Saturday, May 11, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 19




UMAR bin KHATTAB dan PEMBOIKOTAN
Kaum Quraisy dulunya bersatu. Namun, sekarang Mekah menjadi sebuah kota dengan dua agama dan dua komunitas. Umar melihat bahwa penyebab keonaran ini hanya satu. Lenyapkan yang menjadi penyebabnya, maka segala sesuatu akan kembali seperti semula. Bulat sudah tekah Umar untuk membunuh Muhammad yang dianggapnya sebagai biang keladi dari semua persoalan ini. Dalam suasana marah membara pergilah ia menghampiri Muhammad.
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. "Umar, engkau telah menipu diri sendiri. Lebih baik engkau pulang dan perbaiki keluargamu sendiri. "Ada apa dengan keluargaku? Kata Umar. "Saudara iparmu, Said dan saudara perempuanmu, Fathimah," kata Nu'aim. "Mereka berdua pengikut agama Muhammad. Jika engkau membiarkan mereka demikian, maka mertabatmu bisa jatuh." Tanpa sepatah katapun, Umar kembali dan langsung menuju rumah saudaranya itu. Disana, Ia mendengar suara saudaranya itu sedang membaca  al-Quran. Umar meminta lembaran al-Quran itu, kemudian Fathimah menyerahkan kepadanya lembaran al-Quran yang dibuka dengan kata-kata: Ta-Ha. Dan Umar pun membacanya, setelah selesai membaca lembaran itu ia berkata "Betapa indah dan agungnya kata-kata ini!" Dimana sekarang Muhammad berada? Aku ingin bertemu dengan dia dan aku akan masuk Islam! Umar berkata disertai dengan wajah sumringah, berbeda 180 derajat dengan keadaannya saat kedatangannya kesitu.
Umarpun menjumpai Nabi yang sedang berada di rumah Arqam bersama dengan beberapa sahabatnya. Sesampainya disana ia disambut oleh Nabi. Nabi berkata kepada Umar, " Apa maksud kedatanganmu ke sini, hai putra Khattab? "Wahai Rasulullah," kata Umar, "Aku datang kepadamu untuk menyatakan keimananku kepada Allah, dan kepada Rasul-Nya serta segala yang datang dari-Nya," "Allahu Akbar (Allah Maha Besar)," seru Nabi, mendengar ucapan tersebut. Semua yang hadir di rumah itu tahu bahwa Umar telah masuk Islam. Merekapun semua gembira.
Umar tidak menyembunyikan keislamannya. Ia berkata, "Ketika aku memeluk Islam malam itu, aku berpikir, siapa penduduk Mekah yang paling kejam memusuhi Rasulullah? Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku telah menjadi Muslim! Jawabanku adalah Abu Jahl. Maka keesokkan paginya aku pergi dan mengetuk pintunya. Abu Jahl keluar dan berkata, 'Selamat datang putera saudaraku! Apa maksud kedatanganmu?  Aku menjawab, 'Aku datang untuk memberi tahukan bahwa aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad.' 'Tuhan melaknatmu!' katanya, kemudian ia membanting pintunya dihadapanku. "
Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum muslimin telah mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat, yang menyebabkan kedudukan kaum muslimin terhadap Quraisy sudah tidak seperti dulu lagi.
Islamnya Umar telah membawa kelemahan ke dalam tubuh Quraisy karena ia masuk Islam dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentangnya dahulu. Ia masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di hadapan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka yang menentangnya. Ia tidak rela jika kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dalam melakukan ibadahnya.
Quraisy lalu membuat rencana berikutnya. Jalan terbaik adalah melakukan pemboikotan terhadap seluruh Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib; untuk tidak saling kawin-mengawinkan, tidak saling berjual-beli apapun. Piagam pemboikotan ini kemudian digantungkan di dalam Ka'bah sebagai suatu pengukuhan. Menurut perkiraan Quraisy, pemboikotan begini akan memberi hasil yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan penyiksaan, sekalipun kekerasan dan penyiksaan itu tetap mereka lakukan. Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum Muslimin sudah berjalan selama tiga tahun, dengan harapan Muhammad akan di tinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, sehingga dia dan ajarannya itu tidak lagi berbahaya bagi mereka.
Ternyata Muhammad dan keluarganya malah makin teguh berpegang pada tuntunan Allah, Bahkan dakwah Islam semakin meluas tersiar sampai keluar perbatasan Mekah, berkumandang gemanya ke seluruh jazirah Arab.
Dokumen pemboikotan yang tertempel di dinding Ka'bah ternyata kemudian semuanya telah dimakan rayap kecuali kalimat pembuka "Dengan nama-Mu, Ya Allah." Mayoritas orang Quraisy nyata-nyata menyerah. Abu Jahl dan para pengikutnya sadar bahwa akan sia-sia untuk bertahan. Dan pemboikotan itu secara formal telah dibatalkan.
Setelah pemboikotan dihapuskan, kehidupan kembali normal. Untuk sementara waktu, kekejaman terhadap kaum muslimin berkurang. Keadaan seperti ini tersiar sampai ke Abisinia, sehingga beberapa pengungsi bersiap kembali ke Mekah. Sementara yang lainnya, Ja'far, memilih tetap tinggal di Abisinia.
Tidak putus harapan, selanjutnya pemuka Quraisy membujuk Nabi agar menyetujui sebuah kompromi agar menjalankan kedua agama. Nabi terbebas dari kesulitan untuk merumuskan penolakannya dengan adanya jawaban seketika yang turun dari "langit" berupa wahyu yang tertuang dalam Surah Al-Kafirun yang terkenal itu (Qs.109:1-6) :
  Katakanlah: Hai orang-orang kafir
  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
  Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
  Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku
  Qul yaa ayyuhal kafiruun
  Laa a'budu maa ta'buduun
  Wa laa antum 'aabiduna maa a'bud
  Wa laa ana 'abiduuma maa 'abattum
  Wa laa antum 'aabiduuna maa a'bud
  Lakum diinukum wa liyadiin