Sunday, March 10, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 15



PARA SAHABAT
Abu Bakar adalah teman akrab Muhammad. Ia orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya, sehingga dikemudian hari dia diberi julukan "As Siddiq" (yang membenarkan) .
Diluar lingkup keluarganya Abubakar adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.. Dia juga laki-laki pertama tempat Muhammad membukakan isi hatinya akan segala yang dilihat serta wahyu yang diterima. Abubakar tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad. Jiwa yang mana lagi yang memang mendambakan kebenaran hakiki masih ragu-ragu meninggalkan penyembahan berhala untuk kemudian menyembah Allah Yang Maha Esa
Dari kalangan masyarakat yang dipercaya oleh Abubakar diajaknya mereka kepada Islam. Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talha bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin al-Awwam mengikutinya pula masuk Islam.. Disusul oleh Abu Ubaida bin al-Jarrah, dan banyak lagi yang lainnya.
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisme (penyembahan berhala), maka kaum Muslimin masih sembunyi-sembunyi dalam melaksanakan ibadahnya. Apabila mereka akan melakukan shalat, mereka pergi kecelah-celah gunung. Keadaan serupa ini berjalan selama 3 tahun, sementara Islam tambah meluas di kalangan penduduk Mekah. Wahyu yang datang kepada Muhammad semakin memperkuat iman kaum Muslimin.
Yang menambah berkembangnya dakwah Islam sebenarnya karena teladan yang diberikan Muhammad sangat baik sekali, ia penuh bakti dan penuh kasih sayang, sangat rendah hati dan penuh kejantanan, tutur katanya lemah lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya terhadap orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah lembut dan mesra. Malam hari bertahajud, membaca wahyu yang disampaikan kepadanya, renungannya selalu tentang alam semesta, mencari pertanda dari segenap wujud ini, permohonannya selalu dihadapkan hanya kepada Allah.
Islam belum didakwahkan secara terbuka. Namun, jumlah orang mukmin dan para ahli ibadah kian meningkat, baik lelaki maupun perempuan. Mayoritas mereka adalah kaum muda. Namun, tidak ada satu pun dari keempat paman Nabi yang menunjukkan keinginan untuk mengikutinya. Abu Thalib tidak keberatan atas keislaman kedua puteranya, Ja'far dan Ali, namun ia sendiri tidak siap untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Abbas menghindar; Hamzah tidak dapat dimengerti, meskipun keduanya menjamin akan tetap mengasihi Nabi secara peribadi. Abu Lahab secara terbuka menuduh keponakannya itu sebagai orang tertipu, kalau bukan penipu.
Setelah turunnya ayat, "Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS.26:214), Nabi pun mengundang makan keluarga dekatnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Lahab, pamannya, lalu menyetop pembicaraan itu. Keesokan harinya, sekali lagi Muhammad mengundang mereka. Selesai makan, katanya kepada mereka: "Aku yakin tidak ada seorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada kaumnya dengan ajaran yang lebih mulia dari yang kubawa. Aku membawakan kepada kalian yang terbaik di  dunia ini dan di akhirat nanti. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian kepada-Nya. Siapa diantara kalian yang akan membantuku dan menjadi saudaraku, pelaksanaku, dan penggantiku diantara kalian?"  Mereka semua menolak, dan sudah siap-siap akan meninggalkannya. Tetapi, tiba-tiba Ali bangkit - ketika itu ia masih anak-anak, belum lagi baligh - "Rasulullah, akulah yang akan membantumu," katanya. "Aku adalah lawan dari siapa saja yang menentangmu. " Hadirin yang lain tertawa terbahak-bahak, kemudian mereka pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Sesudah itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu ketika Muhammad mengumpulkan masyarakat Quraisy untuk didakwahi tentang Islam. Namun, kemudian Abu Lahab - seorang laki-laki berbadan gemuk dan cepat naik darah - kemudian berdiri sambil meneriakkan: "Celaka kau hari ini. Untuk inikah kau kumpulkan kami?" Muhammad tidak dapat bicara. Di lihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Allah :
  "Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa. Tak ada
    gunanya harta benda dan apa yang ia usahanya itu. Kelak ia akan masuk kedalam api
    yang menyala-nyala. " (QS.111:1-3)   "Tabbat yadaa abi lahabiw watabb. Maa aghnaa
    anhu maaluhu wa maa kasab. Sayashlaa naa raan dzata lahabb."

