PERKAWINAN PUTERI-PUTERI MUHAMMAD
Abu Thalib, sang paman yang meneruskan pengasuhan Muhammad setelah kematian kakeknya Abdul Muthalib. Abu Thalib memiliki anak lebih banyak dari yang sanggup ia nafkahi. Mereka sering kali ditimpa kelaparan. Pamannya yang terkaya adalah Abu Lahab, namun ia jauh dari keluarga. Muhammad memperhatikan hal itu dan merasa harus melakukan sesuatu. Kemudian Muhammad memutusan untuk megasuh anak Abu Thalib yang bernama Ali. Pada saat itu, Khadijah melahirkan anaknya yang terakhir, yang dinamai Abdullah. Namun, bayi itu wafat pada usia yang lebih muda dari Qasim. Bayi itu digantikan Ali yang tumbuh seperti layaknya seorang saudara lelaki bagi keempat sepupu perempuannya, kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Umm Kultsum, lebih muda dari Zaynab dan lebih tua dari Fathimah. Kelima orang ini bersama Zaid, merupakan keluarga Muhammad dan Khadijah.
Paman tertua Muhammad, Harits -yang kini telah wafat- meninggalkan beberapa anak. Salah satunya adalah Abu Sufyan. Ia juga saudara sesusuan, karena ia juga diasuh oleh Halimah beberapa tahun setelah Muhammad. Muhammad menganggap Abu Sufyan, sebagai teman dan sahabat karena usia mereka yang sebaya dan karena ikatan persaudaraan diantara mereka.
Terhadap anak-anaknya yang perempuan Muhammad sangat memberikan perhatian, dengan mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya memenuhi syarat (kufu'). Zaynab yang sulung dikawinkan dengan Abul Ash - Ibundanya masih bersaudara dengan Khadijah - seorang pemuda yang dihargai masyarakat karena kejujuran dan kesuksesannya dalam dunia perdagangan. Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah datangnya Islam - ketika Zaynab akan hijrah dari Mekah ke Madinah - mereka terpisah.
Ruqayyah dan Umm Kultsum dikawinkan dengan Utba dan Utaiba, anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri ini sesudah masuknya Islam, terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab menyuruh kedua anaknya itu menceraikan istri mereka, yang kemudian berturut-turut keduanya menjadi isteri Usman bin Affan. Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali baru terjadi sesudah datangnya Islam.
(Catatan kaki : Usman bin Affan, khalifah ketiga, mengawini Ruqayyah setelah dia diceraikan oleh Utba. Dan setelah Ruqayyah wafat dalam tahun ke-2H selanjutnya Usman mengawini Umm Kultsum)
Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu ternyata tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah, yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah bunda yang bahagia.
Oleh karena itu wajar sekali apabila Muhammad mempunyai pembawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa yang kuat dan mempunyai persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang hakiki, jiwa yang demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang hanyut dalam lembah kesesatan. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada padanya, yang dicarinya hanyalah kebenaran hakiki. Pikiran dan renungan yang berkecamuk di dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan kepada orang lain.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa. Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuth.
Di puncak Gunung Hira terletak sebuah gua yang baik sekali untuk menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadhan tiap tahun Muhammad pergi kesana dan berdiam ditempat itu, hanya dengan bekal secukupnya ia tekun dalam renungan dan ibadah, jauh dari segala kesibukan hidup dan kebisingan masyarakat perkotaan. Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran.

No comments:
Post a Comment