Muhammad tinggal pada keluarga Sa'd sampi berusia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar bahasa Arab yang murni.
Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwa Muhammad. Demikian juga halnya dengan Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya
Sesudah lima tahun, kemudian Muhammad kembali kepada ibunya. Kakeknya Abdul Muttalib-lah yang mengasuh cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Suatu ketika ibunya (Aminah) membawa Muhammad ke Madinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudaranya dan juga diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Saat itulah pertama kali Muhammad merasakan dirinya sebagai anak yatim.
Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Madinah, Aminah sudah bersiap-siap akan pulang kembali ke Mekah. Dengan rombongannya mereka pulang menuju Mekah dengan mengendarai dua ekor unta. Tetapi ditengah perjalanan, ketika mereka sampai di suatu desa yang bernama Abwa (jaraknya 37 Km dari Madinah), ibunda Aminah menderita sakit, yang akhirnya meninggal dunia dan dikuburkan disitu juga.
Muhammad kecil dibawa pulang ke Mekah oleh rombongan kafilahnya. Ia menangis dengan hati yang pilu. Ia kini sebatang kara, ia sangat kehilangan orang yang dicntainya, ibunya yang belum genap setahun menimang dan memeluknya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Ia kini seorang yatim piatu.
Terasa oleh Muhammad hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari ia mendengar dari ibundanya cerita tentang ayahnya, keluhan duka ibundanya ketika ayahnya meninggal dunia disaat Muhammad masih berada didalam kandungan. Kini ia melihat sendiri ibundanya-pun pergi untuk tidak kembali lagi, sama seperti ayahnya dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim piatu.
Sejak kematian ibundanya Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya dan juga sangat dicintainya, Abdul Muttalib. Hari-harinya dihabiskan dengan bermain dengan sang kakek. Tidak lebih dari tiga tahun Muhammad menikmati indahnya hidup bersama sang kakeknya itu. Ketika Muhammad berusia delapan tahun, sekali lagi dia harus mengalami kesedihan mendalam dengan meninggalnya sang kakek. Sang kakek dipanggil Yang Maha Kuasa saat usianya mencapai delapan puluh tahun. Begitu sedihnya Muhammad, sehingga ia menangis di sepanjang jalan ketika mengantarkan keranda jenazah kakeknya sampai ketempat peraduan terakhirnya.
.jpg)
No comments:
Post a Comment