Saturday, November 17, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 12



PEMUGARAN KA'BAH
KITAB kejadian (Genesis) menceritakan bahwa Ibrahim tidak memiliki anak, dan tak ada harapan lagi untuk memilikinya. Pada suatu malam, Tuhan menyuruhnya keluar dari tenda. "Sekarang," firman-Nya, "pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang disana, bila engkau sanggup." Ibrahim pun menatap langit dan terdengarlah suara: "Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti."
Ketika Sarah berusia 76 tahun - umur yang terlalu lanjut untuk menerima kehadiran seorang bayi - Sarah mengizinkan suaminya itu menikahi Hajar, budaknya asal Mesir. Meskipun demikian, perasaan cemburu tumbuh juga diantara majikan dan budaknya, sehingga Hajar menjadi sasaran kemarahan Sarah. Hajar hanya mampu mengadukan segala deritanya kepada Tuhan. Maka Tuhan mengutus seorang malaikat kepadanya: "Aku akan memperbanyak keturunanmu yang tak terhitung jumlahnya." Sang malaikat juga berkata: "Berbahagialah! Kamu akan dikaruniai seorang anak. Namailah Ismail, karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu. " Hajar lalu menemui Ibrahim dan Sarah dan menyampaikan apa yang dikatakan malaikat. Ketika bayi yang didambakan itu lahir, Ibrahim memberinya nama Ismail, yang berarti "Tuhan telah mendengar."
Ketika Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 90 tahun, Tuhan berfirman lagi kepada Ibrahim, menjanjikan bahwa Sarah pun akan melahirkan seorang anak yang mesti diberi nama Ishaq. Khawatir kalau-kalau Allah mengurangi kasih sayang-Nya kepada Ismail, Ibrahim berdoa: "Semoga Ismail hidup dalam hidayah-Mu, ya Allah!" Dan Allah menjawab: "Aku mendengar doamu tentang Ismail. Aku merakhmatinya dan Aku akan menjadikan dia pemimpin suatu bangsa yang besar. Tetapi, kehendak-Ku tentang Ishaq telah Ku-tetapkan, dan Sarah akan melahirkannya tahun depan."
Sarah melahirkan Ishaq dan dia sendiri yang menyusuinya. Setelah Ishaq disapih, ia memohon kepada Ibrahim agar Hajar dan puteranya segera pergi dari rumah mereka. Karena sangat menyayangi Ismail, Ibrahim menjadi amat sedih. Namun Allah berfirman agar permintaan Sarah dipenuhi, dan agar supaya Ibrahim tidak larut dalam kesedihan, Allah berjanji akan memberkahi Ismail.
Dengan demikian, keturunan Ibrahim bukan hanya satu bangsa tetapi dua bangsa besar. Allah menjanjikan kemakmuran duniawi dan keluhuran spiritual dan Ibrahim menjadi pemimpin dua aliran spiritual besar, yang tidak mengalir bersama melainkan memiliki jalan masing-masing.
Ketika Muhammad berusia sekitar 35 tahun - Quraisy memutuskan untuk membangun kembali Ka'bah. Ketika itu dinding Ka'bah hanya setinggi manusia dan tidak ada atapnya. Artinya, kalaupun pintunya dikunci, mudah sekali dimasuki orang yang berniat jahat.
Kini, kaum Quraisy meninggikan bangunan Ka'bah. Masing -masing kabilah bekerja sesuai pembagian tugasnya yaitu setiap kabilah membangun satu sisi Ka'bah. Ketika sampai pada tahap peletakan kembali Hajar Aswad di pojoknya, perdebatanpun merebak diantara mereka. Masing-masing kabilah ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada tempatnya semula. Ketegangan memuncak dan nyaris terjadi pertumpahan darah sampai salah seorang diantara mereka berkata, "Wahai kaum Quraisy mari kita tunjuk seorang penengah yaitu orang yang pertama kali masuk gerbang masjid pada hari ini.." Dalam bahasa Arab, masjid adalah tempat bersujud, karena ritual sujud kepada Tuhan menghadap Rumah Suci itu telah dilakukan disana sejak zaman Ibrahim dan Ismail.
Ternyata, orang yang pertama kali masuk ke masjid adalah Muhammad. "Dialah al-Amin," kata beberapa orang diantara mereka. Setelah mereka menjelaskan duduk persoalannya, Muhammad berkata, "Berikanlah kepadaku selembar selimut." Setelah mereka memberikannya, beliau membentangkan selimut itu di tanah. Lalu beliau mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di tengah kain itu. "Silahkan masing-masing kabilah memegang ujung selimut itu," katanya. Secara serentak mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Setibanya dilokasi penempatan Hajar Aswad, Muhammad mangambil batu itu, lalu meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan dan pemugaran Ka'bah pun dilanjutkan hingga selesai.
Keputusan menunjuk Muhammad sebagai penengah perselisihan diantara mereka itu membuktikan betapa tingginya kedudukan Muhammad di mata penduduk Mekah dan betapa besar pengharagaan mereka kepadanya.

