Sunday, July 8, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad 4



Tanda-tanda kenabian
Ketika Muhammad berusia dua belas tahun, pamannya Abu Talib mengajaknya pergi bersama kafilah saudagar ke negeri Syria. Sesampaini ya di suatu tempat yang bernama Bostra, kafilah tersebut berhenti untuk beristirahat. Disitu mereka bertemu dengan seorang pendeta kristen bernama Bahira. Dia berkata bahwa didalam kitab-kitab suci mereka terdapat ramalan tentang akan datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab. Sama seperti pendeta kristen lainnya yang bernama Waraqah, ia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.
Bahira sudah sering melihat kedatangan kafilah Mekah yang singgah tak jauh dari biaranya. Tetapi kali ini perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya : segumpal awan bergelayut rendah bergerak perlahan diatas kepala mereka. Ketika kafilah itu berhenti, awan itupun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal diatas pohon tempat kafilah itu berteduh, sementara pohon itu merundukkan dahan-dahannya diatas mereka. Dengan demikian mereka berteduh diatas dua naungan. Bahira tahu bahwa itu pertanda  tentang nabi yang diharapkan itu.
Dalam perjamuan yang diadakan dengan rombongan kafilah itu, Bahira menatap Muhammad dengan seksama dan dia menemukan beberapa bagian dari wajah dan dan tubuh yang sangat cocok dengan yang dilukiskan dalam kitabnya. Dikisahkan bahwa Muhammad kecil tidak ragu-ragu melepaskan jubahnya ketika diminta pendeta itu agar dapat melihat punggungnya. Bahira telah merasa yakin, namun kini ia semakin yakin karena diantara kedua punggung Muhammad ada sebuah tanda yang ia lihat, sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti digambarkan dalam kitabnya.
Dikisahkan juga tentang Abdul Mutalib (kakek Muhammad) yang disegani oleh kaum Quraisy atas kedermawanan, kebijaksanaannya dan ditambah lagi oleh kehormatan sebagai orang yang berhak merestorasi Zam-zam. Ia merasa sangat bersyukur atas semua itu, namun jiwanya masih belum tenang, karena ia hanya memiliki seorang anak laki-laki. Maka ia berdoa dan bernazar : apabila dikaruniai sepuluh anak laki-laki yang tumbuh hingga dewasa, ia akan mengorbankan satu orang diantaranya bagi Tuhan di Ka'bah. Memang demikianlah kebiasaan adat istiadat masyarakat Arab ketika itu.
Ternyata kemudian doanya dikabulkan Allah. Ketika dulu ia berdoa dan bernazar, hal itu nampaknya sesuatu yang mustahil bakal terjadi. Namun ketika menjadi kenyataan, maka nazar itu menghantui dirinya.
Diantara sepuluh anaknya, Abdul Mutalib sangat menyayangi anak bungsunya yaitu Abdullah (ayah Muhammad). Mungkin Allah lebih menyayangi anak ini yang dikaruniai ketampanan dan barangkali Allah akan memilihnya untuk dikurbankan, demikian pikirnya.
Suatu ketika, Abdul Mutalib mengumpulkan seluruh puteranya dan menyampaikan perjanjiannya dengan Tuhan dan meminta mereka mendukung pelaksanaan nazarnya. Anak-anaknya tidak punya pilihan lain kecuali setuju, janji ayahnya adalah janji mereka juga, demikian pikir mereka. Singkat cerita diadakanlah undian dengan cara mengundang pengundi panah resmi Quraisy di Ka'bah, dan Abdul Mutalib berdiri menjadi saksi sambil menggenggam sebilah pisau besar. Digunakanlah kumpulan 10 anak panah sebagai alat pengundi dan ternyata yang keluar adalah anak panah Abdullah (ayah Muhammad). Kemudian Abdul Mutalib menggandeng Abdullah sambil menggenggam pisau besar tadi. Ia menuntun puteranya menuju tempat pengorbanan, seolah-olah tak mau berpikir panjang lagi........ .....  bersambung

