Saturday, November 10, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 11



RUMAH TANGGA
Selain berperan sebagai isteri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Bersama Muhammad Khadijah melahirkan 6 anak: 2 putera dan 4 puteri:
  1. Putera sulungnya diberi nama Qasim, sehingga Muhammad dikenal sebagai
      Abu al-Qasim, ayah Qasim. Namun Qasim meninggal sebelum berusia dua tahun
  2. Berikutnya seorang puteri dinamai Zaynab, disusul dengan tiga puteri lainnya
  3. Ruqayyah
  4. Umm Kultsum, dan
  5. Fathimah. Yang terakhir seorang putera lagi yang juga tidak berusia panjang
  6. Abdullah
Kematian kedua puteranya itu sangat menyedihkan dan meninggalkan bekas yang mendalam bagi Muhammad dan Khadijah. Betapa dalamnya rasa sedih itu, pada suatu zaman yang membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga keturunan laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan lebih dari itu. Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan tersebut, sehingga Zaid bin Haritsah, seorang budak Khadijah, dimerdekakan dan diangkatnya sebagai anak, sehingga orang waktu itu menyebutnya Zaid bin Muhammad.
Ketika Zaid sedang bepergian dengan ibunya untuk menginjungi keluarganya, Zaid diculik oleh segerombolan Bani Qayn dan kemudian dinjualnya sebagai budak. Haritsah ayahnya sudah lama mencarinya dan ketika pada suatu waktu mengetahui bahwa anaknya tersebut tinggal bersama Muhammad, maka dia bertekad untuk menjemput dan menebusnya kembali, walaupun untuk itu harus menghabiskan seluruh harta bendanya.
Ketika rombongan mereka bertemu dengan Muhammad dan menyampaikan maksudnya untuk menebus Zaid terjadilah dialog diantara mereka. "Biarkanlah ia memilih," kata Muhammad kepada Haritsah, "dan jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jia ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku." Kemudian, beliau memanggil Zaid dan berkata, "engkau sangat mengenalku, dan engkau telah menyaksikan perlakuanku kepadamu. Maka, kamu pilihlah antara aku dan mereka." Zaid menetapkan pilihan dan seketika itu ia berkata, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku engkau laksana ayah dan ibu." "keterlaluan engkau Zaid!" seru Haritsah. "Apakah engkau lebih memilih perbudakan daripada kebebasan? Apakah engkau lebih memilih dia daripada ayahmu, pamanmu dan keluargamu?" "Begitulah," kata Zaid, "karena aku telah menyaksikan dari dia sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapapun selainnya."
Muhammad memotong percakapan lebih lanjut. Ia mengajak mereka pergi bersamanya ke Ka'bah. Sambil berdiri di Hijr, dengan lantang ia berkata, "Wahai semua yang hadir! Saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Aku ahli warisnya dan dia ahli warisku."
Akhirnya, rombongan ayah dan paman Zaid kembali dengan tangan hampa. Namun, kisah yang harus mereka ceritakan kepada suku mereka - tentang hubungan cinta yang mendalam dalam adopsi ini - bukan sesuatu yang memalukan. Ketika menyaksikan Zaid bebas, dimuliakan, dan dijanjikan mendapat kedudukan tinggi di tengah penduduk Tanah Suci, mereka berharap kelak Zaid akan memberikan keuntungan bagi kaumnya. Karena itu mereka menerima hal itu dan pergi tanpa rasa kesal.

