Salah seorang musuh Islam terbesar adalah Abu al-Hakam yang dijuluki oleh kaum muslim sebagai Abu Jahl, "Bapak Kebodohan." karena dialah penyiksa yang paling kejam Jika pemeluk Islam itu memiliki keluarga yang berkuasa untuk melindunginya, Abu Jahl hanya akan menghinanya, berjanji akan menjatuhkan reputasinya dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Namun jika ia adalah pedagang, maka Abu Jahl mengancam akan menghentikan perdagangannya dengan mengatur pemboikotan masal terhadap barang dagangannya sampai ia bangkrut. Jika ia orang yang lemah, tidak mempunyai pelindung, maka Abu Jahl akan menindasnya. Ia menjadikan dirinya sebagai orang yang ditakuti, dialah yang paling keras membuat tuduhan kepada Nabi sebagai tukang sihir yang berbahaya. Melalui dialah warga kabilahnya menyiksa 3 orang : Yasir, Summayyah dan anak mereka Ammar, hingga Summayyah akhirnya meninggal dunia.
Hamzah, paman Nabi, adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Pada suatu hari, ketika mengetahui kemenakannya itu mendapat gangguan, hinaan dan cercaan Abu Jahl, ia meluap marah. Ia pergi mencari Abu Jahl. Setelah dijumpainya, diangkatnya busur panah yang dibawanya lalu dipukulkan keras-keras ke kepala Abu Jahl. "Kini aku memeluk agamanya dan mendakwahkan apa yang ia dakwahkan! Akankah engkau menghinanya? Jika engkau mau, mari kita bertarung satu lawan satu! Abu Jahl bukannya tidak berani, namun ia merasa peristiwa tersebut lebih baik diakhiri. Oleh karena itu, ketika beberapa kerabatnya berdiri untuk membelanya, ia menyuruh mereka duduk. "Biarlah, karena demi Tuhan, aku telah menghina keponakannya dengan hinaan yang menyakitkan. "
Sejak itu, Hamzah dengan penuh keyakinan mempertahankan keislamannya dan mengikuti semua ajaran Nabi. Perpindahannya ke Islam membuat kaum Quraisy kini semakin ragu-ragu untuk mengganggu Nabi secara terbuka, karena Hamzah pasti melindunginya. Oleh karena itu mereka kemudian mengubah taktik dengan cara menawarkan sesuatu yang mungkin mau diterima Muhammad.
Maka, diurtuslah Utbah untuk menemui Muhammad. "Putera saudaraku," kata Utbah, "Engkau membawa masalah besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai berai karenanya. Sekarang dengarkanlah kami. Kami menawarkan, kalau dalam hal ini yang kau inginkan harta, kami siap mengumpulkan harta kami dan menyerahkannya kepadamu, sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak diantara kami. Kalau kau menghendaki kedudukan, kami angkat engkau di atas kami semua; kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau kau ingin menjadi raja, kami nobatkan engkau sebagai raja kami.
Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (32=Ha Mim). Utba terdiam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu. dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah seorang laki-laki yang di dorong oleh ambisi harta, kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang yang sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik, dengan kata-kata penuh mukjizat.
Selesai membacakan itu Utba pergi kembali kepada Quraisy. Apa yang dilihat dan didengarnya itu sangat mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangatlah menarik hati. Persoalannya Utba ini tidak menyenagkan Quraisy, juga pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak menggembirakan mereka. Maka kembali lagilah mereka memusuhi Muhammad dan sahabat-sahabatnya


