Saturday, July 14, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad 5



Tanda-tanda kenabian ( lanjutan sebelumnya )
Abdul Mutalib menuntun puteranya Abdullah menuju tempat pengorbanan, seolah-olah tak mau berpikir panjang lagi. Dia tidak memperhitungkan pendapat istrinya, Fathimah ibu Abdullah dan juga pendapat kerabat dekat lainnya.
Beberapa saat setelah pengundian dilakukan, orang-orang telah berkumpul di halaman Ka'bah. Ketika Abdul Mutalib dan Abdullah muncul diambang pintu dengan wajah pucat pasi, terdengar suara riuh dari kaum Makhzum (keluarga besar Fathimah ibu Abdullah) setelah menyadari bahwa anak dari saudara mereka akan dikorbankan. "Untuk apa pisau itu?" tanya seseorang diantara mereka, meskipun mereka telah mengetahui jawabannya. Abdul Mutalib mulai menjelaskan nazarnya, namun segera dipotong oleh Mughirah, kepala suku Makhzum. "Jangan korbankan dia, kita akan mencari gantinya, walaupun penggantinya adalah seluruh kekayaan Makhzum." Pada saat itu saudara-saudara Abdullah sudah keluar dari Ka'bah. Tadinya tak seorangpun dari mereka angkat bicara, namun kini mereka memohon kepada ayahnya agar Abdullah dibiarkan hidup dan diganti dengan persembahan lain. Tak seorangpun dari orang yang hadir disitu yang berbeda pendapat dan Abdul Mutalib terus dibujuk agar membiarkan anaknya hidup, tapi ia masih ragu. Akhirnya ia setuju untuk mengkonsultasikan masalah ini kepada seorang wanita bijak di Yatsrib (Madinah) agar dapat memberikan saran apakah persembahan lain dapat menggantikan puteranya.
Bersama Abdullah dan dua putera lainnya, Abdul Mutalib pergi ke negeri kelahirannya itu untuk menemui wanita bijak itu. Pada saat berjumpa dengannya, wanita itu bertanya, Binatang apa yang kalian pelihara?" Mereka menjawab bahwa ada sepuluh ekor unta. "Kembalilah kekotamu," pesannya, "dan tempatkanlah anak lelakimu dan sepuluh ekor unta itu secara berdampingan, lalu undilah mereka. Jika anak panah terjatuh di depan anak lelakimu, tambahkan sepuluh unta lagi dan undi kembali; begitu seterusnya hingga Tuhan menerima unta-unta itu dan anak panahnya jatuh ke arah mereka. Dan, korbankanlah unta-unta itu, sementara biarkanlah anakmu hidup."
Maka bergegaslah mereka kembali ke Mekah dan dengan khikmat membawa Abdullah dan sepuluh unta ke halaman Ka'bah dan pengundianpun dilakukan. Pada undian pertama anak panah terjatuh di depan Abdullah, maka sepuluh ekor unta lagi ditambahkan, dan pengundian kembali dilakukan, namun demikian seterusnya hingga setelah mencapai seratus ekor unta, barulah anak panah itu jatuh didepan unta-unta itu. Kendati demikian, Abdul Mutalib adalah orang yang sangat berhati-hati, baginya sebuah anak panah belum cukup membuktikan untuk mengambil keputusan penting. Karena itu, ia meminta mereka mengulang pengundian hingga tiga kali pelepasan anak panah. Dan, ternyata anak panah tetap jatuh di depan unta-unta itu. Hal inilah yang meyakinkan Abdul Mutalib bahwa Tuhan telah menerima penebusannya, dan unta-unta itu pun disembelih sebagai kurban.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa Tuhan sungguh tidak kejam, Dia mengutuk manusia yang membunuh manusia lainnya tanpa alasan yang dibenarkan. Dialah Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Kisah yang sama terulang dalam dalam kisah haji dimana perintah penyembelihan Ismail yang kemudian digantikan dengan seekor domba besar sebagai kurban.
Maha suci Allah yang skenarionya demikian jelas bahwa kelahiran nabi Muhammad telah dirancang sejak alam ruh (nur Muhammad), kemudian dalam kisah Abdullah yang demikian jelas menggambarkan rencana Allah atas kelahiran Nabi Akhir jaman. Dan juga nanti terbukti ketika kedua anak lelaki Rasulullah meninggal diusia anak-anak. Ulama meyakini bahwa hal ini untuk menghindarkan tradisi "pimpinan turun temurun."
Wallahu alam