Saturday, October 20, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 10



PERKAWINAN PUTERI-PUTERI MUHAMMAD
Abu Thalib, sang paman yang meneruskan pengasuhan Muhammad setelah kematian kakeknya Abdul Muthalib. Abu Thalib memiliki anak lebih banyak dari yang sanggup ia nafkahi. Mereka sering kali ditimpa kelaparan. Pamannya yang terkaya adalah Abu Lahab, namun ia jauh dari keluarga. Muhammad memperhatikan hal itu dan merasa harus melakukan sesuatu. Kemudian Muhammad memutusan untuk megasuh anak Abu Thalib yang bernama Ali. Pada saat itu, Khadijah melahirkan anaknya yang terakhir, yang dinamai Abdullah. Namun, bayi itu wafat pada usia yang lebih muda dari Qasim. Bayi itu digantikan Ali yang tumbuh seperti layaknya seorang saudara lelaki bagi keempat sepupu perempuannya, kira-kira sebaya dengan Ruqayyah dan Umm Kultsum, lebih muda dari Zaynab dan lebih tua dari Fathimah. Kelima orang ini bersama Zaid, merupakan keluarga Muhammad dan Khadijah.
Paman tertua Muhammad, Harits -yang kini telah wafat- meninggalkan beberapa anak. Salah satunya adalah Abu Sufyan. Ia juga saudara sesusuan, karena ia juga diasuh oleh Halimah beberapa tahun setelah Muhammad. Muhammad menganggap Abu Sufyan, sebagai teman dan sahabat karena usia mereka yang sebaya dan karena ikatan persaudaraan diantara mereka.
Terhadap anak-anaknya yang perempuan Muhammad sangat memberikan perhatian, dengan mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya memenuhi syarat (kufu'). Zaynab yang sulung dikawinkan dengan Abul Ash - Ibundanya masih bersaudara dengan Khadijah - seorang pemuda yang dihargai masyarakat karena kejujuran dan kesuksesannya dalam dunia perdagangan. Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah datangnya Islam - ketika Zaynab akan hijrah dari Mekah ke Madinah - mereka terpisah.
Ruqayyah dan Umm Kultsum dikawinkan dengan Utba dan Utaiba, anak-anak Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri ini sesudah masuknya Islam, terpisah dari suami mereka, karena Abu Lahab menyuruh kedua anaknya itu menceraikan istri mereka, yang kemudian berturut-turut keduanya menjadi isteri Usman bin Affan. Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali baru terjadi sesudah datangnya Islam.
(Catatan kaki : Usman bin Affan, khalifah ketiga, mengawini Ruqayyah setelah dia diceraikan oleh Utba. Dan setelah Ruqayyah wafat dalam tahun ke-2H selanjutnya Usman mengawini Umm Kultsum)
Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu ternyata tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah, yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah bunda yang bahagia.
Oleh karena itu wajar sekali apabila Muhammad mempunyai pembawaan berpikir dan bermenung, dengan mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala. Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa yang kuat dan mempunyai persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang hakiki, jiwa yang demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang hanyut dalam lembah kesesatan. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada padanya, yang dicarinya hanyalah kebenaran hakiki. Pikiran dan renungan yang berkecamuk di dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan kepada orang lain.
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa. Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuth.
Di puncak Gunung Hira terletak sebuah gua yang baik sekali untuk menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadhan tiap tahun Muhammad pergi kesana dan berdiam ditempat itu, hanya dengan bekal secukupnya ia tekun dalam renungan dan ibadah, jauh dari segala kesibukan hidup dan kebisingan masyarakat perkotaan. Demikian kuatnya ia merenung mencari hakikat kebenaran itu, sehingga lupa akan dirinya, lupa makan, lupa segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran.

