Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy lainnya tidaklah dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Mekah. Setiap hari niscaya ada saja orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang tidak terpesona oleh pengaruh dunia. Mereka sudah melihat Muhammad yang berkecukupan, baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri, namun dia tidak mabuk dengan harta tersebut. Ia mengajak orang hidup dalam kasih sayang dengan lemah lembut, dalam kemesraan dan lapang dada saling bertoleransi. Bahkan dia menerima wahyu yang menyebutkan bahwa menumpuk-numpuk harta adalah suatu kutukan terhadap jiwa (QS.102)
Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy lainnya, mulai merasakan bahwa ajaran Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Mereka mulai menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya dan mendustakan segala apa yang dinamakan kenabian itu. Sementara itu pula beberapa orang meminta Muhammad membuktikan kerasulannya dengan menunjukkan mukjizat seperti pada Musa dan Isa.
Debat mereka berkepanjangan. Tetapi wahyu yang datang menjawab debat mereka :
"Katakanlah: 'Aku tak berkuasa membawa kebaikan atau menolak bahaya untuk diriku
sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
niscaya kuperbanyak kebaikan itu dan bahayapun tidak akan menyentuhku. Tapi aku
tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi mereka yang
beriman."
Ya. Muhamad hanya mengingatkan dan membawa berita gembira. Bagaimana pula mereka masih menuntutnya dengan beberapa mukjizat, padahal kitab yang diwahyukan kepadanya itu dan yang menunjukan jalan yang benar (al-Quran) adalah mukjizat dari segala mukjizat. Kenapa mereka masih menuntut supaya kerasulannya itu diperkuat lagi dengan keanehan-keanehan yang tidak masuk akal, yang sesudah itu nanti mereka pun akan ragu-ragu lagi. Dan ini, yang mereka katakan sebagai tuhan-tuhan mereka itu, tidak lebih adalah benda mati, batu atau kayu yang disangga atau berhala yang tegak ditengah pasir, yang tidak dapat membawa kebaikan ataupun menolak bahaya. Sungguhpun begitu mereka menyembahnya juga, tanpa menuntut pembuktian sifat-sifat ketuhanannya.
Muhammad pun sudah terang-terangan menyebut Hubal, Lat, 'Uzza, dewa-dewa, berhala-berhala yang mereka sembah adalah sesuatu yang tak berguna, sehingga hal itu menjadi soal besar bagi Quraisy dan dirasakan menusuk hati mereka.
Abu Talib pamannya belum lagi menganut Islam. tetapi tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy pergi menemui Abu Talib, memintanya agar dia menghentikan kegiatan dakwah Muhammad.
Namun Rasullullah tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Quraisy. Lebih baik mati ia membawa iman kebenaran yang telah diwahyukan kepadanya daripada menyerah atau ragu-ragu. Karena itu dengan jiwa yang penuh kekuatan, ia berkata kepada Abu Talib :
"Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini,
sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kebenaran
itu: ditanganku, atau aku binasa karenanya."
Ya, demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu! Gemetar orang tua ini mendengar jawaban Muhammad, tertegun ia. Ternyata ia berdiri di hadapan tenaga kudus dan kemauan yang begitu tinggi, diatas segala kemampuan tenaga hidup yang ada

