Monday, April 15, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 18



HIJRAH KE ABISINIA
Inilah migrasi (hijrah) pertama dalam Islam, karena kaum muslimin sudah tidak tahan lagi dengan penindasan yang dilakukan oleh kaum Quraisy Mekah..
Gangguan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Muhammad kemudian menyarankan supaya mereka berhijrah ke Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. "Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang di aniaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua." akhirnya kaum muslimin berangkat secara rahasia dan dilakukan per kelompok kecil sehingga tidak diketahui oleh Quraisy. Mereka semuanya berjumlah sekitar 80 orang. Puteri Nabi, Ruqayyah (isteri Ustman bin Afan) juga termasuk dalam rombongan tersebut. Kehadirannya menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat di pengasingan itu. Dan Nabi memilih Ja'far untuk menjadi pemimpin bagi masyarakat di pengasingan itu
Quraisy tidak membiarkan mereka tenang menetap disana. Quraisy menyiapkan seuatu rencana dengan menyogok semua jenderal Negus, seraya mengatakan, "Beberapa pria dan wanita bodoh dari kaum kami telah melarikan diri ke kerajaan ini. Mereka telah meninggalkan agama mereka sendiri bukan untuk memeluk agama anda, melainkan untuk agama yang mereka ciptakan. Kami diutus kepada raja anda agar beliau berkenan memulangkan mereka."  Para jenderal yang telah disogok itu membujuk raja Negus agar memulangkan kaum muslimin itu kembali ke negaranya. Namun, Negus tidak berkenan, "Tidak! Demi Tuhan, mereka tidak boleh dihianati - mereka telah meminta suaka perlindunganku dan menjadikan negeriku sebagai tempat tinggal, serta telah memilihku dari yang lainnya!
Negus berkata kepada rombongan muslimin, "Agama apa gerangan yang menyebabkan kalian berpisah dari kaum kalian?" Ja'far menjawab, "Paduka Raja! Dulu, kami masyarakat bodoh, menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala kejahatan kami lakukan,  yang kuat menindas yang lemah. Begitulah kami, sampai Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami, seseorang yang kami ketahui garis keturunannya, juga kejujuran, integritas dan penghargaannya terhadap kebenaran. Ia mengajak kami kepada Allah, bersaksi akan keesaan-Nya. Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, memenuhi janji, menghormati hak-hak orang lain. Ia melarang kami melakukan kejahatan dan pertumpahan darah. Karena alasan ini, kaum kami menentang dan menyiksa kami agar murtad dari agama kami, serta kembali menyembah berhala. Karena itu pulalah, kami datang ke negeri Tuan, memilih anda dari yang lain. Dan, kami puas dengan perlindungan anda. Harapan kami, wahai Raja, disini bersama anda, kami tidak akan diperlakukan sewenang-wenang. "
Negus kemudian bertanya apakah ada wahyu Ilahi yang dibawa Nabi mereka.. Ketika Ja'far mengiyakan, Negus berkata, "Bacakanlah kepadaku!" Segera Ja'far membacakan sebagian dari surah Maryam yang baru diturunkan tidak lama sebelum keberangkatan mereka :
  Jibril berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk
  memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Maryam berkata: " Bagaimana akan ada
  bagiku seorang anak, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku
  bukan pula seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah Tuhanmu berfirman: "Hal itu
  mudah bagi-Ku, dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan
  sebagai rahmat dari Kami."
Negus menangis, begitu pula para pendetanya, saat mereka mendengar ayat itu dibacakan. Negus berkata, "Ini benar-benar berasal dari sumber yang sama seperti yang dibawa oleh Yesus." Kemudian ia berkata kepada para utusan Quraisy, "Engkau boleh pergi! Karena demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu; mereka tidak boleh dikhianati." 
Ketika utusan itu kembali ke Mekah dan melaporkan kegagalan misi mereka itu, pihak Quraisy merasa cemas dan jengkal. Mereka segera meningkatkan tekanan dan siksaan terhadap kaum mukmin, di bawah arahan Abu Jahl dan keponakannya Umar, orang yang paling keras dan paling patuh menjalankan instruksinya. Saat itu Umar berusai 26 tahun, pemuda keras kepala, tidak mudah gentar dan sangat tegas.
Ekspresi kemurkaan yang tampak diwajah Umar membuat Nu'aym, yang telah memeluk Islam secara diam-diam, bertanya kemana Umar hendak pergi, "Aku akan menemui Muhammad, membalas dendam karena dia telah memecah belah Quraisy menjadi dua golongan, dan aku akan membunuhnya, " kata Umar.

