Ketika sedang hamil mengandung bayi Muhammad, Aminah menyadari ada suatu cahaya ajaib yang memancar di dalam tubuhnya. Pada suatu hari cahaya itu bersinar terang benderang, kemudian ia mendengar suara, "Engkau mengandung seorang pemimpin seluruh umat, jika ia lahir katakanlah, 'Aku menyerahkan perlindungan anak ini kepada Tuhan Yang Satu, dari segala kejahatan orang-orang jahat.'"
Sesuai kebiasaan keluarga Arab perkotaan untuk mengirimkan anak-anak mereka ke daerah gurun untuk disusi hingga disapih. Hal itu berguna untuk perkembangan jasmani dan jiwa mereka, mengingat bahwa penduduk kota adalah sarang kecurangan, kemalasan dan hura-hura, yang siap setiap saat merenggut ketajaman penglihatan dan kewaspadaan manusia. Segala sesuatu membusuk disana termasuk keindahan berbahasa, sopan santun, suatu hal yang sangat menentukan kualitas manusia.
Cendekiawan dan penyair-penyair terkenal hampir selalu berasal dari suku-suku padang pasir, karena bahasa sehari-hari mereka memang puitis.
Beberapa suku pedalaman yang memiliki reputasi baik dalam mengasuh dan menyusui anak secara periodik datang ke kota Mekah untuk menawarkan jasanya. Tersebutlah seorang wanita bernama Halimah datang bersama suaminya. Ia baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki yang mereka rawat sendiri. Halimah menuturkan :
Tahun ini musim kemarau, kami tidak mempunyai apa-apa. aku berangkat mengendarai keledai betinaku yang kurus dan juga membawa seekor unta betina tua yang tidak lagi bisa mengeluarkan susu setetespun. Kami terbangun setiap malam oleh tangis kelaparan anak kami, karena susuku tidak cukup membuatnya kenyang. Keledaiku begitu lemah dan kurus sehingga aku sering ketinggalan rombongan di perjalanan.
Halimah menceritakan keadaannya setelah mengambil Muhammad sebagai anak asuhannya. "Tak lama setelah kudekap ia kedadaku, tiba-tiba payudaraku penuh air susu untuk menyusuinya. Ia meminumnya sampai kenyang, dan saudara angkatnyapun (anak kandung Halimah) demikian juga. Setelah itu mereka tertidur nyenyak. Suamiku mendekati unta betina tua kami dan, astaga ! susunya penuh ! Iapun meminumnya dan aku juga turut minum hingga begitu kekenyangan. Kami menjalani malam yang begitu menyenangkan. " Dipagi harinya suamiku berkata, "demi Tuhan, Halimah, engkau telah mengambil makhluk yang diberkahi Tuhan !"
Kami bersiap-siap untuk berangkat pulang, dan aku kembali menaiki keledaiku sambil menggendong Muhammad. Keledaiku berjalan dengan cepat menyalip rombongan yang lain; tak seorangpun dari keledai mereka yang dapat menyamai langkahnya. "Hebat sekali kalian !" kata mereka. "Tunggulah kami ! Bukankah keledai yang kau tunggangi itu sama dengan keledai yang kemarin kalian naiki saat berangkat kemari ?" "Suatu mukjizat telah datang kepadanya", komentar mereka.
Halimah melanjutkan ceritanya :
Kami sampai di tempat tinggal kami, dan aku tahu bahwa tak ada tempat lain yang lebih gersang kecuali tempat ini. Namun setelah kami datang membawa bayi Muhammad untuk tinggal bersama kami, domba-domba kami pulang setiap petang dengan air susunya yang penuh. Kami memerahnya dan meminumnya, sementara yang lain tak dapat menghasilkan susu sedikitpun, hingga para tetangga kami berkata kepada penggembalanya, "Gembalakan kambing-kambing kami di dekat kambing-kambing mereka merumput." Meskipun hal itu telah dilakukan, ternak mereka tetap pulang dalam keadaan lapar dan tidak menghasilkan susu, sementara kambing-kambing kami tampak sehat dengan air susu yang cukup. Dan kami tidak pernah berhenti mensyukuri nikmat dari Tuhan ini, hingga Muhammad berusia dua tahun dan akupun menyapihnya.

.jpg)