Sunday, July 8, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad 4



Tanda-tanda kenabian
Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, pamannya Abu Talib mengajaknya pergi bersama kafilah saudagar ke negeri Syria. Sesampaini ya di suatu tempat yang bernama Bostra, kafilah tersebut berhenti untuk beristirahat. Disitu mereka bertemu dengan seorang pendeta kristen bernama Bahira. Dia berkata bahwa didalam kitab-kitab suci mereka terdapat ramalan tentang akan datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab. Sama seperti pendeta kristen lainnya yang bernama Waraqah, ia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.
Bahira sudah sering melihat kedatangan kafilah Mekah yang singgah tak jauh dari biaranya. Tetapi kali ini perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya : segumpal awan bergelayut rendah bergerak perlahan diatas kepala mereka. Ketika kafilah itu berhenti, awan itupun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal diatas pohon tempat kafilah itu berteduh, sementara pohon itu merundukkan dahan-dahannya diatas mereka. Dengan demikian mereka berteduh diatas dua naungan. Bahira tahu bahwa itu pertanda  tentang nabi yang diharapkan itu.
Dalam perjamuan yang diadakan dengan rombongan kafilah itu, Bahira menatap Muhammad dengan seksama dan dia menemukan beberapa bagian dari wajah dan dan tubuh yang sangat cocok dengan yang dilukiskan dalam kitabnya. Dikisahkan bahwa Muhammad kecil tidak ragu-ragu melepaskan jubahnya ketika diminta pendeta itu agar dapat melihat punggungnya. Bahira telah merasa yakin, namun kini ia semakin yakin karena diantara kedua punggung Muhammad ada sebuah tanda yang ia lihat, sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti digambarkan dalam kitabnya.
Dikisahkan juga tentang Abdul Mutalib (kakek Muhammad) yang disegani oleh kaum Quraisy atas kedermawanan, kebijaksanaannya dan ditambah lagi oleh kehormatan sebagai orang yang berhak merestorasi Zam-zam. Ia merasa sangat bersyukur atas semua itu, namun jiwanya masih belum tenang, karena ia hanya memiliki seorang anak laki-laki. Maka ia berdoa dan bernazar : apabila dikaruniai sepuluh anak laki-laki yang tumbuh hingga dewasa, ia akan mengorbankan satu orang diantaranya bagi Tuhan di Ka'bah. Memang demikianlah kebiasaan adat istiadat masyarakat Arab ketika itu.
Ternyata kemudian doanya dikabulkan Allah. Ketika dulu ia berdoa dan bernazar, hal itu nampaknya sesuatu yang mustahil bakal terjadi. Namun ketika menjadi kenyataan, maka nazar itu menghantui dirinya.
Diantara sepuluh anaknya, Abdul Mutalib sangat menyayangi anak bungsunya yaitu Abdullah (ayah Muhammad). Mungkin Allah lebih menyayangi anak ini yang dikaruniai ketampanan dan barangkali Allah akan memilihnya untuk dikurbankan, demikian pikirnya.
Suatu ketika, Abdul Mutalib mengumpulkan seluruh puteranya dan menyampaikan perjanjiannya dengan Tuhan dan meminta mereka mendukung pelaksanaan nazarnya. Anak-anaknya tidak punya pilihan lain kecuali setuju, janji ayahnya adalah janji mereka juga, demikian pikir mereka. Singkat cerita diadakanlah undian dengan cara mengundang pengundi panah resmi Quraisy di Ka'bah, dan Abdul Mutalib berdiri menjadi saksi sambil menggenggam sebilah pisau besar. Digunakanlah kumpulan 10 anak panah sebagai alat pengundi dan ternyata yang keluar adalah anak panah Abdullah (ayah Muhammad). Kemudian Abdul Mutalib menggandeng Abdullah sambil menggenggam pisau besar tadi. Ia menuntun puteranya menuju tempat pengorbanan, seolah-olah tak mau berpikir panjang lagi........ .....  bersambung

Saturday, June 23, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 3



Sepeninggal kakeknya Abdul Muttalib pengasuhan Muhammad dipegang oleh pamannya, Abu Talib. Sekalipun dia bukan yang tertua diantara saudara-saudarnya. Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya, Abbas yang mampu tapi dia kikir sekali dengan hartanya.
Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abdul Muttalib , karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakannya daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang menarik hati pamannya.
Pada suatu ketika Abu Talib membawa Muhammad kecil, yang saat itu berusia 12 tahun dalam rombongan kafilah untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan itulah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan rahib itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen.
Dalam perjalanan itu juga sepasang mata Muhammad melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit. Di Syam ini pula Muhammad mengetahui berita-berita tentang kerajaan Romawi dan agama Kristennya, didengar berita tentang Kitab Suci mereka. Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi Muhammad sudah mempunyai kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam sebagai suatu tanda persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar. Ia melihat sekeliling dengan sikap menyelidik, meneliti. Ia tidak puas terhadap yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri : "Dimanakah kebenaran dari semua itu?"
Sejak masa kanak-kanak, Muhammad menunjukkan gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati, sehingga penduduk Mekah semua memangilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya)
Muhammad membantu pamannya menggembalakan kambing. Dalam masa penggembalaan itulah Muhammad mempunyai kesempatan luas untuk merenung dan berfikir. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala, diantaranya ia berkata : "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing."
Dalam suasana senyap dipadang gembala, dihamparan alam yang maha luas, ia mencari sesuatu penafsiran tentang penciptaan alam semesta. Pemikiran dan perenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi. ia berada jauh lebih tinggi dari itu. Kenikmatan jiwa yang paling besar ialah merasakan keindahan alam semesta. Bahagia karena mengabungkan alam kedalam diri dan merasakan nikmatnya berada dalam pelukan kalbu alam. Kenikmatan demikian tidak memerlukan kekayaan harta tapi memerlukan kekayaan jiwa yang kuat.