Saturday, June 23, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 3



Sepeninggal kakeknya Abdul Muttalib pengasuhan Muhammad dipegang oleh pamannya, Abu Talib. Sekalipun dia bukan yang tertua diantara saudara-saudarnya. Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya, Abbas yang mampu tapi dia kikir sekali dengan hartanya.
Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abdul Muttalib , karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakannya daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang menarik hati pamannya.
Pada suatu ketika Abu Talib membawa Muhammad kecil, yang saat itu berusia 12 tahun dalam rombongan kafilah untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan itulah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan rahib itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen.
Dalam perjalanan itu juga sepasang mata Muhammad melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit. Di Syam ini pula Muhammad mengetahui berita-berita tentang kerajaan Romawi dan agama Kristennya, didengar berita tentang Kitab Suci mereka. Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi Muhammad sudah mempunyai kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam sebagai suatu tanda persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar. Ia melihat sekeliling dengan sikap menyelidik, meneliti. Ia tidak puas terhadap yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri : "Dimanakah kebenaran dari semua itu?"
Sejak masa kanak-kanak, Muhammad menunjukkan gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati, sehingga penduduk Mekah semua memangilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya)
Muhammad membantu pamannya menggembalakan kambing. Dalam masa penggembalaan itulah Muhammad mempunyai kesempatan luas untuk merenung dan berfikir. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala, diantaranya ia berkata : "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing."
Dalam suasana senyap dipadang gembala, dihamparan alam yang maha luas, ia mencari sesuatu penafsiran tentang penciptaan alam semesta. Pemikiran dan perenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi. ia berada jauh lebih tinggi dari itu. Kenikmatan jiwa yang paling besar ialah merasakan keindahan alam semesta. Bahagia karena mengabungkan alam kedalam diri dan merasakan nikmatnya berada dalam pelukan kalbu alam. Kenikmatan demikian tidak memerlukan kekayaan harta tapi memerlukan kekayaan jiwa yang kuat.

Saturday, June 16, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 2



Muhammad tinggal pada keluarga Sa'd sampi berusia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar bahasa Arab yang murni.
Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwa Muhammad. Demikian juga halnya dengan Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya
Sesudah lima tahun, kemudian Muhammad kembali kepada ibunya. Kakeknya Abdul Muttalib-lah yang mengasuh cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Suatu ketika ibunya (Aminah) membawa Muhammad ke Madinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudaranya dan juga diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Saat itulah pertama kali Muhammad merasakan dirinya sebagai anak yatim.
Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Madinah, Aminah sudah bersiap-siap akan pulang kembali ke Mekah. Dengan rombongannya mereka pulang menuju Mekah dengan mengendarai dua ekor unta. Tetapi ditengah perjalanan, ketika mereka sampai di suatu desa yang bernama Abwa (jaraknya 37 Km dari Madinah), ibunda Aminah menderita sakit, yang akhirnya meninggal dunia dan dikuburkan disitu juga.
Muhammad kecil dibawa pulang ke Mekah oleh rombongan kafilahnya. Ia menangis dengan hati yang pilu. Ia kini sebatang kara, ia sangat kehilangan orang yang dicntainya, ibunya yang belum genap setahun menimang dan memeluknya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Ia kini seorang yatim piatu.
Terasa oleh Muhammad hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari ia mendengar dari ibundanya cerita tentang ayahnya, keluhan duka ibundanya ketika ayahnya meninggal dunia disaat Muhammad masih berada didalam kandungan. Kini ia melihat sendiri ibundanya-pun pergi untuk tidak kembali lagi, sama seperti ayahnya dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim piatu.
Sejak kematian ibundanya Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya yang sangat mencintainya dan juga sangat dicintainya, Abdul Muttalib. Hari-harinya dihabiskan dengan bermain dengan sang kakek. Tidak lebih dari tiga tahun Muhammad menikmati indahnya hidup bersama sang kakeknya itu. Ketika Muhammad berusia delapan tahun, sekali lagi dia harus mengalami kesedihan mendalam dengan meninggalnya sang kakek. Sang kakek dipanggil Yang Maha Kuasa saat usianya mencapai delapan puluh tahun. Begitu sedihnya Muhammad, sehingga ia menangis di sepanjang jalan ketika mengantarkan keranda jenazah kakeknya sampai ketempat peraduan terakhirnya.