Saturday, December 15, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 13



WAHYU PERTAMA
Tidak lama setelah adanya tanda-tanda lahiriah mengenai otoritas dan misinya, Muhammad mulai mengalami tanda-tanda kekuatan batiniah yang mendukung tanda-tanda lain yang telah dia sadari sebelumnya. Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau berbicara tentang "mimpi yang benar" Mimpi-mimpi tersebut membuat Muhammad lebih sering menyendiri dan merenungi arti kebenaran yang hakiki karena mendapati kaumnya semakin tersesat dalam kehidupan tahayul menghamba kepada patung dan berhala
Menjelang usia 40 tahun Muhammad kerap pergi ke Gua Hira untuk melakukan tahannuts (penyendirian spiritual). Jiwanya sudah penuh iman atas segala apa yang telah dilihatnya dalam mimpi hakiki itu. Ia telah membebaskan diri dari segala kebatilan.
Tahannuts bukan sesuatu yang aneh bagi kaum Quraisy dan sudah menjadi praktek tradisional di kalangan keturunan Ismail. Dalam mempraktekkan kebiasaan lama ini, Muhammad membawa berbagai perbekalan dan mengkhusyukkan diri pada malam-malam tertentu untuk menyembah Tuhan, kemudian pulang ke keluarganya. Saat Muhammad menuju ke tempat tahannuts, seringkali dia mendengar dengan jelas ucapan "Assalamu'alaikum, wahai utusan Allah (Rasulullah) , lalu dia berbalik dan mencari orang yang mengucapkannya. Namun dia tidak melihat seorangpun, sampai-sampai ia merasa kuatir, sehingga ia menceritakannya kepada Khadijah. Ia kuatir kalau-kalau itu adalah gangguan jin. tetapi isteri yang setia itu menenteramkan hatinya. dikatakannya bahwa dia adalah al-Amin, tidak mungkin jin akan mendekatinya.
Allah telah mempersiapkan pilihan-Nya itu dengan memberikan latihan rohani sedemikian rupa guna menghadapi saat-saat yang dahsyat, berita yang dahsyat, yaitu saat datangnya wahyu pertama.
Ramadhan adalah bulan yang biasa digunakan untuk mengasingkan diri (tahannuts). Pada suatu malam menjelang akhir Ramadhan, dalam usianya yang ke-40, ketika Muhammad tengah sendirian di dalam gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat dalam rupa manusia. Malaikat itu berkata kepadanya, "Bacalah!" Muhammad menjawab, "Aku tidak dapat membaca." Sebagaimana beliau tuturkan :
  Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernapas. Kemudian, ia melepaskanku dan
  berkata, "Bacalah!" Kujawab, "Aku tak dapat membaca." Ia mendekapku lagi hingga aku
  pun merasa tersesak. Ia melepasku dan berkata, "Bacalah!" dan kembali kujawab, "Aku
  tak dapat membaca!" Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya,
  kemudian melepaskanku dan berkata: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang
  menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
  Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena (qalam). Dia
  mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya (QS96:1-5)
Muhammad mengulangi kata-kata yang diucapkan malaikat itu. Malaikat pun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Namun Muhammad merasa takut, jangan-jangan telah menjadi penyair yang terilhami jin atau orang yang kesurupan. Karena itu dia lari dari gua. Ditengah perjalanan menuruni tebing bukit, dia mendengar suara diatasnya, "Hai Muhammad! Engkau utusan Allah dan aku Jibril." Muhammad menengadahkan kepalanya ke arah langit dan disana terlihat tamunya, masih dapat dikenalnya namun sekarang jelas dalam rupa malaikat, memenuhi seluruh cakrawala. Kembali ia berkata, "Hai Muhammad, engkau Rasulullah dan aku Jibril." Muhammad berdiri terpaku menatap malaikat, dia berpaling darinya, namun kemanapun dia memandang, ke utara, ke selatan, ke timur, dan ke barat, malaikat selalu ada disana, menapak di cakrawala. Akhirnya malaikat itu pergi, dan Muhammad kembali menyusuri tebing menuju rumahnya.
"Selimuti aku! Selimuti aku!' serunya kepada khadijah. Dengan tubuh masih gemetar Muhammad merebahkan dirinya di dipan. Dipenuhi rasa cemas, namun tidak berani bertanya kepada suaminya, Khadijah cepat-cepat menyelimutinya. Ketika rasa takutnya telah reda, Muhammad menceritakan kepada isterinya apa yang dilihat dan didengarnya. Setelah mengucapkan kata-kata yang menenangkan hati suaminya, Khadijah pergi menceritakan hal tersebut kepada sepupunya Waraqah, yang kini telah sepuh dan buta.
"Quddus! Quddus!" kata Waraqah. Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah Namus yang terbesar, yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkanlah dia!"
Khadijah lalu pulang dan menyampaikan apa yang diakatakan Waraqah itu kepada sang Nabi, yang kini telah siap kembali ke gua dengan pikiran tenang, mungkin untuk memenuhi jumlah hari tahannuts yang telah ia tetapkan untuk beribadah kepada Tuhan. Setelah selesai, seperti biasanya dia langsung ke Mekah melakukan tawaf. Seusai tawaf, Muhammad melihat Waraqah berada diantara orang-orang yang sedang duduk di masjid. Kepada Waraqah, Muhammad kembali menceritakan apa yang telah dialaminya di gua Hira, dan orang tua itu kembali menceritakan apa yang ia sampaikan kepada Khadijah. Namun, kali ini ia menambahkan, "Engkau akan didustakan orang, akan diperlakukan buruk, dan mereka akan mengusirmu, bahkan berperang melawanmu! Seandainya aku masih hidup pada saat-saat itu, Allah tahu, aku pasti akan membela kebenaran agama-Nya. Kemudian Waraqah merangkul Muhammad dan mencium ubun-ubunnya. Setelah itu, Nabi pulang ke rumah.

