Pada suatu hari ketika Muhammad dan saudara angkatnya sedang bermain dengan beberapa anak biri-biri di belakang kemah kami, saudara angkatnya itu lari menghampiri kami dan berteriak, "Saudara Quraisy-ku (Muhammad) ! Dua laki-laki bergamis putih mengambilnya, membaringkannya, dan membelah dadanya. Lalu tangan mereka mengeluarkan isi dadanya." Karena itu aku (Halimah) dan ayahnya menemui Muhammad dan melihatnya berdiri dengan wajah pucat pasi. Kami memeluknya dan bertanya, "Apa yang terjadi padamu, anakku?" Ia menjawab, "Dua orang berbaju putih mendatangiku, membaringkanku dan membelah dadaku untuk mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu."
Halimah dan suaminya berkeliling melihat sekitarnya, namun tak menjumpai kedua laki-laki itu. Mereka juga tak melihat darah atau luka pada tubuh Muhammad. Bahkan tak ada sedikitpun goresan pada dada anak ini.
Setelah beberapa tahun, Muhammad lebih mampu menceritakan kejadian itu dengan lebih jelas dan lengkap :
Ada dua laki-laki datang kepadaku, berbaju putih, dengan sebuah baskom emas yang
penuh dengan salju. Setelah itu, mereka membaringkan tubuhku dan membelah dadaku
kemudian mengambil jantungku. Tampaknya mereka membukanya dan mengambil
segumpal darah hitam dari jantungku dan membuangnya. Lantas, mereka mencuci
jantungku dan isi dadaku dengan salju itu.
Ia juga berkata : "Setan menyentuh setiap anak Adam pada saat ibunya melahirkannya,
kecuali Maryam dan puteranya."
Halimah dan suaminya yakin bahwa kedua anak mereka berkata benar. Karena itu mereka sangat ketakutan, khawatir jika Muhammad terkena suatu guna-guna roh jahat atau terserang sihir. Iapun membawa Muhammad kepada ibunya Aminah.
Setelah mendengar cerita itu, Aminah menenangkan Halimah agar tidak perlu takut dan berkata, "Peristiwa-peristiw a besar telah terjadi pada puteraku." Kemudian Aminah bercerita bahwa ketika mengandungnya, ia sangat sadar ada secercah cahaya memancar di dalam tubuhnya. Halimah menjadi tenang, tetapi sejak itu Aminah memutuskan untuk mengasuh sendiri puteranya. "Tinggalkan ia bersamaku," katanya, "dan pulanglah dengan tenang."
Muhammad hidup bahagia di Mekah bersama ibunya selama tiga tahun. Ia mendapatkan perhatian lebih daripada kakek, paman, bibi, dan sepupunya yang tinggal bersamanya. Yang paling manyayanginya adalah Hamzah dan Shafiyyah, dua anak Abdul Mutalib. Hamzah seusia dengannya sedangkan Shafiyyah lebih muda dari Muhammad, terjalin suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka bertiga.
Ketika Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajaknya mengunjungi seorang kerabatnya di Yatsrib (Madinah). Di kemudian hari Muhammad menceritakan kegembiraannya saat bagaimana saudaranya itu mengajarinya bermain layang-layang. Namun tak lama kemudian, saat perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di Abwa, tidak jauh dari Madinah. Sejak saat itulah Muhammad menjadi seorang yatim-piatu
.jpg)
No comments:
Post a Comment