, kemudian mereka pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Sesudah itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu ketika Muhammad mengumpulkan masyarakat Quraisy untuk didakwahi tentang Islam. Namun, kemudian Abu Lahab - seorang laki-laki berbadan gemuk dan cepat naik darah - kemudian berdiri sambil meneriakkan: "Celaka kau hari ini. Untuk inikah kau kumpulkan kami?" Muhammad tidak dapat bicara. Di lihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Allah :
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa. Tak ada
gunanya harta benda dan apa yang ia usahanya itu. Kelak ia akan masuk kedalam api
yang menyala-nyala. " (QS.111:1-3) "Tabbat yadaa abi lahabiw watabb. Maa aghnaa
anhu maaluhu wa maa kasab. Sayashlaa naa raan dzata lahabb."

No comments:
Post a Comment