Saturday, November 17, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 12



PEMUGARAN KA'BAH
KITAB kejadian (Genesis) menceritakan bahwa Ibrahim tidak memiliki anak, dan tak ada harapan lagi untuk memilikinya. Pada suatu malam, Tuhan menyuruhnya keluar dari tenda. "Sekarang," firman-Nya, "pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang disana, bila engkau sanggup." Ibrahim pun menatap langit dan terdengarlah suara: "Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti."
Ketika Sarah berusia 76 tahun - umur yang terlalu lanjut untuk menerima kehadiran seorang bayi - Sarah mengizinkan suaminya itu menikahi Hajar, budaknya asal Mesir. Meskipun demikian, perasaan cemburu tumbuh juga diantara majikan dan budaknya, sehingga Hajar menjadi sasaran kemarahan Sarah. Hajar hanya mampu mengadukan segala deritanya kepada Tuhan. Maka Tuhan mengutus seorang malaikat kepadanya: "Aku akan memperbanyak keturunanmu yang tak terhitung jumlahnya." Sang malaikat juga berkata: "Berbahagialah! Kamu akan dikaruniai seorang anak. Namailah Ismail, karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu. " Hajar lalu menemui Ibrahim dan Sarah dan menyampaikan apa yang dikatakan malaikat. Ketika bayi yang didambakan itu lahir, Ibrahim memberinya nama Ismail, yang berarti "Tuhan telah mendengar."
Ketika Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 90 tahun, Tuhan berfirman lagi kepada Ibrahim, menjanjikan bahwa Sarah pun akan melahirkan seorang anak yang mesti diberi nama Ishaq. Khawatir kalau-kalau Allah mengurangi kasih sayang-Nya kepada Ismail, Ibrahim berdoa: "Semoga Ismail hidup dalam hidayah-Mu, ya Allah!" Dan Allah menjawab: "Aku mendengar doamu tentang Ismail. Aku merakhmatinya dan Aku akan menjadikan dia pemimpin suatu bangsa yang besar. Tetapi, kehendak-Ku tentang Ishaq telah Ku-tetapkan, dan Sarah akan melahirkannya tahun depan."
Sarah melahirkan Ishaq dan dia sendiri yang menyusuinya. Setelah Ishaq disapih, ia memohon kepada Ibrahim agar Hajar dan puteranya segera pergi dari rumah mereka. Karena sangat menyayangi Ismail, Ibrahim menjadi amat sedih. Namun Allah berfirman agar permintaan Sarah dipenuhi, dan agar supaya Ibrahim tidak larut dalam kesedihan, Allah berjanji akan memberkahi Ismail.
Dengan demikian, keturunan Ibrahim bukan hanya satu bangsa tetapi dua bangsa besar. Allah menjanjikan kemakmuran duniawi dan keluhuran spiritual dan Ibrahim menjadi pemimpin dua aliran spiritual besar, yang tidak mengalir bersama melainkan memiliki jalan masing-masing.
Ketika Muhammad berusia sekitar 35 tahun - Quraisy memutuskan untuk membangun kembali Ka'bah. Ketika itu dinding Ka'bah hanya setinggi manusia dan tidak ada atapnya. Artinya, kalaupun pintunya dikunci, mudah sekali dimasuki orang yang berniat jahat.
Kini, kaum Quraisy meninggikan bangunan Ka'bah. Masing -masing kabilah bekerja sesuai pembagian tugasnya yaitu setiap kabilah membangun satu sisi Ka'bah. Ketika sampai pada tahap peletakan kembali Hajar Aswad di pojoknya, perdebatanpun merebak diantara mereka. Masing-masing kabilah ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada tempatnya semula. Ketegangan memuncak dan nyaris terjadi pertumpahan darah sampai salah seorang diantara mereka berkata, "Wahai kaum Quraisy mari kita tunjuk seorang penengah yaitu orang yang pertama kali masuk gerbang masjid pada hari ini.." Dalam bahasa Arab, masjid adalah tempat bersujud, karena ritual sujud kepada Tuhan menghadap Rumah Suci itu telah dilakukan disana sejak zaman Ibrahim dan Ismail.
Ternyata, orang yang pertama kali masuk ke masjid adalah Muhammad. "Dialah al-Amin," kata beberapa orang diantara mereka. Setelah mereka menjelaskan duduk persoalannya, Muhammad berkata, "Berikanlah kepadaku selembar selimut." Setelah mereka memberikannya, beliau membentangkan selimut itu di tanah. Lalu beliau mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di tengah kain itu. "Silahkan masing-masing kabilah memegang ujung selimut itu," katanya. Secara serentak mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Setibanya dilokasi penempatan Hajar Aswad, Muhammad mangambil batu itu, lalu meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan dan pemugaran Ka'bah pun dilanjutkan hingga selesai.
Keputusan menunjuk Muhammad sebagai penengah perselisihan diantara mereka itu membuktikan betapa tingginya kedudukan Muhammad di mata penduduk Mekah dan betapa besar pengharagaan mereka kepadanya.

