Friday, March 29, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 17



ABU JAHL DAN HAMZAH
Salah seorang musuh Islam terbesar adalah Abu al-Hakam yang dijuluki oleh kaum muslim sebagai Abu Jahl, "Bapak Kebodohan." karena dialah penyiksa yang paling kejam Jika pemeluk Islam itu memiliki keluarga yang berkuasa untuk melindunginya, Abu Jahl hanya akan menghinanya, berjanji akan menjatuhkan reputasinya dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Namun jika ia adalah pedagang, maka Abu Jahl mengancam akan menghentikan perdagangannya dengan mengatur pemboikotan masal terhadap barang dagangannya sampai ia bangkrut. Jika ia orang yang lemah, tidak mempunyai pelindung, maka Abu Jahl akan menindasnya. Ia menjadikan dirinya sebagai orang yang ditakuti, dialah yang paling keras membuat tuduhan kepada Nabi sebagai tukang sihir yang berbahaya. Melalui dialah warga kabilahnya menyiksa 3 orang : Yasir, Summayyah dan anak mereka Ammar, hingga Summayyah akhirnya meninggal dunia.
Hamzah, paman Nabi, adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Pada suatu hari, ketika mengetahui kemenakannya itu mendapat gangguan, hinaan dan cercaan Abu Jahl, ia meluap marah. Ia pergi mencari Abu Jahl. Setelah dijumpainya, diangkatnya busur panah yang dibawanya lalu dipukulkan keras-keras ke kepala Abu Jahl. "Kini aku memeluk agamanya dan mendakwahkan apa yang ia dakwahkan! Akankah engkau menghinanya? Jika engkau mau, mari kita bertarung satu lawan satu! Abu Jahl bukannya tidak berani, namun ia merasa peristiwa tersebut lebih baik diakhiri. Oleh karena itu, ketika beberapa kerabatnya berdiri untuk membelanya, ia menyuruh mereka duduk. "Biarlah, karena demi Tuhan, aku telah menghina keponakannya dengan hinaan yang menyakitkan. "
Sejak itu, Hamzah dengan penuh keyakinan mempertahankan keislamannya dan mengikuti semua ajaran Nabi. Perpindahannya ke Islam membuat kaum Quraisy kini semakin ragu-ragu untuk mengganggu Nabi secara terbuka, karena Hamzah pasti melindunginya. Oleh karena itu mereka kemudian mengubah taktik dengan cara menawarkan sesuatu yang mungkin mau diterima Muhammad.
 Maka, diurtuslah Utbah untuk menemui Muhammad. "Putera saudaraku," kata Utbah, "Engkau membawa masalah besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai berai karenanya. Sekarang dengarkanlah kami. Kami menawarkan, kalau dalam hal ini yang kau inginkan harta, kami siap mengumpulkan harta kami dan menyerahkannya kepadamu, sehingga  hartamu akan menjadi yang terbanyak diantara kami. Kalau kau menghendaki kedudukan, kami angkat engkau di atas kami semua; kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau kau ingin menjadi raja, kami nobatkan engkau sebagai raja kami.
Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (32=Ha Mim). Utba terdiam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu. dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah seorang laki-laki yang di dorong oleh ambisi harta, kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang yang sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik, dengan kata-kata penuh mukjizat.
Selesai membacakan itu Utba pergi kembali kepada Quraisy. Apa yang dilihat dan didengarnya itu sangat mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangatlah menarik hati. Persoalannya Utba ini tidak menyenagkan Quraisy, juga pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak menggembirakan mereka. Maka kembali lagilah mereka memusuhi Muhammad dan sahabat-sahabatnya

Sunday, March 17, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 16



PERLAWANAN QURAISY
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy lainnya tidaklah dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Mekah. Setiap hari niscaya ada saja orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang tidak terpesona oleh pengaruh dunia. Mereka sudah melihat Muhammad yang berkecukupan, baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri, namun dia tidak mabuk dengan harta tersebut. Ia mengajak orang hidup dalam kasih sayang dengan lemah lembut, dalam kemesraan dan lapang dada saling bertoleransi. Bahkan dia menerima wahyu yang menyebutkan bahwa menumpuk-numpuk harta adalah suatu kutukan terhadap jiwa (QS.102)
Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy lainnya, mulai merasakan bahwa ajaran Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Mereka mulai menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya dan mendustakan segala apa yang dinamakan kenabian itu. Sementara itu pula beberapa orang meminta Muhammad membuktikan kerasulannya dengan menunjukkan mukjizat seperti pada Musa dan Isa.
Debat mereka berkepanjangan. Tetapi wahyu yang datang menjawab debat mereka :
  "Katakanlah: 'Aku tak berkuasa membawa kebaikan atau menolak bahaya untuk diriku
   sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
   niscaya kuperbanyak kebaikan itu dan bahayapun tidak akan menyentuhku. Tapi aku
   tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi mereka yang
   beriman."
Ya. Muhamad hanya mengingatkan dan membawa berita gembira. Bagaimana pula mereka masih menuntutnya dengan beberapa mukjizat, padahal kitab yang diwahyukan kepadanya itu dan yang menunjukan jalan yang benar (al-Quran) adalah mukjizat dari segala mukjizat. Kenapa mereka masih menuntut supaya kerasulannya itu diperkuat lagi dengan keanehan-keanehan yang tidak masuk akal, yang sesudah itu nanti mereka pun akan ragu-ragu lagi. Dan ini, yang mereka katakan sebagai tuhan-tuhan mereka itu, tidak lebih adalah benda mati, batu atau kayu yang disangga atau berhala yang tegak ditengah pasir, yang tidak dapat membawa kebaikan ataupun menolak bahaya. Sungguhpun begitu mereka menyembahnya juga, tanpa menuntut pembuktian sifat-sifat ketuhanannya.
Muhammad pun sudah terang-terangan menyebut Hubal, Lat, 'Uzza, dewa-dewa, berhala-berhala yang mereka sembah adalah sesuatu yang tak berguna, sehingga hal itu menjadi soal besar bagi Quraisy dan dirasakan menusuk hati mereka.
Abu Talib pamannya belum lagi menganut Islam. tetapi tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy pergi menemui Abu Talib, memintanya agar dia  menghentikan  kegiatan dakwah Muhammad.
Namun Rasullullah tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Quraisy. Lebih baik mati ia membawa iman kebenaran yang telah diwahyukan kepadanya daripada menyerah atau ragu-ragu. Karena itu dengan jiwa yang penuh kekuatan, ia berkata kepada Abu Talib :
   "Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
    meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini,
    sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kebenaran
    itu: ditanganku, atau aku binasa karenanya."
Ya, demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu! Gemetar orang tua ini mendengar jawaban Muhammad, tertegun ia. Ternyata ia berdiri di hadapan tenaga kudus dan kemauan yang begitu tinggi, diatas segala kemampuan tenaga hidup yang ada

