Selain berperan sebagai isteri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Bersama Muhammad Khadijah melahirkan 6 anak: 2 putera dan 4 puteri:
1. Putera sulungnya diberi nama Qasim, sehingga Muhammad dikenal sebagai
Abu al-Qasim, ayah Qasim. Namun Qasim meninggal sebelum berusia dua tahun
2. Berikutnya seorang puteri dinamai Zaynab, disusul dengan tiga puteri lainnya
3. Ruqayyah
4. Umm Kultsum, dan
5. Fathimah. Yang terakhir seorang putera lagi yang juga tidak berusia panjang
6. Abdullah
Kematian kedua puteranya itu sangat menyedihkan dan meninggalkan bekas yang mendalam bagi Muhammad dan Khadijah. Betapa dalamnya rasa sedih itu, pada suatu zaman yang membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan lebih dari itu. Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan tersebut, sehingga Zaid bin Haritsah, seorang budak Khadijah, dimerdekakan dan diangkatnya sebagai anak, sehingga orang waktu itu menyebutnya Zaid bin Muhammad.
Ketika Zaid sedang bepergian dengan ibunya untuk menginjungi keluarganya, Zaid diculik oleh segerombolan Bani Qayn dan kemudian dinjualnya sebagai budak. Haritsah ayahnya sudah lama mencarinya dan ketika pada suatu waktu mengetahui bahwa anaknya tersebut tinggal bersama Muhammad, maka dia bertekad untuk menjemput dan menebusnya kembali, walaupun untuk itu harus menghabiskan seluruh harta bendanya.
Ketika rombongan mereka bertemu dengan Muhammad dan menyampaikan maksudnya untuk menebus Zaid terjadilah dialog diantara mereka. "Biarkanlah ia memilih," kata Muhammad kepada Haritsah, "dan jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jia ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku." Kemudian, beliau memanggil Zaid dan berkata, "engkau sangat mengenalku, dan engkau telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, kamu pilihlah antara aku dan mereka." Zaid menetapkan pilihan dan seketika itu ia berkata, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku engkau laksana ayah dan ibu." "keterlaluan engkau Zaid!" seru Haritsah. "Apakah engkau lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah engkau lebih memilih dia daripada ayahmu, pamanmu dan keluargamu?" "Begitulah," kata Zaid, "karena aku telah menyaksikan dari dia sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapapun selainnya."
Muhammad memotong percakapan lebih lanjut. Ia mengajak mereka pergi bersamanya ke Ka'bah. Sambil berdiri di Hijr, dengan lantang ia berkata, "Wahai semua yang hadir! Saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Aku ahli warisnya dan dia ahli warisku."

No comments:
Post a Comment