Saturday, October 13, 2012

Sejarah Hidup Nabi Muhamad s.a.w. 9



Pernikahan
Cara-cara orang mengejar harta dengan serakah karena hendak memenuhi hawa nafsunya sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya. Kenikmatan jiwa yang paling besar ialah merasakan adanya keindahan alam ini dan mengajak orang merenungkannya. Suatu kenikmatan besar yang hanya sedikit saja dikenal orang. Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yaitu mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai sejak kematian ibunya, kemudian kematian kekeknya. Kenikmatan demikian tidak memerlukan harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat, sehingga seseorang dapat mengetahui bagaimana memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin. Muhammad hanya makan bila merasa lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang, dan ia minta supaya orang bisa bergembira menghadapi penderitaan hidup.
Muhammad kini telah melewati usianya yang kedua puluh.Seiring dengan berlalunya waktu, ia sering diajak kerabatnya melakukan perjalanan dagang ke luar kota. Akhirnya tiba saat Muhammad diminta membawa dagangan orang lain. Kesuksesanya dalam menunaikan tugas ini membuahkan banyak penawaran serupa lainnya, sehingga ia memperoleh penghasilan yang lebih baik, dan pernikahan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan.
Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati di seantero Mekah. Sejak kematian suami keduanya dia mengangkat orang untuk mendagangkan hartanya. Kini Muhammad telah dikenal di penjuru Mekah sebagai al-Amin, orang terpercaya, yang dapat diandalkan, jujur. Pada suatu hari Khadijah meminta Muhammad untuk membawakan barang dagangannya ke Syria dengan bayaran dua kali lebih besar dari bayaran tertinggi yang pernah diberikan kepada orang Quraisy. Seorang pembantu Khadijah yang ikut menemani Muhammad berdagang ke Syria menceritakan pengalaman perjalanannya dengan Muhammad. Ia seringkali mengalami bagaimana panas terik, namun anehnya tak terasa menyengat. Satu hari saat menjelang siang, tampak suatu pemandangan yang singkat namun jelas, ada dua malaikat melindungi Muhammad dari sengatan panas matahari.
Kahadijah duduk mendengarkan Muhammad, ketika ia menceritakan perjalanan dan transaksi yang dilakukan. Ternyata transaksi itu sangat menguntungkan. Namun, hal itu jauh dari benak Khadijah. Seluruh perhatiannya terpusat pada si pembicara itu sendiri. Muhammad berusia 25 tahun. Ia memiliki postur tubuh sedang, ramping, dengan bentuk kepala yang besar, punggung yang lebar dan anggota tubuh lainnya sangat proporsional. Rambut dan janggutnya hitam lebat, tidak lurus dan tidak terlampau ikal. Rambutnya mencapai pertengahan antara daun telinga dan punggungnya. Panjang janggutnya sesuai. Ia memiliki dahi yang lebar. Matanya berbentuk oval lebar. Bulu matanya panjang. Alis matanya lebat tampak melengkung namun tidak bertaut. Hidungnya mancung, mulutnya lebar dan indah bentuknya. Ketampanannya senantiasa tampak. Ia tidak pernah membiarkan kumisnya tumbuh lebat diatas bibirnya. Kulitnya putih agak kecoklatan karena sinar matahari. Yang menambah ketampanannya adalah cahaya yang memancar di wajahnya, pancaran ini terutama tampak pada dahinya yang lebar dan pada matanya yang jernih.
Khadijah sadar bahwa ia sendiri pun masih cantik, namun ia lebih tua lima belas tahun. Maukah Muhammad menkah dengannya?
Begitu Muhammad pergi, Khadijah berkonsultasi dengan temannya, Nufaysah. Nufaysah menawarkan diri untuk mendekati Muhammad, dan jika perlu mengatur pernikahan mereka berdua. Kemudian Nufaysah menceritakan tentang ketertarikan Khadijah dan menanyakan kesediaan Muhammad menikah dengan Khadijah. Setelah pihak Muhammad menyatakan kesediannya maka  ia segera menyampaikan berita gembira tersebut kepada Khadijah.
Khadijah menyuruh Nufaysah memangil Muhammad agar datang kepadanya. Setelah ia datang, Khadijah berkata, "Aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di tengah masyarakat, tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluhuran budi dan kejujuran perkataanmu. " Kemudian Khadijah menawarkan dirinya untuk dinikahi. Merekapun sepakat agar masing-masing berbicara kepada keluarganya. Dari pihak Muhammad diutuslah Hamzah sebagai wakil keluarga untuk melamar Khadijah. Kesepakan dicapai di antara mereka bahwa Muhammad harus memberinya mahar dua puluh ekor unta betina.