Sunday, March 10, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 15



PARA SAHABAT
Abu Bakar adalah teman akrab Muhammad. Ia orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya, sehingga dikemudian hari dia diberi julukan "As Siddiq" (yang membenarkan) .
Diluar lingkup keluarganya Abubakar adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.. Dia juga laki-laki pertama tempat Muhammad membukakan isi hatinya akan segala yang dilihat serta wahyu yang diterima. Abubakar tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad. Jiwa yang mana lagi yang memang mendambakan kebenaran hakiki masih ragu-ragu meninggalkan penyembahan berhala untuk kemudian menyembah Allah Yang Maha Esa
Dari kalangan masyarakat yang dipercaya oleh Abubakar diajaknya mereka kepada Islam. Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talha bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin al-Awwam mengikutinya pula masuk Islam.. Disusul oleh Abu Ubaida bin al-Jarrah, dan banyak lagi yang lainnya.
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisme (penyembahan berhala), maka kaum Muslimin masih sembunyi-sembunyi dalam melaksanakan ibadahnya. Apabila mereka akan melakukan shalat, mereka pergi kecelah-celah gunung. Keadaan serupa ini berjalan selama 3 tahun, sementara Islam tambah meluas di kalangan penduduk Mekah. Wahyu yang datang kepada Muhammad semakin memperkuat iman kaum Muslimin.
Yang menambah berkembangnya dakwah Islam sebenarnya karena teladan yang diberikan Muhammad sangat baik sekali, ia penuh bakti dan penuh kasih sayang, sangat rendah hati dan penuh kejantanan, tutur katanya lemah lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya terhadap orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah lembut dan mesra. Malam hari bertahajud, membaca wahyu yang disampaikan kepadanya, renungannya selalu tentang alam semesta, mencari pertanda dari segenap wujud ini, permohonannya selalu dihadapkan hanya kepada Allah.
Islam belum didakwahkan secara terbuka. Namun, jumlah orang mukmin dan para ahli ibadah kian meningkat, baik lelaki maupun perempuan. Mayoritas mereka adalah kaum muda. Namun, tidak ada satu pun dari keempat paman Nabi yang menunjukkan keinginan untuk mengikutinya. Abu Thalib tidak keberatan atas keislaman kedua puteranya, Ja'far dan Ali, namun ia sendiri tidak siap untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Abbas menghindar; Hamzah tidak dapat dimengerti, meskipun keduanya menjamin akan tetap mengasihi Nabi secara peribadi. Abu Lahab secara terbuka menuduh keponakannya itu sebagai orang tertipu, kalau bukan penipu.
Setelah turunnya ayat, "Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS.26:214), Nabi pun mengundang makan keluarga dekatnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Lahab, pamannya, lalu menyetop pembicaraan itu. Keesokan harinya, sekali lagi Muhammad mengundang mereka. Selesai makan, katanya kepada mereka: "Aku yakin tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada kaumnya dengan ajaran yang lebih mulia dari yang kubawa. Aku membawakan kepada kalian yang terbaik di  dunia ini dan di akhirat nanti. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian kepada-Nya. Siapa diantara kalian yang akan membantuku dan menjadi saudaraku, pelaksanaku, dan penggantiku diantara kalian?"  Mereka semua menolak, dan sudah siap-siap akan meninggalkannya. Tetapi, tiba-tiba Ali bangkit - ketika itu ia masih anak-anak, belum lagi baligh - "Rasulullah, akulah yang akan membantumu," katanya. "Aku adalah lawan dari siapa saja yang menentangmu. " Hadirin yang lain tertawa terbahak-bahak, kemudian mereka pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Sesudah itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu ketika Muhammad mengumpulkan masyarakat Quraisy untuk didakwahi tentang Islam. Namun, kemudian Abu Lahab - seorang laki-laki berbadan gemuk dan cepat naik darah - kemudian berdiri sambil meneriakkan: "Celaka kau hari ini. Untuk inikah kau kumpulkan kami?" Muhammad tidak dapat bicara. Di lihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Allah :
  "Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa. Tak ada
    gunanya harta benda dan apa yang ia usahanya itu. Kelak ia akan masuk kedalam api
    yang menyala-nyala. " (QS.111:1-3)   "Tabbat yadaa abi lahabiw watabb. Maa aghnaa
    anhu maaluhu wa maa kasab. Sayashlaa naa raan dzata lahabb."