Friday, March 29, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 17



ABU JAHL DAN HAMZAH
Salah seorang musuh Islam terbesar adalah Abu al-Hakam yang dijuluki oleh kaum muslim sebagai Abu Jahl, "Bapak Kebodohan." karena dialah penyiksa yang paling kejam Jika pemeluk Islam itu memiliki keluarga yang berkuasa untuk melindunginya, Abu Jahl hanya akan menghinanya, berjanji akan menjatuhkan reputasinya dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Namun jika ia adalah pedagang, maka Abu Jahl mengancam akan menghentikan perdagangannya dengan mengatur pemboikotan masal terhadap barang dagangannya sampai ia bangkrut. Jika ia orang yang lemah, tidak mempunyai pelindung, maka Abu Jahl akan menindasnya. Ia menjadikan dirinya sebagai orang yang ditakuti, dialah yang paling keras membuat tuduhan kepada Nabi sebagai tukang sihir yang berbahaya. Melalui dialah warga kabilahnya menyiksa 3 orang : Yasir, Summayyah dan anak mereka Ammar, hingga Summayyah akhirnya meninggal dunia.
Hamzah, paman Nabi, adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Pada suatu hari, ketika mengetahui kemenakannya itu mendapat gangguan, hinaan dan cercaan Abu Jahl, ia meluap marah. Ia pergi mencari Abu Jahl. Setelah dijumpainya, diangkatnya busur panah yang dibawanya lalu dipukulkan keras-keras ke kepala Abu Jahl. "Kini aku memeluk agamanya dan mendakwahkan apa yang ia dakwahkan! Akankah engkau menghinanya? Jika engkau mau, mari kita bertarung satu lawan satu! Abu Jahl bukannya tidak berani, namun ia merasa peristiwa tersebut lebih baik diakhiri. Oleh karena itu, ketika beberapa kerabatnya berdiri untuk membelanya, ia menyuruh mereka duduk. "Biarlah, karena demi Tuhan, aku telah menghina keponakannya dengan hinaan yang menyakitkan. "
Sejak itu, Hamzah dengan penuh keyakinan mempertahankan keislamannya dan mengikuti semua ajaran Nabi. Perpindahannya ke Islam membuat kaum Quraisy kini semakin ragu-ragu untuk mengganggu Nabi secara terbuka, karena Hamzah pasti melindunginya. Oleh karena itu mereka kemudian mengubah taktik dengan cara menawarkan sesuatu yang mungkin mau diterima Muhammad.
 Maka, diurtuslah Utbah untuk menemui Muhammad. "Putera saudaraku," kata Utbah, "Engkau membawa masalah besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai berai karenanya. Sekarang dengarkanlah kami. Kami menawarkan, kalau dalam hal ini yang kau inginkan harta, kami siap mengumpulkan harta kami dan menyerahkannya kepadamu, sehingga  hartamu akan menjadi yang terbanyak diantara kami. Kalau kau menghendaki kedudukan, kami angkat engkau di atas kami semua; kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau kau ingin menjadi raja, kami nobatkan engkau sebagai raja kami.
Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (32=Ha Mim). Utba terdiam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu. dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah seorang laki-laki yang di dorong oleh ambisi harta, kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang yang sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik, dengan kata-kata penuh mukjizat.
Selesai membacakan itu Utba pergi kembali kepada Quraisy. Apa yang dilihat dan didengarnya itu sangat mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangatlah menarik hati. Persoalannya Utba ini tidak menyenagkan Quraisy, juga pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak menggembirakan mereka. Maka kembali lagilah mereka memusuhi Muhammad dan sahabat-sahabatnya

Sunday, March 17, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 16



PERLAWANAN QURAISY
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy lainnya tidaklah dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Mekah. Setiap hari niscaya ada saja orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang tidak terpesona oleh pengaruh dunia. Mereka sudah melihat Muhammad yang berkecukupan, baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri, namun dia tidak mabuk dengan harta tersebut. Ia mengajak orang hidup dalam kasih sayang dengan lemah lembut, dalam kemesraan dan lapang dada saling bertoleransi. Bahkan dia menerima wahyu yang menyebutkan bahwa menumpuk-numpuk harta adalah suatu kutukan terhadap jiwa (QS.102)
Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy lainnya, mulai merasakan bahwa ajaran Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Mereka mulai menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya dan mendustakan segala apa yang dinamakan kenabian itu. Sementara itu pula beberapa orang meminta Muhammad membuktikan kerasulannya dengan menunjukkan mukjizat seperti pada Musa dan Isa.
Debat mereka berkepanjangan. Tetapi wahyu yang datang menjawab debat mereka :
  "Katakanlah: 'Aku tak berkuasa membawa kebaikan atau menolak bahaya untuk diriku
   sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
   niscaya kuperbanyak kebaikan itu dan bahayapun tidak akan menyentuhku. Tapi aku
   tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi mereka yang
   beriman."
Ya. Muhamad hanya mengingatkan dan membawa berita gembira. Bagaimana pula mereka masih menuntutnya dengan beberapa mukjizat, padahal kitab yang diwahyukan kepadanya itu dan yang menunjukan jalan yang benar (al-Quran) adalah mukjizat dari segala mukjizat. Kenapa mereka masih menuntut supaya kerasulannya itu diperkuat lagi dengan keanehan-keanehan yang tidak masuk akal, yang sesudah itu nanti mereka pun akan ragu-ragu lagi. Dan ini, yang mereka katakan sebagai tuhan-tuhan mereka itu, tidak lebih adalah benda mati, batu atau kayu yang disangga atau berhala yang tegak ditengah pasir, yang tidak dapat membawa kebaikan ataupun menolak bahaya. Sungguhpun begitu mereka menyembahnya juga, tanpa menuntut pembuktian sifat-sifat ketuhanannya.
Muhammad pun sudah terang-terangan menyebut Hubal, Lat, 'Uzza, dewa-dewa, berhala-berhala yang mereka sembah adalah sesuatu yang tak berguna, sehingga hal itu menjadi soal besar bagi Quraisy dan dirasakan menusuk hati mereka.
Abu Talib pamannya belum lagi menganut Islam. tetapi tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy pergi menemui Abu Talib, memintanya agar dia  menghentikan  kegiatan dakwah Muhammad.
Namun Rasullullah tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Quraisy. Lebih baik mati ia membawa iman kebenaran yang telah diwahyukan kepadanya daripada menyerah atau ragu-ragu. Karena itu dengan jiwa yang penuh kekuatan, ia berkata kepada Abu Talib :
   "Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
    meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini,
    sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kebenaran
    itu: ditanganku, atau aku binasa karenanya."
Ya, demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu! Gemetar orang tua ini mendengar jawaban Muhammad, tertegun ia. Ternyata ia berdiri di hadapan tenaga kudus dan kemauan yang begitu tinggi, diatas segala kemampuan tenaga hidup yang ada