Saturday, November 10, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 11



RUMAH TANGGA
Selain berperan sebagai isteri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Bersama Muhammad Khadijah melahirkan 6 anak: 2 putera dan 4 puteri:
  1. Putera sulungnya diberi nama Qasim, sehingga Muhammad dikenal sebagai
      Abu al-Qasim, ayah Qasim. Namun Qasim meninggal sebelum berusia dua tahun
  2. Berikutnya seorang puteri dinamai Zaynab, disusul dengan tiga puteri lainnya
  3. Ruqayyah
  4. Umm Kultsum, dan
  5. Fathimah. Yang terakhir seorang putera lagi yang juga tidak berusia panjang
  6. Abdullah
Kematian kedua puteranya itu sangat menyedihkan dan meninggalkan bekas yang mendalam bagi Muhammad dan Khadijah. Betapa dalamnya rasa sedih itu, pada suatu zaman yang membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan lebih dari itu. Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan tersebut, sehingga Zaid bin Haritsah, seorang budak Khadijah, dimerdekakan dan diangkatnya sebagai anak, sehingga orang waktu itu menyebutnya Zaid bin Muhammad.
Ketika Zaid sedang bepergian dengan ibunya untuk menginjungi keluarganya, Zaid diculik oleh segerombolan Bani Qayn dan kemudian dinjualnya sebagai budak. Haritsah ayahnya sudah lama mencarinya dan ketika pada suatu waktu mengetahui bahwa anaknya tersebut tinggal bersama Muhammad, maka dia bertekad untuk menjemput dan menebusnya kembali, walaupun untuk itu harus menghabiskan seluruh harta bendanya.
Ketika rombongan mereka bertemu dengan Muhammad dan menyampaikan maksudnya untuk menebus Zaid terjadilah dialog diantara mereka. "Biarkanlah ia memilih," kata Muhammad kepada Haritsah, "dan jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jia ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku." Kemudian, beliau memanggil Zaid dan berkata, "engkau sangat mengenalku, dan engkau telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, kamu pilihlah antara aku dan mereka." Zaid menetapkan pilihan dan seketika itu ia berkata, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku engkau laksana ayah dan ibu." "keterlaluan engkau Zaid!" seru Haritsah. "Apakah engkau lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah engkau lebih memilih dia daripada ayahmu, pamanmu dan keluargamu?" "Begitulah," kata Zaid, "karena aku telah menyaksikan dari dia sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapapun selainnya."
Muhammad memotong percakapan lebih lanjut. Ia mengajak mereka pergi bersamanya ke Ka'bah. Sambil berdiri di Hijr, dengan lantang ia berkata, "Wahai semua yang hadir! Saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Aku ahli warisnya dan dia ahli warisku."
Akhirnya, rombongan ayah dan paman Zaid kembali dengan tangan hampa. Namun, kisah yang harus mereka ceritakan kepada suku mereka - tentang hubungan cinta yang mendalam dalam adopsi ini - bukan sesuatu yang memalukan. Ketika menyaksikan Zaid bebas, dimuliakan, dan dijanjikan mendapat kedudukan tinggi di tengah penduduk Tanah Suci, mereka berharap kelak Zaid akan memberikan keuntungan bagi kaumnya. Karena itu mereka menerima hal itu dan pergi tanpa rasa kesal.