Saturday, November 10, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 11



RUMAH TANGGA
Selain berperan sebagai isteri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Bersama Muhammad Khadijah melahirkan 6 anak: 2 putera dan 4 puteri:
  1. Putera sulungnya diberi nama Qasim, sehingga Muhammad dikenal sebagai
      Abu al-Qasim, ayah Qasim. Namun Qasim meninggal sebelum berusia dua tahun
  2. Berikutnya seorang puteri dinamai Zaynab, disusul dengan tiga puteri lainnya
  3. Ruqayyah
  4. Umm Kultsum, dan
  5. Fathimah. Yang terakhir seorang putera lagi yang juga tidak berusia panjang
  6. Abdullah
Kematian kedua puteranya itu sangat menyedihkan dan meninggalkan bekas yang mendalam bagi Muhammad dan Khadijah. Betapa dalamnya rasa sedih itu, pada suatu zaman yang membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan lebih dari itu. Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan tersebut, sehingga Zaid bin Haritsah, seorang budak Khadijah, dimerdekakan dan diangkatnya sebagai anak, sehingga orang waktu itu menyebutnya Zaid bin Muhammad.
Ketika Zaid sedang bepergian dengan ibunya untuk menginjungi keluarganya, Zaid diculik oleh segerombolan Bani Qayn dan kemudian dinjualnya sebagai budak. Haritsah ayahnya sudah lama mencarinya dan ketika pada suatu waktu mengetahui bahwa anaknya tersebut tinggal bersama Muhammad, maka dia bertekad untuk menjemput dan menebusnya kembali, walaupun untuk itu harus menghabiskan seluruh harta bendanya.
Ketika rombongan mereka bertemu dengan Muhammad dan menyampaikan maksudnya untuk menebus Zaid terjadilah dialog diantara mereka. "Biarkanlah ia memilih," kata Muhammad kepada Haritsah, "dan jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jia ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku." Kemudian, beliau memanggil Zaid dan berkata, "engkau sangat mengenalku, dan engkau telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, kamu pilihlah antara aku dan mereka." Zaid menetapkan pilihan dan seketika itu ia berkata, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku engkau laksana ayah dan ibu." "keterlaluan engkau Zaid!" seru Haritsah. "Apakah engkau lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah engkau lebih memilih dia daripada ayahmu, pamanmu dan keluargamu?" "Begitulah," kata Zaid, "karena aku telah menyaksikan dari dia sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapapun selainnya."
Muhammad memotong percakapan lebih lanjut. Ia mengajak mereka pergi bersamanya ke Ka'bah. Sambil berdiri di Hijr, dengan lantang ia berkata, "Wahai semua yang hadir! Saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Aku ahli warisnya dan dia ahli warisku."
Akhirnya, rombongan ayah dan paman Zaid kembali dengan tangan hampa. Namun, kisah yang harus mereka ceritakan kepada suku mereka - tentang hubungan cinta yang mendalam dalam adopsi ini - bukan sesuatu yang memalukan. Ketika menyaksikan Zaid bebas, dimuliakan, dan dijanjikan mendapat kedudukan tinggi di tengah penduduk Tanah Suci, mereka berharap kelak Zaid akan memberikan keuntungan bagi kaumnya. Karena itu mereka menerima hal itu dan pergi tanpa rasa kesal.