Sunday, January 6, 2013

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 14




IBADAH
Ketika ditanya bagaimana wahyu datang kepadanya, Nabi menyebutkan ada dua cara. "Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi sebuah bel. Cara itulah yang terberat bagiku. Bunyi itu menghilang setelah aku memahaminya. Terkadang, malaikat menampakkan diri dalam rupa manusia. Ia berbicara kepadaku, lalu aku mengerti apa yang dikatakannya. "
Muhammad mulai memikirkan, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu. Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan sanak famili yang dekat. Tetapi mereka dalam kesesatan. Sedang apa yang dianjurkan kepada mereka, itulah yang benar. Ia ingin mengajak mereka agar jiwa dan hati nurani mereka dapat lebih tinggi sehingga dapat berhubungan dengan Allah yang telah menciptakan mereka dan nenek moyang mereka. Kaum Quraisy itu, jantungnya sudah begitu keras, jiwa yang sudah begitu kaku, sudah jadi kering dalam menyembah berhala seperti yang dilakukan nenek moyang mereka. Inilah yang menjadi masalah besar itu.
Muhamad menantikan bimbingan wahyu untuk mengatasi masalahnya, menantikan adanya penyuluh yang menerangi jalannya. Tetapi, wahyu itu sekarang terputus. Jibrilpun tidak datang lagi kepadanya. Tempat disekitarnya menjadi sunyi, bisu. Ia merasa terasing dari orang, dan dari dirinya sendiri.
Sementara ia sedang dalam kekuatiran, merasa Tuhan telah meninggalkannya - sesudah sekian lama wahyu terhenti - tiba-tiba datang wahyu membawa firman Tuhan :
  "Demi pagi yang cerah dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak 
  meninggalkanmu dan pula tidak benci kepadamu. Dan sungguh hari kemudian itu lebih
  baik bagimu daripada yang sekarang. Kelak Tuhanmu akan memberikan karunia-Nya
  kepadamu, lalu hatimu mejadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
  yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu
  Dia memberikan petunjuk. Dan mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
  memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku
  sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu
  menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-
  nyebutnya dengan bersyukur (QS.93).
Itulah surat Adh Dhuhaa yang merupakan surat penghibur bagi Muhammad.
Nabi kini mulai berbicara tentang malaikat dan wahyu kepada orang-orang yang, sesudah isterinya, paling dekat dan paling akrab dengannya. Hanya saja beliau meminta mereka merahasiakannya. Namun, situasi itu tidak berlangsung lama. Suatu hari Jibril datang kepadanya di dataran tinggi kota Mekah. Jibril menendang dinding bukit dengan tumitnya hinga memancarkan mata air. Kemudian Jibril berwudhu untuk mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri untuk beribadah. Nabipun mengikutinya. Lalu, Jbril menunjukkan tata cara shalat: berdiri, rukuk, sujud dan duduk, dengan mengulangi takbir, yaitu ucapan 'Allahhu Akbar' (Allah Maha Besar) dan salam terakhir 'as-salamu'alaikum' (keselamatan atasmu). Nabi pun mengikuti. Setelah memahami semua itu kemudian Nabi mengajarkan kepada Khadijah dan mereka pun shalat bersama.
Tatkala Muhammad dan Khadijah sedang shalat, tiba-tiba Ali menyeruak masuk. Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan sujud serta membaca beberapa ayat Quran. Ali tertegun berdiri : "Kepada siapa kalian sujud?" tanyanya setelah shalat selesai. "Kami sujud kepada Allah," jawab Muhammad. "Yang mengutusku menjadi Nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah."
Lalu Muhammad mengajak sepupunya itu beribadah kepada Allah dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan Uzza. Muhammad kemudian membacakan beberapa ayat Quran. Ali sangat terpesona dengan keindahan ayat-ayat Quran itu.
Ali adalah anak pertama yang menerima Islam, kemudian Zaid bin Haritsa, bekas budak Muhammad yang kemudian menjadi anak angkatnya. Dengan demikian Islam masih terbatas hanya dalam lingkungan keluarga Muhammad.