Saturday, October 20, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 10



PERKAWINAN PUTERI-PUTERI MUHAMMAD
Abu Thalib, sang paman yang meneruskan pengasuhan Muhammad setelah kematian kakeknya Abdul Muthalib. Abu Thalib memiliki anak lebih banyak dari yang sanggup ia nafkahi. Mereka sering kali ditimpa kelaparan. Pamannya yang terkaya adalah Abu Lahab, namun ia jauh dari keluarga. Muhammad memperhatikan hal itu dan merasa harus melakukan sesuatu. Kemudian Muhammad memutusan untuk megasuh anak Abu Thalib yang bernama Ali. Pada saat itu, Khadijah melahirkan anaknya yang terakhir, yang dinamai Abdullah. Namun, bayi itu wafat pada usia yang lebih muda dari Qasim. Bayi itu digantikan Ali yang tumbuh seperti layaknya seorang saudara lelaki bagi keempat sepupu perempuannya, kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Umm Kultsum, lebih muda dari Zaynab dan lebih tua dari Fathimah. Kelima orang ini bersama Zaid, merupakan keluarga Muhammad dan Khadijah.
Paman tertua Muhammad, Harits -yang kini telah wafat- meninggalkan beberapa anak. Salah satunya adalah Abu Sufyan. Ia juga saudara sesusuan, karena ia juga diasuh oleh Halimah beberapa tahun setelah Muhammad. Muhammad menganggap Abu Sufyan, sebagai teman dan sahabat karena usia mereka yang sebaya dan karena ikatan persaudaraan diantara mereka.
Terhadap anak-anaknya yang perempuan Muhammad sangat memberikan perhatian, dengan mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya memenuhi syarat (kufu'). Zaynab yang sulung dikawinkan dengan Abul Ash - Ibundanya masih bersaudara dengan Khadijah - seorang pemuda yang dihargai masyarakat karena kejujuran dan kesuksesannya dalam dunia perdagangan. Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah datangnya Islam - ketika Zaynab akan hijrah dari Mekah ke Madinah - mereka terpisah.
Ruqayyah dan Umm Kultsum dikawinkan dengan Utba dan Utaiba, anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri ini sesudah masuknya Islam, terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab menyuruh kedua anaknya itu menceraikan istri mereka, yang kemudian berturut-turut keduanya menjadi isteri Usman bin Affan. Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali baru terjadi sesudah datangnya Islam.
(Catatan kaki : Usman bin Affan, khalifah ketiga, mengawini Ruqayyah setelah dia diceraikan oleh Utba. Dan setelah Ruqayyah wafat dalam tahun ke-2H selanjutnya Usman mengawini Umm Kultsum)
Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu ternyata tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah, yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah bunda yang bahagia.
Oleh karena itu wajar sekali apabila Muhammad mempunyai pembawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa yang kuat dan mempunyai persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang hakiki, jiwa yang demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang hanyut dalam lembah kesesatan. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada padanya, yang dicarinya hanyalah kebenaran hakiki. Pikiran dan renungan yang berkecamuk di dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan kepada orang lain.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa. Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuth.
Di puncak Gunung Hira terletak sebuah gua yang baik sekali untuk menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadhan tiap tahun Muhammad pergi kesana dan berdiam ditempat itu, hanya dengan bekal secukupnya ia tekun dalam renungan dan ibadah, jauh dari segala kesibukan hidup dan kebisingan masyarakat perkotaan. Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran.